JAKARTA — MAJALAH CEO, (5/10). Minat sektor korporasi domestik untuk melakukan ekspansi bisnis melalui instrumen hilir pasar modal terus menunjukkan tren penguatan yang solid.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat puluhan perusahaan kini tengah masuk dalam antrean (pipeline) untuk melakukan Penawaran Umum dengan total proyeksi penghimpunan dana mencapai Rp26,47 triliun.
Masuknya puluhan emiten baru tersebut menjadi katalis positif untuk mengejar target agregat penggalangan dana nasional yang dipatok sebesar Rp250 triliun hingga akhir tahun berjalan. Optimisme ini didorong oleh realisasi akumulasi penggalangan dana yang sukses menembus angka Rp186,03 triliun per akhir September.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menjelaskan bahwa aktivitas fundraising yang kokoh ini mencerminkan tingginya kepercayaan pelaku usaha terhadap stabilitas ekonomi domestik, meskipun pasar keuangan global saat ini masih dibayangi volatilitas tinggi dan ketidakpastian suku bunga dunia .
“Ketahanan pasar modal kita tetap terjaga dengan baik. Saat ini terdapat 29 perusahaan yang berada dalam pipeline penawaran umum dan siap meluncur ke pasar untuk mendukung kebutuhan pembiayaan jangka panjang mereka,” ujar Hasan Fawzi dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK di Jakarta, Senin (5/10).
Berdasarkan analisis draf instrumen keuangan yang masuk, opsi penggalangan dana kuartal IV ini terbagi ke dalam tiga skema korporasi utama:
* Penawaran Umum Perdana (Initial Public Offering/IPO): Aksi korporasi sejumlah perusahaan tertutup yang bersiap melepas saham perdana ke publik guna memperkuat struktur permodalan.
* Penerbitan Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS): Penerbitan obligasi korporasi untuk mengunci biaya pendanaan (cost of fund) di tengah momentum pelandaian suku bunga.
* Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (Rights Issue): Penambahan modal oleh emiten yang sudah tercatat di bursa guna mendanai rencana akuisisi strategis.
Sisi menarik lainnya terlihat dari basis pendukung likuiditas pasar yang kian menebal. OJK melaporkan struktur pasar modal Indonesia saat ini jauh lebih resilien berkat lonjakan partisipasi domestik, di mana total investor ritel telah menembus 32,17 juta investor.
Perluasan basis investor domestik ini dinilai efektif menjadi bantalan peredam guncangan (buffer) dari risiko pelarian modal asing (capital outflow), sehingga volatilitas pergerakan indeks harga saham gabungan tetap terkendali secara berkelanjutan.(arfi)












