JAKARTA – MAJALAH CEO, (5/10). Di tengah pesatnya digitalisasi keuangan dan kompleksitas transaksi modern, keandalan mitigasi risiko menjadi tolok ukur utama dalam menjaga stabilitas industri perbankan. Merespons tantangan tersebut, PT Bank Danamon Indonesia Tbk melakukan transformasi struktural dengan menanamkan teknologi canggih ke dalam sistem tata kelola perusahaan guna mengantisipasi ancaman kejahatan siber dan fluktuasi pasar secara komprehensif.
Perseroan memperkenalkan peta jalan (roadmap) perlindungan nasabah melalui pengoperasian arsitektur Intelligent GRC (Governance, Risk, and Compliance) serta prinsip Sustainability by Design. Sistem berbasis komputasi modern ini didesain agar fungsi kepatuhan hukum dan pengawasan audit internal tidak lagi bersifat pasif, melainkan bergerak adaptif sebagai bagian dari akselerasi lini bisnis jangka panjang.
Direktur Kepatuhan Bank Danamon, Rita Mirasari, mengungkapkan bahwa integrasi teknologi ke dalam manajemen risiko bukan lagi sekadar pemenuhan kewajiban (compliance) terhadap regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Lebih dari itu, instrumen digital ini menjadi jangkar utama dalam memetakan profil risiko di setiap pengambilan keputusan strategis korporasi.
“Ke depan, kami akan terus memperkuat kapabilitas dan praktik GRC agar tetap relevan, adaptif, serta mampu mendukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan,” jelas Rita dalam rilis resminya di Jakarta.
Transformasi tata kelola berbasis digital yang dieksekusi perseroan ini mendapat pengakuan solid dalam ajang penghargaan nasional TOP GRC Awards. Setelah melalui proses kurasi ketat dan wawancara komparatif terhadap lebih dari 900 perusahaan lintas industri di tanah air, Bank Danamon sukses menyabet penghargaan tertinggi:
* Predikat 5 Star (Excellence): Pengakuan terhadap kesiapan infrastruktur, sistem integrasi data, dan implementasi GRC di seluruh kantor cabang operasional.
* The Most Committed GRC Leader: Penghargaan kepemimpinan yang dianugerahkan kepada Direktur Utama Bank Danamon, Nobuya Kawasaki, atas komitmennya dalam mempercepat pembaruan infrastruktur manajemen risiko perbankan nasional.
Nobuya Kawasaki menegaskan bahwa penguatan instrumen pengawasan berbasis teknologi ini berdampak langsung pada kredibilitas dan tingkat kepercayaan (trust) nasabah. Di era di mana data finansial bersifat sangat sensitif, transparansi sistem tata kelola dan ketatnya kepatuhan hukum menjadi benteng pertahanan terbaik untuk melindungi kedaulatan dana masyarakat sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi sirkular yang sehat di Indonesia.(arfi)










