BI Tahan Suku Bunga 5,75%, Pengusaha Didorong Siapkan “Rencana Tiga Skenario”

JAKARTA, MajalahCEO.co.id. Ekonom terbelah soal arah suku bunga, rupiah bertahan di kisaran Rp18.000. Di tengah ketidakpastian global, perencanaan skenario dinilai makin penting bagi dunia usaha.

Bank Indonesia (BI) kembali menahan suku bunga acuan. Dalam Rapat Dewan Gubernur 20-21 Oktober 2026, BI mempertahankan BI Rate di 5,75%. Keputusan itu tidak sejalan dengan dugaan sebagian analis. Dalam survei Bloomberg, 19 dari 38 ekonom memperkirakan kenaikan, sementara 19 lainnya memperkirakan suku bunga ditahan.

Di sisi lain, BI menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 5%, dan menurunkan GWM bank mulai November. Bank sentral menyatakan langkahnya sejalan dengan upaya menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal. Setelah pengumuman, rupiah tercatat melemah tipis 0,03% namun tetap di bawah Rp18.000 per dolar AS. Deposit Facility Naik Saat BI Rate Tetap pada Oktober 2026, BI Akan Turunkan GWM Bank.

Rupiah melemah sekitar 6-7% sejak Januari

Pada akhir Januari, rupiah dibuka di Rp16.782 per dolar AS. Dengan level saat ini, pelemahannya sekitar 6-7% (perhitungan berdasarkan dua angka tersebut). BI mencatat aliran modal asing masuk sebesar US$9,9 miliar sejak insentif diberlakukan pada Juni 2026.

Fundamental kuat, risiko global masih mengintai

IMF memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,1% pada 2026 dan 2027, sementara ekonomi global tumbuh 3,1% tahun ini. Meski begitu, IMF menilai risiko terhadap prospek global masih cenderung ke arah pelemahan. Dalam skenario terburuk, konflik Timur Tengah yang berkepanjangan dan naiknya imbal hasil obligasi jangka panjang dapat menekan pertumbuhan global 2027 sebesar 0,5 poin persentase.

Keyakinan CEO tertahan

Dari sisi dunia usaha, Indeks Keyakinan CEO Indonesia kuartal IV-2026 berada di level 3,18, dengan ekonomi global dan kondisi politik disebut sebagai penghambat.

Pesan bagi pelaku usaha

Dengan para ekonom sendiri terbelah, satu prediksi tunggal dinilai terlalu berisiko sebagai dasar anggaran. Pelaku usaha disarankan menyiapkan tiga skenario (dasar, tekanan, dan peluang), menetapkan pemicu tindakan yang tertulis, serta memantau sinyal seperti kurs, selisih suku bunga, dan arus modal asing. Bagi perusahaan dengan utang valas atau bahan baku impor, lindung nilai dan fasilitas kredit cadangan sebaiknya disiapkan sebelum dibutuhkan. (andif)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *