JAKARTA, Majalah CEO. Di tengah ambisi besar Indonesia menuju visi Indonesia Emas, peran strategis sektor swasta kembali disorot. Namun, ada dimensi yang kerap luput dari perbincangan makroekonomi: kontribusi senyap namun masif dari para perempuan pengusaha.
Hal tersebut mengemuka dalam Musyawarah Nasional (Munas) X Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) di Hotel Borobudur, Jakarta. Mengusung tema transformasi digital dan kedaulatan ekonomi berkelanjutan, forum ini menghadirkan perspektif segar dari Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, mengenai bagaimana perempuan memegang kunci ketahanan ekonomi nasional.
Keluar dari Jebakan Pendapatan Menengah Melalui Sektor Riil
Bukan rahasia lagi jika Indonesia saat ini tengah berpacu dengan waktu untuk melepaskan diri dari middle income trap (jebakan negara berpendapatan menengah). Di sinilah pentingnya pilar competitiveness (daya saing) dan compassion (kepedulian) yang disuarakan oleh Anindya Bakrie.
Alih-alih hanya mengandalkan korporasi raksasa, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang solid di angka 5,04 persen (pada triwulan III 2026) turut ditopang oleh geliat Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang sukses menyerap hingga 1,4 juta tenaga kerja. Menariknya, denyut nadi PMDN dan UMKM ini banyak digerakkan oleh tangan-tangan dingin pengusaha perempuan.
Bagi Kadin Indonesia, ukuran sukses seorang pengusaha masa kini bukan lagi seberapa besar profit yang dicetak, melainkan seberapa luas lapangan kerja yang berhasil dibuka.
Sisi Lain Ekonomi: Potensi “Care Economy” yang Belum Digarap Optimal
Sebuah sudut pandang baru yang ditawarkan dalam forum ini adalah urgensi mengoptimalkan care economy (ekonomi perawatan). Selama ini, sektor perawatan—mulai dari pengasuhan anak, pendidikan usia dini, hingga layanan pendukung domestik—keren kerap dipandang sebelah mata atau dibebankan sepenuhnya sebagai pekerjaan tak berbayar.
Data global mencatat bahwa sekitar 76,2 persen pekerjaan perawatan di dunia dilakukan oleh perempuan. Angka ini bukan sekadar statistik sosial, melainkan potensi ekonomi raksasa yang belum tergarp. Riset menunjukkan bahwa investasi terarah pada sektor pengasuhan anak saja berpotensi menciptakan hingga 10,4 juta lapangan kerja baru di Indonesia.
Dengan karakter bawaan yang teliti, disiplin, dan memiliki manajemen risiko finansial keluarga yang matang, perempuan dinilai memiliki keunggulan komparatif (value added) yang natural untuk memimpin pertumbuhan di sektor ini. Ketua Umum DPP IWAPI, Nita Yudi, bahkan menegaskan bahwa kedisiplinan finansial perempuan membuat mereka menjadi mitra tepercaya bagi lembaga keuangan.
Merajut Kemandirian Lewat Sinergi Lintas Sektor
Munas X IWAPI tidak sekadar menjadi ajang konsolidasi internal organisasi, melainkan sebuah seruan moral dan struktural. Kedaulatan ekonomi bangsa tidak akan tercapai jika perempuan—yang merepresentasikan separuh dari potensi demografi negeri—hanya menjadi penonton.
Dengan memadukan ketahanan pangan, transisi energi berkelanjutan, inovasi digital, serta optimalisasi *care economy*, para pengusaha perempuan terbukti tidak hanya membangun bisnis yang tangguh, tetapi juga merajut jejaring pengaman sosial yang menyerap jutaan tenaga kerja di tingkat akar rumput.
Indonesia Emas bukan lagi sekadar narasi di atas kertas, melainkan kerja kolektif yang hari ini tengah dianyam dari ketekunan para perempuan pengusaha di seluruh penjuru Tanah Air.(andif)
Sumber :Kadin.id








