Dari Modal Amplop Pernikahan, Sally Giovanny Bangun Batik Trusmi hingga Punya 1.300 Karyawan

JAKARTA, MAJALAH CEO — Perjalanan membangun bisnis tidak selalu dimulai dari modal besar, pendidikan bisnis, maupun strategi perusahaan yang matang. Kisah Sally Giovanny, pendiri sekaligus CEO Batik Trusmi, justru berawal dari keputusan sederhana untuk berjualan kain batik bersama sang suami.

Sekitar dua dekade lalu, ketika sebagian teman seusianya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, Sally memilih membangun kehidupan bersama Ibnu Riyanto. Keduanya kemudian merintis bisnis batik dengan modal yang berasal dari amplop pernikahan.

Tanpa latar belakang ilmu bisnis, Sally menjalankan hampir seluruh proses usaha seorang diri. Mulai dari produksi, pengemasan, kasir hingga pengiriman dilakukan secara langsung.

Perlahan, usaha kecil tersebut berkembang. Sally bahkan turun langsung menawarkan produk secara door-to-door, mendatangi toko-toko, hingga membangun jaringan sebagai pemasok batik.

Strategi pemasaran yang dijalankan pun terbilang tidak biasa. Sally pernah mengejar selebritas ke stasiun maupun menunggu mereka keluar dari hotel hanya untuk memberikan kain batik dan meminta foto. Foto tersebut kemudian dipajang di toko sebagai bagian dari strategi memperkenalkan produknya.

Dari perjalanan tersebut, Batik Trusmi berkembang menjadi salah satu nama yang dikenal dari Cirebon. Saat ini, Trusmi Group disebut telah mempekerjakan sekitar 1.300 karyawan, dengan cabang butik di Jakarta, Medan, dan Bali.

Tidak Sekadar Menjual Kain

Bagi Sally, kekuatan batik bukan hanya terletak pada kain dan motifnya, tetapi juga pada cerita serta filosofi yang berada di balik setiap produk.

Batik Trusmi mengembangkan motif khas Cirebon, termasuk Mega Mendung, sembari melakukan inovasi agar batik dapat diterima oleh generasi muda. Pada September 2026, Batik Trusmi juga memperkenalkan jenama Moment di New York Fashion Week dengan memadukan unsur batik Indonesia dengan elemen fesyen dari Jepang, China, dan Amerika Serikat.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya mengubah persepsi bahwa batik hanya cocok digunakan dalam acara formal. Sally ingin batik hadir sebagai produk fesyen yang relevan bagi berbagai generasi, termasuk Gen Z.

Di sisi bisnis, Trusmi juga memilih tidak terjebak dalam perang harga. Efisiensi produksi, kualitas bahan, pelayanan, serta kekuatan cerita produk menjadi bagian dari strategi mempertahankan nilai batik.

Membuka Jalan Regenerasi Perajin

Di balik pertumbuhan bisnis, Sally melihat persoalan lain yang tidak kalah penting: regenerasi pembatik.

Menurutnya, profesi pembatik menghadapi tantangan karena proses membatik membutuhkan waktu, tenaga, dan lingkungan kerja yang tidak mudah. Karena itu, ia menggagas konsep Batik University yang diharapkan dapat melahirkan generasi baru artisan batik sekaligus memberikan pemahaman mengenai teknik, filosofi, bisnis, hingga pasar global.

Gagasan tersebut menunjukkan bahwa ekspansi bisnis bagi Sally tidak berhenti pada penjualan produk. Ia juga ingin memastikan ekosistem batik tetap memiliki generasi penerus.

Ketika Kesuksesan Dipandang sebagai Titipan

Di tengah perkembangan bisnisnya, Sally mengaku tidak ingin terlena dengan pencapaian. Ia memandang keberhasilan sebagai sesuatu yang harus disyukuri dan dimanfaatkan untuk memberikan manfaat lebih luas.

Sejak 2011, Sally mendirikan Yayasan Rizki Berlimpah Berkah. Yayasan tersebut antara lain mengelola tujuh rumah tahfiz serta menjalankan program pemberdayaan anak yatim dan dhuafa melalui kerja sama dengan sejumlah lembaga sosial.

Baginya, bisnis dan kebermanfaatan sosial dapat berjalan beriringan.

Perjalanan Sally Giovanny memperlihatkan bagaimana sebuah usaha yang dimulai dari skala kecil dapat berkembang melalui keberanian mengambil peluang, keterlibatan langsung dalam bisnis, inovasi, dan kemampuan mempertahankan akar budaya.

Batik Trusmi pun tidak hanya membawa nama sebuah merek. Di dalamnya terdapat upaya Sally untuk membawa identitas Cirebon ke pasar yang lebih luas—dengan satu prinsip: bergerak menuju pasar global tanpa kehilangan akar kearifan lokal. (andif)

Sumber : suar.id

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *