Oleh: Syahril Syam *)
Penelitian Diebig dan rekan-rekannya (2016) yang diterbitkan dalam Journal of Organizational Behavior memberikan bukti menarik tentang bagaimana gaya kepemimpinan bisa memengaruhi kesehatan bawahan, bukan hanya pikiran mereka, tetapi juga tubuh mereka.
Dalam studi ini, para peneliti mengukur kadar kortisol pada rambut karyawan. Kortisol adalah hormon stres, dan ketika diukur lewat rambut, hasilnya mencerminkan tingkat stres kronis seseorang, bukan sekadar reaksi stres singkat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bawahan yang dipimpin oleh pemimpin dengan gaya transformational leadership, yaitu pemimpin yang mampu memberi makna pada pekerjaan, memberikan dukungan emosional, dan menciptakan rasa aman – memiliki kadar kortisol lebih rendah dibandingkan mereka yang dipimpin oleh pemimpin non-transformasional.
Temuan ini menegaskan bahwa kepemimpinan transformasional tidak hanya berdampak pada aspek psikologis, seperti motivasi atau kepuasan kerja, tetapi juga benar-benar menyehatkan tubuh bawahan secara biologis.
Ada juga penelitian Sherman dan koleganya (2012), yang dimuat dalam Proceedings of the National Academy of Sciences of the USA (PNAS), meneliti hubungan antara kepemimpinan dan stres dengan pendekatan eksperimental serta fisiologis.
Mereka membandingkan kelompok yang berperan sebagai pemimpin dengan kelompok non-pemimpin, lalu mengukur kadar kortisol (hormon stres) dan juga menanyakan tingkat stres yang dirasakan sendiri oleh para partisipan. Hasilnya menunjukkan bahwa secara umum, pemimpin cenderung memiliki tingkat stres yang lebih rendah dibanding non-pemimpin. Hal ini terutama disebabkan oleh adanya rasa kontrol atas situasi dan tujuan yang jelas yang dimiliki seorang pemimpin. Jadi, pemimpin yang hanya berperan sebagai “otoriter semu”, yakni yang sekadar memegang simbol kekuasaan tanpa arah atau visi yang jelas – ternyata lebih rentan terhadap stres. Bukan hanya itu, stres dari pemimpin tipe ini dapat menular ke bawahan, sehingga menciptakan lingkungan kerja yang lebih tegang dan tidak sehat.
Kedua penelitian di atas sama-sama menegaskan bahwa tipe pemimpin yang mampu menjaga kesehatan mental dirinya sekaligus menyehatkan bawahannya adalah pemimpin transformasional. Konsep ini telah lama dijelaskan oleh Bernard M. Bass, salah satu tokoh utama dalam teori kepemimpinan modern.
Menurut Bass, kepemimpinan transformasional terjadi ketika seorang pemimpin tidak hanya fokus pada hasil kerja atau target semata, melainkan juga berupaya memperluas cara pandang dan kepentingan karyawan. Pemimpin jenis ini menumbuhkan kesadaran serta penerimaan terhadap tujuan bersama, sehingga anggota tim merasa bagian dari misi yang lebih besar.
Selain itu, pemimpin transformasional mendorong bawahannya untuk melampaui kepentingan pribadi demi kebaikan kelompok. Dengan cara ini, pemimpin bukan hanya mengurangi stres, tetapi juga menumbuhkan rasa makna, keterhubungan, dan motivasi intrinsik.
Jika kita mengacu pada kedua penelitian di atas, terlihat jelas bahwa tidak semua pemimpin membawa dampak positif bagi dirinya maupun timnya. Ada tipe pemimpin yang justru membuat dirinya dan bawahannya semakin stres. Pertama, pemimpin yang hanya bersifat transaksional atau pasif. Pemimpin jenis ini hanya berfokus pada sistem reward dan punishment, tanpa memberi makna yang lebih dalam pada kerja tim. Akibatnya, bawahan merasa pekerjaannya sekadar rutinitas mekanis tanpa nilai, yang lama-kelamaan bisa memicu stres kronis. Pemimpin semacam ini seringkali tampak otoriter, hanya memberi perintah dan hukuman tanpa inspirasi. Kedua, pemimpin yang tidak memiliki rasa kontrol maupun tujuan moral.
Pemimpin seperti ini biasanya merasa dirinya hanya “boneka jabatan” yang sekadar mengisi posisi tanpa arah yang jelas. Kondisi ini membuat mereka lebih mudah cemas, tertekan, dan akhirnya stres. Yang lebih berbahaya, stres dari pemimpin semacam ini menular ke bawahannya, sehingga suasana kerja menjadi penuh ketegangan.
