MANOKWARI, MAJALAHCEO.co.id — Laut Manokwari bersiap menyambut tamu. Di garis pantai yang membentang dari Dermaga Kwawi hingga Pantai Pasir Putih, puluhan orang turun sejak Sabtu pagi, 13 Juni 2026. Mereka datang bukan untuk berwisata, melainkan untuk memungut sampah, membersihkan pesisir, dan merapikan wajah kota menjelang Pesta Paduan Suara Gerejawi atau Pesparawi XIV Nasional Tahun 2026.
Aksi bertajuk Coastal Clean Up itu digelar oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua Barat bersama Dinas Pariwisata Kabupaten Manokwari. Puluhan komunitas lokal, pegiat pariwisata, pencinta lingkungan, organisasi kemasyarakatan, unsur TNI-Polri, kampus, dan media ikut mengambil bagian dalam gerakan tersebut.
Di sepanjang pesisir, para peserta menyisir pasir, bebatuan, dan sudut-sudut kawasan wisata. Sampah plastik, botol bekas, dan limbah rumah tangga dikumpulkan dari sejumlah titik Objek dan Daya Tarik Wisata atau ODTW. Gerakan itu menjadi pesan tegas bahwa Manokwari tidak hanya ingin menjadi tuan rumah yang meriah, tetapi juga tuan rumah yang bersih, tertib, dan berwibawa.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua Barat, Jafar Werfete, mengatakan aksi bersih pantai tersebut bukan sekadar agenda seremonial. Menurutnya, kegiatan ini adalah gerakan moral untuk menjaga masa depan pariwisata Manokwari.
“Kegiatan ini memiliki makna yang luar biasa. Pariwisata tidak mungkin ada tanpa alam, dan tidak mungkin ada tanpa kebudayaan. Oleh karena itu, ini bagian dari upaya menciptakan ekosistem pariwisata berkelanjutan. Kita jaga alam, jaga pariwisata, dan juga jaga kehidupan kita,” ujar Jafar di sela kegiatan.
Jafar menegaskan, kebersihan adalah wajah pertama yang dilihat wisatawan. Bagi daerah tujuan wisata seperti Manokwari, pantai yang bersih bukan hanya soal estetika, tetapi juga bentuk pelayanan. Wisatawan datang untuk menikmati alam, tetapi mereka juga membutuhkan rasa nyaman, aman, dan dihargai.
Ia menyebut, sektor pariwisata tidak semata-mata menjual panorama. Pariwisata menjual pengalaman. Karena itu, sampah plastik yang dibiarkan berserakan di kawasan pantai dapat merusak citra destinasi, sekaligus melemahkan daya tarik Manokwari sebagai kota yang akan menerima ribuan tamu dari berbagai provinsi di Indonesia.
“Kita harus hadir sebagai tuan rumah yang siap. Tidak hanya siap dalam acara, tetapi juga siap dalam lingkungan dan pelayanan,” tegasnya.
Kebersihan lingkungan juga dinilai menjadi indikator penting dalam menarik minat kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Hal itu disampaikan Noval Madila Salis, mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Hukum atau STIH Manokwari sekaligus Sekretaris Dewan Pertimbangan Mahasiswa STIH Manokwari, saat ditemui di kawasan wisata Pantai Pasir Putih, Kabupaten Manokwari, Papua Barat.
Menurut Noval, aksi peduli lingkungan harus menjadi budaya bersama, bukan hanya kegiatan sesaat menjelang event besar. Ia menilai, destinasi wisata yang bersih akan lebih mudah dipromosikan, lebih aman dikunjungi, dan lebih ramah bagi keluarga.
“Lewat kebersihan itu, kita bisa memikat para wisatawan untuk hadir di tempat yang bersih dan nyaman. Destinasi yang bersih juga sangat ramah untuk keluarga, di mana masyarakat bisa membawa anak-anak dan adik-adik mereka untuk menikmati liburan dengan tenang,” ujar Noval.
Noval menambahkan, masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga kawasan wisata. Pemerintah dapat membuat program, komunitas dapat menggerakkan aksi, tetapi keberlanjutan hanya akan tercipta apabila warga ikut merasa memiliki pantai, laut, dan ruang publiknya sendiri.
Selain mendorong kesadaran kebersihan, kegiatan ini juga menjadi pengingat bagi pengelola destinasi wisata agar memperhatikan aspek ketahanan dan mitigasi bencana. Kawasan pesisir memiliki daya tarik besar, tetapi juga memiliki risiko. Karena itu, keselamatan wisatawan harus menjadi bagian penting dari tata kelola pariwisata.
Penyelenggara menilai, edukasi lingkungan tidak cukup dilakukan melalui ceramah, imbauan, atau penyuluhan yang terdengar jauh dari kehidupan sehari-hari. Cara paling kuat adalah memberi contoh. Turun ke pantai, memungut sampah, dan bekerja bersama menjadi bahasa yang lebih mudah dipahami masyarakat.
Di tengah persiapan Pesparawi XIV Nasional 2026, aksi bersih pantai ini menjadi penanda bahwa Manokwari sedang menata dirinya. Kota ini tidak hanya bersiap menyambut nyanyian, harmoni, dan ribuan peserta dari seluruh Indonesia, tetapi juga sedang menunjukkan komitmen menjaga alam yang menjadi identitasnya.
Gerakan tersebut mengirim pesan sederhana tetapi kuat: keberhasilan sebuah event nasional tidak hanya ditentukan oleh panggung, acara, dan penyambutan tamu. Keberhasilan juga ditentukan oleh lingkungan yang bersih, masyarakat yang peduli, dan wajah kota yang siap menerima siapa pun yang datang.
Melalui langkah persuasif dan semangat kebersamaan ini, pemerintah daerah bersama komunitas berharap Manokwari tampil sebagai tuan rumah Pesparawi XIV Nasional Tahun 2026 dengan citra yang bersih, sehat, ramah, dan lestari. (Icad)












