JAKARTA, Menembus pasar global bukan lagi sekadar mimpi bagi pelaku UMKM Indonesia. Tantangannya kini bergeser: bagaimana produk lokal mampu memenuhi standar pasar internasional sekaligus menemukan buyer global yang dapat menjadi mitra bisnis berkelanjutan.
Momentum tersebut terlihat dalam Bootcamp UMKM Untuk Indonesia (UUI) 2026 yang digelar Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC) pada 29–30 September 2026 di Jakarta. Program ini mempertemukan lebih dari 180 pelaku UMKM dari berbagai daerah dengan pemerintah dan sektor swasta.
Mengusung tema “Kita Mau Kita Bisa, Menembus Batas, Membuka Pasar Global”, program tersebut tidak hanya berfokus pada pelatihan, tetapi juga mendorong peningkatan kapasitas usaha, digitalisasi, networking, serta kesiapan UMKM memasuki pasar ekspor.
Bukan Sekadar Jualan, tetapi Menemukan Buyer
Bagi UMKM yang ingin naik kelas, ekspor membutuhkan lebih dari sekadar produk yang menarik. Pelaku usaha harus memiliki kapasitas produksi, kualitas yang konsisten, legalitas, kemampuan memenuhi standar pasar, hingga jaringan bisnis yang dapat menghubungkan mereka dengan calon pembeli.
Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) juga memperkuat jalur tersebut melalui program business matching. Sepanjang Januari–Juli 2026, program ini telah memfasilitasi 1.021 UMKM dengan nilai purchase order (PO) dan potensi transaksi mencapai US$333,68 juta atau sekitar Rp5,95 triliun.
Program tersebut mempertemukan pelaku UMKM dengan buyer dari berbagai negara melalui perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri. Artinya, akses pasar tidak berhenti pada promosi produk, tetapi diarahkan pada terbentuknya hubungan bisnis dengan calon pembeli.
Ekosistem Ekspor Semakin Dibangun
Kolaborasi pemerintah dan swasta menjadi salah satu bagian penting dalam membangun ekosistem tersebut.
SETC sendiri mengembangkan jejaring Collaborator Hub di 17 provinsi untuk mendukung pendampingan UMKM. Sementara pemerintah terus memperluas fasilitasi ekspor melalui business matching, promosi perdagangan, dan penguatan kanal digital.
Kemendag juga mengembangkan InaExport sebagai salah satu kanal untuk memperkenalkan produk Indonesia kepada pasar internasional. Platform tersebut diarahkan menjadi national export gateway yang memperkuat akses dan promosi produk Indonesia, termasuk produk UMKM.
Dari Produk Lokal Menjadi Produk Global
Perjalanan UMKM menuju pasar global pada akhirnya bukan hanya persoalan menjual produk ke luar negeri. Lebih jauh, proses tersebut menyangkut perubahan cara pelaku usaha membangun bisnis.
UMKM dituntut semakin profesional dalam mengelola produk, merek, pemasaran, produksi, hingga hubungan dengan buyer.
Program seperti SETC–UUI 2026 menunjukkan bahwa jalan menuju ekspor semakin diarahkan melalui kolaborasi, peningkatan kapasitas, digitalisasi, dan akses langsung kepada calon pembeli.
Bagi UMKM Indonesia, peluangnya semakin terbuka. Tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa produk lokal tidak hanya mampu masuk ke pasar global, tetapi juga mampu bertahan dan membangun hubungan bisnis jangka panjang dengan buyer internasional. (andif)