Ketiga, pemimpin yang tidak mampu mengelola emosinya sendiri. Pemimpin yang mudah panik, marah, atau bingung tanpa kendali emosional akan secara tidak sadar mengirimkan “sinyal stres” kepada tim.
Hal ini menciptakan efek domino: pemimpin yang stres menularkan ketegangannya ke bawahan, tim ikut tertekan, dan pada akhirnya kinerja kelompok menurun. Dengan kata lain, pemimpin yang tidak mampu menginspirasi, tidak punya arah jelas, dan tidak bisa mengatur emosinya justru menjadi sumber stres, bukan sumber ketenangan dan motivasi.
Dampaknya pun tidak bisa dianggap sepele. Pemimpin yang gagal mengelola diri dan timnya pada akhirnya rentan mengalami burnout, kelelahan fisik dan mental yang berkepanjangan, yang dapat berujung pada penyakit serius seperti gangguan tidur dan bahkan penyakit jantung. Sementara itu, bawahan atau rakyat yang dipimpinnya ikut menanggung beban. Mereka mengalami stres kronis, penurunan produktivitas, dan masalah kesehatan mental yang bisa memengaruhi kehidupan pribadi maupun profesional.
Situasi ini tidak hanya merugikan individu, tetapi juga menghantam organisasi atau bahkan negara secara keseluruhan. Alih-alih berkembang, organisasi atau bangsa yang dipimpin oleh sosok seperti ini cenderung stagnan, hanya “bertahan hidup” tanpa arah yang jelas, sehingga sulit untuk tumbuh, berinovasi, atau membawa perubahan positif bagi masyarakat luas.
Dalam dunia politik, gaya kepemimpinan transaksional juga bisa ditemukan pada figur-figur tertentu, salah satunya yang kerap dianalisis adalah Donald Trump di Amerika Serikat. Beberapa pengamat menilai gaya Trump lebih condong ke pola transaksional. Ciri utamanya adalah fokus pada kesetiaan personal, pemberian penghargaan hanya kepada para loyalis, serta hukuman keras bagi lawan politik maupun staf yang dianggap tidak sejalan.
Pola kepemimpinan seperti ini menciptakan lingkungan politik yang penuh ketegangan. Hal ini terlihat dari banyaknya staf senior yang memilih mundur selama masa pemerintahannya, serta meningkatnya polarisasi sosial di masyarakat. Dampak stres pun meluas, bukan hanya dirasakan di lingkaran internal tim pemerintahan, tetapi juga di kalangan rakyat. Kebijakan yang sering berubah secara tiba-tiba dan gaya komunikasi yang keras menimbulkan rasa ketidakpastian, sehingga publik hidup dalam kondisi psikologis yang lebih tegang dan rentan terpecah.
Dalam konteks organisasi, gaya kepemimpinan seorang manajer juga sangat menentukan suasana kerja dan kesehatan timnya. Seorang manajer dengan gaya transaksional cenderung hanya fokus pada pencapaian target angka. Ia mudah marah besar ketika target tidak tercapai dan jarang sekali memberi apresiasi secara emosional, seperti pujian atau pengakuan atas usaha karyawan. Akibatnya, para karyawan kehilangan rasa kontrol terhadap pekerjaannya, merasa bekerja hanya karena takut akan hukuman, bukan karena motivasi intrinsik. Situasi ini sering memicu stres kronis dan membuat tingkat turnover – karyawan yang keluar dari perusahaan – menjadi tinggi.
Sebaliknya, manajer dengan gaya transformasional memiliki pendekatan yang sangat berbeda. Ia menekankan pentingnya visi tim, memberikan makna yang lebih dalam pada pekerjaan sehari-hari, serta mendukung pengembangan individu.
Dengan cara ini, karyawan merasa dihargai tidak hanya sebagai “mesin pencetak angka”, tetapi sebagai manusia yang punya potensi dan kontribusi unik. Dampaknya, mereka menjadi lebih kreatif, termotivasi, dan mengalami tingkat stres yang lebih rendah, sehingga tercipta lingkungan kerja yang lebih sehat, produktif, dan berkelanjutan. Walhasil, pemimpin yang cenderung otoriter–transaksional ekstrem berisiko besar menimbulkan stres kronis pada dirinya, tim, maupun rakyat. Sebaliknya, pemimpin transformasional memberi perlindungan psikologis karena menumbuhkan makna, kontrol, dan rasa aman.
@pakarpemberdayaandiri






