JAKARTA, MAJALAH CEO (04/11). — Upaya Indonesia memperkuat kemandirian industri berbasis teknologi mulai diarahkan pada penguasaan mineral kritis, salah satunya logam tanah jarang (LTJ). Komoditas yang memiliki nilai strategis dalam rantai pasok global tersebut kini menjadi perhatian pemerintah melalui kegiatan eksplorasi di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.
Eksplorasi yang dijalankan PT Perusahaan Mineral Nasional (Persero) atau Perminas menjadi bagian dari langkah awal untuk mengidentifikasi potensi mineral sekaligus menyiapkan dasar pengembangan industri pengolahan di dalam negeri. Keberadaan logam tanah jarang dinilai penting karena material tersebut dibutuhkan dalam produksi berbagai komponen teknologi modern yang selama ini menjadi bagian dari industri bernilai tambah tinggi.
Mamuju menjadi salah satu kawasan yang mendapat perhatian karena memiliki indikasi kandungan unsur tanah jarang berdasarkan penelitian geologi sebelumnya. Pemerintah dan perusahaan kini berupaya memperbarui data tersebut melalui kegiatan pengeboran agar potensi mineral dapat diketahui secara lebih terukur.
Pada tahap awal, kegiatan pengeboran difokuskan pada dua blok dengan luas sekitar 200 hektare. Area tersebut merupakan bagian dari wilayah konsesi yang lebih luas, yakni sekitar 7.300 hektare. Perbedaan cakupan ini penting karena hasil eksplorasi pada area pengeboran belum dapat menggambarkan keseluruhan potensi mineral di wilayah izin usaha pertambangan.
Perminas telah memperoleh izin usaha pertambangan tahap eksplorasi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral serta persetujuan rencana kerja dan anggaran biaya. Dengan dasar perizinan tersebut, perusahaan dapat melanjutkan kegiatan teknis untuk mengumpulkan informasi mengenai kondisi geologi, kedalaman mineralisasi, dan penyebaran unsur tanah jarang.
Pengeboran dilakukan secara bertahap dengan target sekitar 200 titik. Data yang diperoleh nantinya akan dianalisis melalui pengujian laboratorium dan evaluasi geologi. Proses tersebut diperlukan untuk membedakan indikasi mineralisasi dengan sumber daya yang dapat dihitung berdasarkan standar teknis pertambangan.
Salah satu data penelitian terdahulu di Mamuju menunjukkan kandungan total unsur tanah jarang pada sampel tertentu mencapai 4.571 ppm. Meski demikian, angka tersebut tidak serta-merta menunjukkan besarnya cadangan yang dapat diproduksi. Penetapan sumber daya dan cadangan membutuhkan data yang lebih lengkap, termasuk informasi mengenai sebaran, kualitas, volume, serta kelayakan teknis dan ekonominya.
Penyelesaian kegiatan eksplorasi ditargetkan berlanjut hingga 2027. Setelah data dinilai mencukupi, perhitungan sumber daya dan cadangan akan dilakukan oleh tenaga ahli kompeten sesuai standar pelaporan yang berlaku. Hasilnya akan menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan apakah proyek dapat dilanjutkan menuju tahap pengembangan dan produksi.
Dari sisi industri, logam tanah jarang memiliki kegunaan yang semakin luas. Unsur-unsur tertentu di dalam kelompok mineral ini diperlukan untuk membuat magnet berkinerja tinggi pada kendaraan listrik, generator turbin angin, perangkat elektronik, sistem komunikasi, hingga teknologi pertahanan. Permintaan terhadap material tersebut ikut meningkat seiring percepatan transformasi digital dan peralihan menuju energi yang lebih bersih.
Namun, penguasaan sumber mineral saja belum cukup untuk menjadikan Indonesia pemain kuat dalam industri logam tanah jarang. Nilai ekonomi yang lebih besar berada pada kemampuan mengolah, memisahkan, dan memurnikan unsur-unsur tersebut menjadi bahan baku industri. Tahapan ini membutuhkan teknologi khusus, investasi besar, tenaga ahli, serta pengawasan lingkungan yang memadai.
Tantangan pengolahan juga berkaitan dengan karakteristik setiap endapan mineral. Proses pemisahan unsur tanah jarang dapat menghasilkan residu yang memerlukan pengelolaan secara cermat. Oleh sebab itu, aspek keselamatan kerja, pengendalian limbah, dan perlindungan lingkungan perlu menjadi bagian dari perencanaan sejak tahap eksplorasi.
Selain Mamuju, Indonesia telah mengidentifikasi sejumlah kawasan lain yang memiliki potensi mineral strategis, antara lain di Bangka Belitung, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Tenggara. Pemetaan berbagai wilayah tersebut membuka peluang bagi pengembangan basis industri mineral kritis yang lebih terintegrasi, mulai dari eksplorasi hingga pengolahan.
Pengembangan logam tanah jarang juga memiliki arti penting dalam memperkuat ketahanan rantai pasok nasional. Selama ini, persaingan global atas mineral kritis semakin erat kaitannya dengan kebutuhan industri kendaraan listrik, semikonduktor, energi terbarukan, dan pertahanan. Negara yang memiliki kemampuan mengelola sumber daya sekaligus menguasai teknologi pengolahannya berpeluang memperoleh posisi lebih kuat dalam perdagangan internasional.
Dengan demikian, eksplorasi di Mamuju tidak hanya berorientasi pada pencarian cadangan mineral, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun fondasi industri masa depan. Keberhasilan program tersebut akan sangat ditentukan oleh keakuratan data geologi, kesiapan teknologi pengolahan, kepastian investasi, serta komitmen terhadap pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.(arfi)












