MEDAN, MAJALAHCEO.co.id — Sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi terbesar di Sumatra, Kota Medan menghadapi tantangan klasik perkotaan: ledakan mobilitas yang berjalan seiring dengan meningkatnya kemacetan.
Ketergantungan pada kendaraan pribadi kini menjadi pekerjaan rumah besar yang harus segera dijawab melalui transformasi transportasi publik yang modern, terintegrasi, dan rendah emisi.
Setiap hari, denyut Kota Medan ditopang jutaan pergerakan warga lokal maupun komuter dari wilayah penyangga. Namun, mobilitas tinggi itu masih didominasi kendaraan pribadi.
Dalam jangka panjang, kondisi ini bukan hanya memperparah kemacetan tapi juga meningkatkan konsumsi bahan bakar fosil, polusi udara, dan emisi karbon perkotaan.
Berdasarkan data Dinas Perhubungan Kota Medan 2026, mobilitas internal di kota ini mencapai sekitar 4,5 juta perjalanan per hari. Sementara itu, pergerakan komuter dari wilayah penyangga menembus lebih dari 600 ribu perjalanan per hari. Angka tersebut diperkirakan akan terus meningkat seiring pertumbuhan kota dan kawasan aglomerasi Mebidangro.
Dari total pergerakan itu, mayoritas masih dikuasai kendaraan pribadi sebesar 95,12 persen, dengan sepeda motor mendominasi 80,88 persen. Sebaliknya, pangsa angkutan umum secara keseluruhan baru berada di kisaran 4,8 persen, sedangkan pengguna angkutan umum massal hanya 1,3 persen.
Data ini memperlihatkan bahwa tantangan utama Medan bukan sekadar menyediakan transportasi publik tapi mengubah perilaku mobilitas masyarakat.
Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika, Soegijapranata, sekaligus Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menilai, transformasi transportasi publik di Medan harus dipandang sebagai investasi strategis jangka panjang bagi masa depan kota.
“Kota-kota besar seperti Medan tidak bisa terus bergantung pada kendaraan pribadi. Kalau pangsa angkutan umum tidak segera diperbesar, kemacetan akan semakin mahal secara ekonomi, sosial, dan lingkungan. Transportasi publik harus menjadi tulang punggung mobilitas perkotaan,” ujar Djoko Setijowarno.
Pemerintah Kota Medan telah menyatakan komitmennya untuk membangun sistem transportasi berkelanjutan melalui pengembangan angkutan umum massal yang aman, nyaman, terjangkau, dan ramah lingkungan. Salah satu langkah konkret yang ditempuh ialah pengoperasian bus listrik sebagai pelopor transportasi publik berbasis energi bersih, pengembangan sistem Bus Rapid Transit (BRT) yang terintegrasi, dan peningkatan konektivitas antarmoda.
Upaya tersebut diperkuat melalui digitalisasi layanan, pembayaran elektronik, peningkatan fasilitas halte, dan kampanye persuasif untuk mendorong masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum massal.
Langkah strategis ini sejalan dengan visi Kota Medan sebagai kota metropolitan yang modern, humanis, dan berwawasan lingkungan.
Pengembangan bus listrik menjadi salah satu solusi penting dalam pembenahan transportasi perkotaan. Moda ini dipilih karena memiliki sejumlah keunggulan ekologis dan teknis.
Selain tidak menghasilkan emisi gas buang langsung (zero tailpipe emission), bus listrik mampu menekan polusi udara dan kebisingan, sekaligus lebih efisien dalam penggunaan energi dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil.
Menurut Djoko, pemanfaatan bus listrik merupakan langkah yang tepat tapi efektivitasnya akan sangat ditentukan oleh integrasi layanan dan kepastian jaringan transportasi yang menjangkau kebutuhan warga.
“Bus listrik adalah langkah maju tapi jangan berhenti pada pergantian armada. Yang lebih penting adalah memastikan layanannya terintegrasi, frekuensinya memadai, rutenya menjangkau pusat aktivitas warga, dan tarifnya tetap terjangkau. Di situlah kunci keberhasilan transportasi publik,” katanya.
Respons masyarakat terhadap layanan ini menunjukkan sinyal positif. Bus listrik dinilai lebih bersih, nyaman, aman, tepat waktu, dan ramah bagi pelajar, lansia, maupun penyandang disabilitas. Antusiasme publik itu tercermin dari data keterangkutan (ridership) Trans Metro Deli yang terus meningkat.
Sepanjang Januari–Desember 2025, Trans Metro Deli mengangkut 2.755.637 penumpang, dengan rata-rata 7.550 penumpang per hari dan 229.636 penumpang per bulan. Pada periode tersebut, operasional layanan ditopang 227 titik perhentian berupa halte dan bus stop.
