ADDIS ABABA — MAJALAH CEO, (8/10). Aliansi ilmuwan teknik sipil dan arkeolog internasional mulai memanfaatkan teknologi komputasi modern untuk memetakan ketahanan material bangunan prasejarah. Fokus pengujian kini diarahkan pada reruntuhan monumental [Grat Be’al Gibri] di Yeha, Ethiopia utara, guna mempelajari bagaimana arsitektur purba mampu bertahan dari degradasi cuaca ekstrem selama lebih dari 28 abad.
Pengujian tingkat lanjut ini merupakan kelanjutan dari temuan mutakhir yang dipublikasikan dalam. Tim peneliti asal Jerman sukses mengintegrasikan pemodelan digital untuk menguji kekuatan mekanis sisa pilar podium batu setinggi 10 meter serta kerangka dinding komposit yang sempat hangus akibat bencana kebakaran besar di masa lalu.
Para pakar mengidentifikasi bahwa data sisa material purba ini sangat berharga untuk pengembangan ilmu teknik sipil modern. Di tengah ancaman perubahan iklim global saat ini, formula arsitektur masa lalu yang terbukti tangguh melintasi zaman dapat menjadi referensi penting dalam merancang infrastruktur masa depan yang ramah lingkungan.
“Kami melakukan simulasi komputer untuk melihat bagaimana struktur anyaman batu dan kayu tersebut merespons perubahan suhu ekstrem di kawasan Laut Merah. Fokus kami adalah mengekstrak data ketahanan material purba ini agar dapat diaplikasikan pada tekhnologi bahan bangunan modern yang adaptif terhadap emisi karbon “, ungkap perwakilan tim riset komputasi material dalam keterangannya, Kamis (8/10).
Berdasarkan draf evaluasi laboratorium, ketahanan struktural dari istana vertikal kuno seluas 60×60 meter ini ditopang oleh tiga indikator rekayasa material:
* Karakteristik Elastisitas Kayu-Batu (Timber-Laced Masonry): Penyisipan balok kayu horizontal di antara susunan batu kasar terbukti tidak hanya andal meredam getaran gempa, melainkan juga mencegah keretakan mikro akibat pemuaian material saat suhu panas ekstrem.
* Daya Dukung Beban Statis Eksponensial: Kerangka komposit prasejarah ini memiliki kapasitas mekanis yang dirancang mampu menahan tekanan beban vertikal yang setara dengan bobot bangunan 16 hingga 19 lantai bertingkat.
* Sirkulasi Termal Poros Vertikal: Pola rongga udara pada dinding batu masif bertindak sebagai isolator panas alami, menjaga stabilitas suhu di dalam ruangan tanpa memerlukan sistem pengondisi udara eksternal.
Paralel dengan riset sains ini, percepatan pengajuan status Situs Warisan Dunia UNESCO terus dikebut untuk mengunci kucuran dana konservasi global. Perlindungan fisik di lapangan dinilai mendesak guna menghentikan kerusakan struktural pada sisa-sisa batu dasar akibat erosi angin dan hujan asam, sehingga koridor laboratorium alam di Yeha ini tetap terjaga untuk kepentingan riset ilmuwan sipil global di masa depan.(arfi)




