JAKARTA — MAJALAH CEO, (8/10). Pemerintah bersama jajaran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memperkuat fondasi kedaulatan sektor pertanian nasional memasuki akhir tahun. Langkah taktis ini diwujudkan melalui komitmen peningkatan kapasitas output produksi pupuk nasional secara masif guna memotong rantai ketergantungan impor komoditas hulu pertanian.
Dalam peta jalan (roadmap) perluasan fisik jangka panjang, fokus ekspansi luar pulau kini diarahkan pada percepatan pembangunan Kawasan Industri Pupuk Fakfak di Papua Barat. Proyek strategis nasional ini diproyeksikan bakal bertindak sebagai hub logistik pertahanan pangan baru yang kokoh untuk mengamankan kebutuhan pasokan pupuk di wilayah koridor pasifik serta Indonesia bagian timur.
Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR RI secara resmi memberikan dukungan regulasi penuh terhadap akselerasi investasi fisik tersebut. Parlemen mendesak optimalisasi penataan pabrik baru ini agar mampu mendongkrak agregat volume produksi nasional dari level eksisting 12 juta ton melesat menuju target 16 juta ton per tahun.
“Penguatan kapasitas pabrikan hingga 16 juta ton per tahun akan menjadi jangkar stabilitas pasokan di tingkat akar rumput. Hal ini sangat krusial untuk mengeliminasi risiko fluktuasi harga komoditas input pertanian yang sering membebani para petani, sekaligus memperkokoh ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan,” ungkap perwakilan otoritas pangan dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (8/10).
Eksekusi megaproyek padat modal di Fakfak dan sejumlah sentra daerah disokong penuh oleh kekuatan finansial internal PT Pupuk Indonesia (Persero). Korporasi sukses mengamankan kemandirian modal (reinvestment) berkat lonjakan perolehan laba bersih konsolidasian yang meroket tajam 253 persen menjadi Rp8,51 triliun.
Guna menjamin keberlanjutan pasokan gas bumi riil di lapangan, manajemen mengombinasikan proyek Fakfak dengan dua program pembaruan struktur pabrik:
* Revitalisasi Fasilitas Hemat Energi: Meluncurkan proyek modernisasi ramah lingkungan pada pabrik Pusri IIIB di Palembang serta perluasan kapasitas output pabrik NPK di Gresik guna menekan emisi gas bumi manufaktur.
* Hilirisasi Petrokimia Domestik: Membangun unit pabrik kimia metanol dan amonia baru di Lhokseumawe (Aceh) dan Bontang (Kalimantan Timur) untuk memasok rantai industri tekstil serta perekat nasional.
Melalui integrasi pendanaan mandiri dan ekspansi hub logistik Fakfak di Papua Barat ini, Indonesia bersiap melepas ketergantungan pasokan bahan baku industri dasar dari luar negeri. Langkah berdikari ini diharapkan mampu menciptakan stabilitas harga pangan yang merata dari sabang sampai merauke.(arfi)
–