Trend positif itu berlanjut pada 2026. Dalam periode 1 Januari hingga 22 Juni 2026, jumlah penumpang tercatat mencapai 1.448.595 orang. Rata-rata harian naik menjadi 8.373 penumpang, sedangkan rata-rata bulanan mencapai 254.139 penumpang. Pada saat sama, jangkauan layanan juga diperluas menjadi 232 titik perhentian.
Kenaikan jumlah pengguna ini menunjukkan bahwa ketika layanan publik dibuat lebih nyaman dan modern, masyarakat mulai membuka diri untuk beralih. Namun, pekerjaan besar sesungguhnya masih berada di depan mata: menjadikan angkutan umum sebagai pilihan utama, bukan alternatif terakhir.
Dalam lima tahun ke depan, Pemerintah Kota Medan menargetkan peningkatan jumlah pengguna transportasi publik secara signifikan, pengembangan sistem BRT penuh yang terintegrasi di wilayah aglomerasi Mebidangro, penambahan koridor layanan, dan penguatan kawasan berbasis Transit Oriented Development (TOD).
Arah ini penting, sebab efektivitas transportasi publik tidak hanya ditentukan jumlah armada, melainkan oleh kualitas integrasinya. Armada bus listrik harus terhubung dengan jaringan pejalan kaki yang aman menuju halte, kawasan permukiman, pusat pendidikan, kawasan perdagangan, dan simpul ekonomi kota. Apalagi, Kota Medan memiliki 81 kawasan perumahan yang membutuhkan akses mobilitas publik yang efisien.
Pemanfaatan teknologi digital untuk mempermudah perencanaan perjalanan, sistem pembayaran, dan informasi waktu kedatangan juga menjadi bagian penting dalam mendorong modal shift, yakni peralihan masyarakat dari kendaraan pribadi ke transportasi umum. Semakin tinggi tingkat keterangkutan publik, semakin besar pula peluang menekan konsumsi BBM dan emisi karbon perkotaan.
Djoko menegaskan, kota yang ingin membangun sistem transportasi berkelanjutan harus menempatkan integrasi sebagai prioritas utama, bukan sekadar proyek fisik.
“Transportasi publik yang baik bukan hanya soal bus atau halte, melainkan ekosistem mobilitas. Harus ada koneksi dengan pejalan kaki, kawasan permukiman, pusat kegiatan ekonomi, dan sistem digital yang memudahkan warga. Kalau integrasi berjalan, maka masyarakat akan lebih mudah meninggalkan kendaraan pribadinya,” ujar Djoko.
Dinas Perhubungan Kota Medan terus melakukan pembenahan untuk mendongkrak kualitas pelayanan transportasi publik, mulai dari pengawasan operasional armada, peningkatan standar keselamatan, penyediaan halte yang lebih representatif, hingga pengembangan layanan berbasis teknologi dan energi bersih.
Transformasi ini patut diapresiasi tapi harus terus dijaga konsistensinya. Sebab, membangun transportasi publik bukan sekadar menghadirkan armada baru, melainkan mengubah wajah mobilitas kota secara menyeluruh. Keberhasilan sesungguhnya akan terlihat ketika warga Medan merasa bahwa naik transportasi umum lebih praktis, nyaman, dan efisien dibandingkan membawa kendaraan pribadi.
Karena itu, ajakan pemerintah kepada masyarakat untuk memanfaatkan layanan bus listrik perlu dibarengi dengan peningkatan kualitas layanan secara berkelanjutan. Setiap warga yang beralih ke transportasi publik sesungguhnya tidak hanya membantu mengurai kemacetan tapi juga ikut menjaga kualitas udara, mengurangi emisi, dan menciptakan kota yang lebih sehat.
Transformasi transportasi publik Kota Medan adalah langkah penting menuju masa depan mobilitas perkotaan yang lebih modern, rendah emisi, dan berkelanjutan. Dengan sinergi antara komitmen pemerintah, kesiapan infrastruktur, inovasi teknologi, dan partisipasi aktif masyarakat, Medan berpeluang menjadi contoh kota metropolitan di Sumatra yang berhasil membangun sistem transportasi publik yang humanis dan berdaya saing.
Menatap ke depan, Medan tidak hanya sedang mengurai kemacetan tapi juga sedang membentuk fondasi kota masa depan—kota yang maju secara teknologi, kuat secara ekonomi, nyaman bagi warganya, dan lestari bagi generasi mendatang, seperti dikutip dari rri.co.id, Jumat (10/7/2026) malam.
(KTS/rel)












