Raih Devisa Rp5,4 Triliun, Kemenperin Dorong Industri Mainan Bersertifikat TKDN Kuasai Pasar Domestik.

JAKARTA — MAJALAH CEO, (6/10). Di tengah keberhasilan menembus pasar internasional, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) kini memprioritaskan strategi penguatan pasar domestik bagi produk mainan anak lokal.

Sektor padat karya ini didorong untuk mengoptimalkan penggunaan sertifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) guna membendung ekspansi produk impor di pasar nasional.

Berdasarkan data performa perdagangan luar negeri, subsektor aneka ini mencatatkan lonjakan nilai ekspor sebesar 18,2 persen pada semester I. Akumulasi nilai pengapalan produk ke pasar global sukses menembus 351,8 juta dollar AS (setara Rp5,4 triliun), tumbuh signifikan dari periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar 297,7 juta dollar AS .

Amerika Serikat, Inggris, dan Republik Ceko menjadi destinasi utama serapan produk kreatif tersebut.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita, menegaskan bahwa kepatuhan terhadap standarisasi internasional menjadi kunci utama diterimanya produk lokal di Uni Eropa [c]. Namun, fokus evaluasi saat ini dialihkan pada ketahanan pemenuhan kebutuhan di dalam negeri.

“Kendati penetrasi di pasar internasional menunjukkan performa yang sangat kompetitif, tantangan terbesar kita saat ini adalah bagaimana mengamankan dan mendominasi pangsa pasar pengadaan di dalam negeri sendiri dari serbuan produk impor,” ujar Reni Yanita dalam keterangannya di Jakarta.

Cetak biru (blueprint) penguatan struktur manufaktur mainan nasional saat ini bertumpu pada tiga pilar operasional:

* Kemandirian Rantai Pasok: Sebanyak 65 perusahaan manufaktur utama telah mengantongi sertifikat TKDN untuk meminimalkan ketergantungan terhadap bahan baku impor.

* Skala Usaha Agresif: Pergerakan roda produksi digerakkan oleh 256 unit industri aktif skala menengah dan besar yang tersebar di wilayah sentra.

* Kontribusi Padat Karya: Menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan dengan menyerap lebih dari 15.000 tenaga kerja lokal secara berkelanjutan.

Guna mempercepat dominasi pasar lokal sekaligus mempertahankan kinerja ekspor, pemerintah berkomitmen memperluas bauran insentif non-fiskal. Langkah nyata yang dijalankan meliputi fasilitasi pengurusan SNI secara gratis, modernisasi teknologi produksi melalui program restrukturisasi mesin, serta pendampingan manajemen mutu internasional.

Kemenperin juga mengarahkan para produsen untuk fokus pada pengembangan produk bernilai tambah tinggi seperti alat peraga edukatif, puzzle, dan permainan papan (board game) yang memiliki margin keuntungan besar di pasar digital global.(arfi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *