BOGOR, Majalah CEO. Berawal dari usaha jual beli sapi kurban saat masih menjadi mahasiswa Fakultas Peternakan IPB pada 2000, Ilman, pemilik PT Bima Jaya, berhasil mengembangkan bisnis peternakan hingga merambah industri pupuk dan pengadaan kebutuhan pangan. Perjalanan tersebut menjadi contoh bagaimana UMKM dapat naik kelas melalui konsistensi, perluasan jaringan usaha, dan pengelolaan bisnis yang profesional.
Kisah itu terungkap dalam kunjungan Raden Tedi, Wakil Ketua Umum Bidang Kewirausahaan UMKM Kadin Indonesia, ke fasilitas peternakan PT Bima Jaya di Kota Bogor. Kunjungan tersebut sekaligus menyoroti peran pelaku usaha dalam mendukung program pemerintah di bidang ketahanan pangan.
Ilman mengawali bisnisnya dengan menjual sapi kurban. Sekitar dua tahun kemudian, ketika masih menempuh pendidikan di IPB, ia mulai membangun usaha penggemukan sapi dan domba di kawasan Ciampea, Bogor. Usaha tersebut terus berkembang hingga memanfaatkan lahan milik Pemerintah Kota Bogor di kawasan Bubulak dengan membangun fasilitas kandang secara mandiri.
Kapasitas Ribuan Ternak, Pasar Menjangkau Indonesia
PT Bima Jaya kini memiliki kapasitas kandang sapi sekitar 300 ekor. Pada periode menjelang Idul Adha, jumlah sapi yang dipasarkan dapat mencapai 1.500–2.000 ekor. Sementara itu, kapasitas penampungan domba diperkirakan mencapai 500–800 ekor.
Pemasaran perusahaan tidak hanya mencakup sapi potong dan domba, tetapi juga bibit sapi serta kambing. Jangkauan distribusinya telah meluas ke berbagai wilayah Indonesia, termasuk Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua.
Salah satu strategi pengembangan usaha Ilman adalah menjalin kemitraan dengan peternak kecil di daerah. Peternak yang memiliki dua hingga sepuluh ekor sapi dilibatkan dalam rantai pasok untuk memenuhi kebutuhan pasar Jabodetabek dan wilayah lainnya.
Menurut Ilman, pola kemitraan tersebut membuka peluang bagi peternak rakyat untuk mendapatkan akses pasar yang lebih luas. Ia menyebut telah bekerja sama dengan lebih dari 100 kelompok peternak, dengan jaringan yang melibatkan sekitar 1.000 pelaku UMKM.
Kolaborasi juga dilakukan dalam penyediaan ternak untuk program bantuan kemanusiaan. Dalam wawancara tersebut, Ilman menyampaikan bahwa hingga September 2026, pihaknya memasok kebutuhan daging untuk penyaluran bantuan melalui Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), termasuk ke wilayah Sumatera Barat, Aceh, dan Sumatera Utara.
Merambah Industri Pupuk dan Peternakan Ayam
Ekspansi bisnis PT Bima Jaya tidak berhenti pada peternakan. Dalam sekitar tiga tahun terakhir, perusahaan juga mengembangkan usaha produksi pupuk dolomit melalui dua fasilitas pabrik di Gresik, Jawa Timur.
Pupuk dolomit digunakan untuk membantu memperbaiki kondisi tanah sebelum penanaman sehingga mendukung ketersediaan unsur hara bagi tanaman. Menurut Ilman, produknya telah dipasarkan ke sejumlah wilayah, termasuk Jawa, Madura, Sumatera, Nusa Tenggara Barat, dan Kalimantan.
Perusahaan juga mulai membangun sejumlah kandang ayam petelur untuk merespons kebutuhan telur yang dinilai berpotensi meningkat, termasuk berkaitan dengan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Selain itu, Ilman menyebut pihaknya terlibat dalam pengadaan bawang putih dan pakan ternak. Salah satu pengiriman yang disampaikan dalam wawancara tersebut adalah pakan sapi dan kambing sebanyak 11.000 ton ke Aceh melalui tiga kapal laut.
Dalam menjalankan berbagai lini usaha tersebut, perusahaan kini mempekerjakan sekitar 100 karyawan, termasuk tenaga profesional dari kalangan alumni IPB.
Pembukuan Rapi Jadi Kunci Akses Permodalan
Di balik perkembangan bisnisnya, Ilman menilai pembenahan administrasi dan pencatatan keuangan menjadi salah satu faktor penting yang membantu perusahaan memperoleh akses pembiayaan.
Ia mengungkapkan, sebelum mendapatkan pendampingan usaha, pencatatan transaksi dan dokumen penjualan belum tertata optimal. Setelah pembukuan dan administrasi diperbaiki, perusahaan lebih mudah menunjukkan kondisi usaha kepada pihak perbankan maupun calon mitra pembiayaan.
Pendampingan dari konsultan dan perluasan relasi bisnis juga membantu perusahaan membuka peluang pasar baru, baik melalui instansi pemerintah, organisasi, maupun jaringan masyarakat.
Meski demikian, perjalanan usaha tidak selalu berjalan mulus. Ilman mengaku pernah menghadapi risiko penipuan, termasuk pembeli yang membawa ternak tanpa menyelesaikan pembayaran.
Untuk mengurangi risiko tersebut, perusahaan kini menerapkan seleksi pembeli yang lebih ketat dan meminta uang muka sekitar 50 persen. Pelunasan dilakukan sebelum ternak keluar dari kandang, dengan pengaturan tersendiri untuk kebutuhan jaminan selama pengiriman.
Empat Kunci UMKM Naik Kelas
Berbekal pengalaman lebih dari dua dekade, Ilman membagikan empat prinsip yang dinilainya penting bagi pelaku UMKM yang ingin mengembangkan bisnis.
Pertama, pengusaha harus memiliki mental kuat dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kerugian maupun ketidakpastian pasar. Kedua, membangun jaringan dan kemitraan yang luas untuk membuka akses terhadap pelanggan, pemasok, dan peluang pembiayaan.
Ketiga, pelaku usaha perlu mengikuti perkembangan pasar, mulai dari permintaan konsumen hingga harga dan kemasan produk. Keempat, menjaga kedekatan spiritual dan berdoa sebagai bagian dari ikhtiar dalam menjalankan usaha.
Kisah PT Bima Jaya menunjukkan bahwa pengembangan UMKM membutuhkan lebih dari sekadar modal. Pengelolaan keuangan yang tertib, kemitraan yang saling menguntungkan, kemampuan membaca peluang pasar, serta pengelolaan risiko menjadi bekal penting untuk memperluas skala usaha.
Di sektor peternakan dan pertanian, model usaha yang melibatkan peternak kecil juga berpotensi memperkuat rantai pasok pangan sekaligus membuka kesempatan ekonomi bagi masyarakat di daerah. (andif)
Sumber: Wawancara Raden Tedi, Wakil Ketua Umum Bidang Kewirausahaan UMKM Kadin Indonesia, dengan Ilman, pemilik PT Bima Jaya.












