JAKARTA — MAJALAH CEO, (12/10). Portofolio investasi di sektor energi baru terbarukan (EBT) menunjukkan performa keekonomian yang sangat menjanjikan. Berdasarkan dokumen evaluasi kelayakan finansial kuartal berjalan, megaproyek hilirisasi komoditas perkebunan menjadi bahan bakar nabati (bioetanol) secara konsisten mencatatkan tingkat pengembalian modal atau Internal Rate of Return (IRR) di atas 15 persen.
Tingginya angka IRR tersebut menjadi parameter krusial yang menempatkan proyek ini pada kategori sangat layak investasi (bankable) oleh lembaga keuangan domestik maupun konsorsium perbankan nasional. Struktur pendanaan proyek pun dipastikan murni mengandalkan kekuatan alokasi kredit komersial dan kemandirian kapital internal korporasi tanpa menyerap dana APBN.
Akselerasi keuntungan ini tecermin nyata dalam publikasi laporan keuangan internal perusahaan pengelola, , per Agustus berjalan [c]. Perseroan sukses mencetak lompatan performa tertinggi dengan raihan pendapatan operasional mencapai Rp3,55 triliun, dibarengi dengan perolehan laba bersih bersih konsolidasian sebesar Rp1,63 triliun.
Direktur Utama Agrinas, Mohammad Abdul Ghani, menjelaskan bahwa profitabilitas yang kokoh ini didorong oleh integrasi bisnis hulu-hilir yang memangkas perantara tata niaga komoditas. Kepastian margin laba perseroan juga terkunci aman berkat adanya komitmen yang resmi bertindak sebagai pembeli siaga (off-taker) jangka panjang untuk bauran bensin E20 nasional.
“Bisnis energi bersih ini didesain tanpa membebani keuangan APBN, melainkan murni mengandalkan kekuatan pendanaan perbankan karena memiliki nilai keekonomian yang sangat tinggi. Kami mengombinasikan potensi tiga komoditas strategis—singkong, jagung, dan sorgum—untuk memastikan utilisasi pabrik penyulingan tetap optimal sepanjang tahun,” ungkap Mohammad Abdul Ghani dalam keterangannya di Jakarta, Senin (12/10).
Dalam cetak biru (blueprint) penguatan struktur finansial korporasi, keberhasilan menjaga stabilitas harga produk jadi di tingkat pasar ditopang oleh tiga strategi efisiensi biaya pokok:
* Standardisasi Biaya Manufaktur: Mengunci harga pokok penyulingan bioetanol murni di kisaran Rp6.300 hingga Rp8.000 per liter (sudah termasuk beban bunga bank), berada jauh di bawah ambang batas harga acuan pembelian pemerintah sebesar Rp10.800 per liter.
* Koridor Penguasaan Lahan Terintegrasi: Menerapkan model single management di atas 1 juta hektare lahan mineral non-gambut di Sumatera dan Kalimantan, sehingga harga pokok produksi (HPP) ubi kayu terkunci stabil di level Rp704 per kilogram.
* Mitigasi Risiko Kompetisi Pangan: Memprioritaskan bahan baku singkong lokal karena karakteristik rantai pasoknya yang andal, tidak berebut dengan industri pangan esensial (gula dan kecap), serta memiliki indeks konversi pati menjadi alkohol yang sangat tinggi.
Secara makro, megaproyek bernilai keekonomian tinggi ini diproyeksikan mampu menyuplai kapasitas hingga 5 juta kiloliter bioetanol per tahun. Hilirisasi ini tidak hanya menjadi instrumen pengungkit kinerja keuangan korporasi, melainkan bertindak sebagai jangkar penyelamat cadangan devisa negara sebesar Rp93 triliun dari beban impor bensin, sekaligus membuka peluang lapangan kerja baru bagi 1,1 juta tenaga kerja di tingkat akar rumput secara berdaulat dan berkelanjutan.(arfi)












