Wacana Koalisi Permanen Golkar Bukan Visi Bangsa, Tapi Cermin Kepanikan

Wakil Ketua Umum Pimpinan Nasional Partai Kebangkitan Nusantara (PKN), Denny Charter. (Istimewa)

MAJALAHCEO.CO.ID (Jakarta) – Wakil Ketua Umum Pimpinan Nasional Partai Kebangkitan Nusantara (PKN), Denny Charter, melontarkan kritik keras terhadap wacana “Koalisi Permanen” yang digulirkan Partai Golkar di bawah kepemimpinan Bahlil Lahadalia.

Menurut Denny, gagasan tersebut bukanlah visi kenegaraan yang futuristik, melainkan refleksi kecemasan politik Golkar yang dinilai tidak mampu hidup di luar lingkaran kekuasaan.

“Ini bukan tentang stabilitas bangsa, melainkan bentuk defense mechanism dari partai yang tidak memiliki DNA untuk menjadi oposisi. Saya menyebutnya sebagai fobia berada di luar Istana,” ujar Denny dalam keterangan tertulis, Senin (12/1/2026).

Denny menganalisis wacana tersebut menggunakan pendekatan psikologi perilaku loss aversion sebagaimana dikembangkan Daniel Kahneman. Menurutnya, Golkar sebagai partai yang lahir di era Orde Baru memiliki kultur politik yang bergantung pada kekuasaan, akses anggaran, dan jabatan.

“Bagi Golkar, dan mungkin secara spesifik bagi Bahlil, menjadi oposisi adalah kematian politik. Koalisi permanen hanyalah upaya membekukan status quo agar mereka tidak perlu menghadapi ketidakpastian kompetisi di masa depan,” tegasnya.

Dari sudut pandang ilmu politik, Denny menyebut istilah “koalisi permanen” sebagai sebuah oxymoron. Ia mengingatkan bahwa dalam praktik politik, tidak ada sekutu abadi, melainkan kepentingan yang selalu berubah, sebagaimana dikemukakan dalam realisme politik klasik.

Ia juga mengulas pengalaman Koalisi Merah Putih (KMP) pasca-Pilpres 2014. Saat itu, retorika koalisi permanen digunakan untuk menguasai parlemen dan mengimbangi pemerintahan Jokowi–Jusuf Kalla. Namun, sejarah mencatat Golkar justru berbalik arah dan bergabung dengan pemerintah ketika menyadari posisi oposisi berdampak pada kekuatan logistik dan politik.

“Begitu menyadari berada di luar pemerintahan itu dingin dan kering, Golkar menjadi penumpang pertama yang melompat ke sekoci pemenang. Loyalitas mereka cair, bukan padat,” sindir Denny.

Menutup pernyataannya, Denny mengingatkan partai-partai yang saat ini berada dalam koalisi bersama Golkar agar tidak terlena dengan janji kesetiaan permanen. Menurutnya, makna ‘permanen’ bagi Golkar bukanlah pada mitra politik, melainkan pada keharusan untuk selalu berada di pusat kekuasaan.

“Jika suatu saat koalisi ini kalah, jangan berharap Golkar tenggelam bersama kapal. Mereka akan tetap menjadi penyintas politik paling oportunis,” pungkasnya. (CEO/son)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *