JAKARTA, MAJALAHCEO.co.id – Tradisi Gawai Dayak menjadi salah satu simbol budaya terkaya di Indonesia yang mengajarkan esensi terdalam dari rasa bersyukur. Perayaan ini bukan sekadar pesta adat, melainkan wujud apresiasi tertinggi masyarakat Dayak kepada Sang Pencipta atas hasil panen padi yang melimpah dan kesehatan yang diberikan selama setahun terakhir.
Hal itu disampaikan Kepala Binua Dayak Bidayuh Jagoi Limen AK Lingai, di Bengkayang beberapa waktu lalu.
Limen mengatakan, Gawai Dayak merupakan refleksi hubungan vertical manusia dengan Tuhan melalui persembahan sesaji.
“Gawai Dayak merupakan refleksi hubungan vertikal manusia dengan Tuhan. Melalui persembahan sesaji, masyarakat Dayak memohon berkat dan perlindungan agar ladang mereka tetap subur serta dijauhkan dari marabahaya pada musim tanam berikutnya. Selain itu, ritual ini juga menjadi cara menghormati dan memanggil arwah leluhur yang diyakini menjaga wilayah adat mereka,” kata Limen.
“ Jadi intinya, esensi utama Gawai Dayak adalah sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan (Jubata) atas hasil panen yang melimpah serta penghormatan kepada leluhur dan alam semesta setelah masa panen,” ujarnya.
Menurut sosok peraih Kinerja Ekselen Award 2026 ini, Gawai Dayak juga menjadi momentum berkumpulnya masyarakat suku Dayak dari berbagai daerah untuk mempererat persaudaraan.
Upacara tradisi ini, tambah tokoh adat Dayak Bidayuh ini, melalui Gawai Dayak akan terbangun harmoni dengan alam, merefleksikan hubungan selaras antara manusia, leluhur, dan lingkungan hidup, sekaligus sebagai upaya melestarikan budaya, merawat warisan kearifan lokal.
[jgd]












