JAKARTA MAJALAHCEO.co.id, (02/10). Sektor industri pengolahan dalam negeri menunjukkan taji di tengah ketidakpastian pasar global. Berdasarkan data ekonomi terbaru kuartal III yang dirilis pemerintah, Kamis (1/10), Indeks Manajer Pembelian atau Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada September meroket ke level 52,4.
Rebound dari posisi Agustus yang sempat berada di zona kontraksi (49,8) ini menandakan bahwa aktivitas pabrikan tanah air kembali masuk ke zona ekspansi yang agresif. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat performa ini sebagai pertumbuhan kondisi bisnis terkuat yang dialami Indonesia sejak Februari lalu.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa lompatan performa industri ini dipicu oleh banjirnya pesanan baru di pasar domestik serta pertumbuhan ekspor yang melaju pada level tercepat sejak Mei 2022.
Pulihnya aktivitas produksi ini otomatis mendorong korporasi untuk memperluas penyerapan tenaga kerja baru serta meningkatkan persediaan bahan baku.
“Terjaganya inflasi, kembali ekspansifnya sektor manufaktur, dan tetap tumbuhnya ekspor menunjukkan bahwa fondasi perekonomian Indonesia tetap kuat di tengah dinamika global,” ujar Airlangga Hartarto dalam keterangan resminya di Jakarta.
Ekspansi sektor riil ini berjalan beriringan dengan rapor hijau pada dua indikator utama ekonomi makro berikut:
Kendali Inflasi Nasional: Laju inflasi September terkendali di angka 3,28 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), aman di dalam target jangkar pemerintah (2,5% ± 1%). Meski begitu, pemerintah memperketat pengawasan pada kelompok harga pangan bergejolak (volatile food) yang bertengger di angka 5,03 persen akibat dampak El Nino dan cuaca ekstrem.
Lonjakan Surplus Perdagangan: Neraca perdagangan mencatatkan lompatan surplus bulanan yang signifikan menjadi US$3,55 miliar per Agustus, ditopang oleh ekspor nonmigas komoditas besi baja (US$19,18 miliar) dan CPO (US$17,75 miliar).
Sisi menarik lainnya terlihat dari keberhasilan program hilirisasi dan ketahanan energi.
Defisit sektor migas berhasil diredam secara konsisten dari US$2,98 miliar menjadi US$2,54 miliar, yang diklaim pemerintah sebagai dampak positif dari perluasan implementasi mandatori biodiesel B50 yang telah berjalan sejak 1 Juli lalu.
Guna mempertahankan momentum ekspansi manufaktur dan menjaga daya beli masyarakat memasuki kuartal IV, pemerintah telah menyiapkan bauran insentif fiskal strategis.
Kebijakan tersebut mencakup penerapan bea masuk 0 persen untuk impor bahan baku industri seperti komponen mekanis, elektrik, LPG industri, serta suku cadang pesawat guna menekan risiko inflasi dari luar negeri (imported inflation).(arfi)












