Cegah Stunting Kognitif, Pakar Desak Kewajiban Skrining Darah Sejak Trimester Pertama Kehamilan.

CAPE TOWN — MAJALAH CEO, (8/10). Para pakar kesehatan masyarakat dan ahli neurosains global mendesak otoritas kesehatan di berbagai negara untuk memperketat protokol pemeriksaan ibu hamil. Langkah intervensi berupa kewajiban penapisan (skrining) darah lengkap sejak awal masa kehamilan dinilai menjadi kunci vital untuk mencegah terjadinya cacat perkembangan otak permanen pada anak.

Desakan ini mencuat menyusul rilis data pelacakan klinis jangka panjang hasil kolaborasi antara dan University of Cape Town. Riset komprehensif tersebut membuktikan bahwa kondisi kekurangan zat besi atau anemia pada ibu hamil yang terlambat dideteksi secara klinis dapat memicu penyusutan volume area subkortikal vital janin hingga melahirkan dampak penurunan kecerdasan anak saat memasuki usia sekolah.

Menggunakan pemantauan teknologi Magnetic Resonance Imaging (MRI) portabel terhadap lebih dari 300 pasang ibu dan anak, tim peneliti mendeteksi adanya pengurangan volume total saraf otak sebesar 4 persen lebih kecil pada bayi yang lahir dari ibu dengan riwayat anemia.

Kondisi penyusutan ini menyasar tiga struktur subkortikal utama, yakni putamen, nukleus kaudatus, dan korpus kalosum. Ketiga wilayah ini bertanggung jawab penuh dalam mengatur kecepatan memproses informasi, kemampuan motorik, serta fungsi neuropsikologis regulasi emosi anak.

Pakar neurosains klinis menjelaskan bahwa kerusakan struktur akibat defisiensi zat besi ini bersifat menetap. Berdasarkan data komparatif laboratorium, perbedaan volume pada korpus kalosum bayi tercatat sebesar 4 persen saat berusia 12 bulan dan justru melebar hingga 6 persen ketika menyentuh usia 24 bulan. Angka ini membuktikan secara medis bahwa jaringan otak anak tidak mengalami fase pengejaran ketertinggalan pertumbuhan (catch-up growth).

Secara patofisiologi, molekul zat besi merupakan motor penggerak utama bagi pembentukan DNA serta metabolisme energi selular jaringan saraf janin yang melaju pesat pada fase trimester akhir. Penurunan pengikatan oksigen oleh hemoglobin ibu hamil secara otomatis menghentikan diferensiasi sel oligodendrosit, yang berfungsi sebagai pembangun selubung pelindung saraf (mijelinisasi). Akibatnya, transmisi sinyal listrik antar-sel otak anak menjadi terhambat.

Guna menekan risiko gangguan kognitif struktural tersebut secara menyeluruh, cetak biru tata laksana medis merekomendasikan tiga pilar penanganan klinis berlapis:

* Mandatori Antenatal Skrining: Mewajibkan pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb) dan feritin serum pada kunjungan kehamilan pertama (antenatal care) tanpa harus menunggu munculnya keluhan klinis lelah atau pusing secara fisik.

* Intensifikasi Suplementasi Bertarget: Pemberian regimen Tablet Tambah Darah (TTD) dosis tinggi secara ketat, disertai opsi intervensi zat besi intravena (infus) bagi kelompok ibu hamil yang mengalami sindrom malabsorpsi cerna.

* Mitigasi Infeksi Sistemik: Mengobati peradangan kronis dan infeksi penyerta secara simultan guna membuka sumbatan zat besi dalam tubuh, sehingga transfer nutrisi dari plasenta ibu ke janin dapat berjalan optimal.

Melalui standardisasi penyaringan darah dini dan ketepatan pemenuhan zat gizi mikro selama kehamilan, angka insiden anemia kehamilan diharapkan dapat ditekan serendah mungkin demi mengamankan potensi kecerdasan dan kualitas hidup generasi penerus secara berkelanjutan.(arfi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *