JAKARTA — MAJALAH CEO, (5/10). Di tengah eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah dan perlambatan ekonomi yang melanda sejumlah negara mitra dagang utama, sektor industri pengolahan Indonesia menunjukkan resiliensi yang solid. Transformasi pasar domestik dan efisiensi biaya logistik terbukti menjadi bantalan kuat yang menjaga stabilitas manufaktur nasional tetap berada di zona pertumbuhan yang sehat.
Keandalan sektor riil ini tercermin dari lonjakan Indeks Manajer Pembelian atau Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang berhasil melesat ke level 52,4 pada penutupan kuartal ketiga tahun ini. Capaian tersebut menandai pembalikan arah (rebound) yang agresif dari fase kontraksi pada bulan sebelumnya (49,8) , sekaligus mencatatkan rekor ekspansi bisnis terkuat bagi pabrikan tanah air sejak awal tahun.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti, menggarisbawahi bahwa kemampuan industri dalam negeri untuk bangkit di tengah tekanan eksternal merupakan pencapaian struktural yang signifikan. Pihaknya menilai rantai pasok domestik saat ini jauh lebih adaptif dalam mengantisipasi lonjakan harga komoditas global.
“Meningkatnya konflik global dan perlambatan ekonomi global secara logis menekan aktivitas manufaktur. Namun, industri pengolahan kita terbukti mampu bertahan di zona ekspansi karena kuatnya penyerapan pasar dalam negeri serta kemampuan pelaku usaha meredam risiko kenaikan biaya input,” ujar Esther Sri Astuti dalam keterangannya di Jakarta .
Berdasarkan analisis data S&P Global, ketangguhan kinerja manufaktur nasional ini ditopang oleh tiga pilar utama yang bergerak simultan:
* Akselerasi Pesanan Baru: Volume permintaan barang dari pasar domestik mencatatkan laju pertumbuhan tercepat, yang langsung direspons korporasi dengan peningkatan kapasitas output produksi secara masif .
* Rebound Permintaan Asing: Aktivitas pengapalan produk jadi ke pasar internasional mengalami ekspansi selama dua bulan berturut-turut, menyentuh level pertumbuhan tertingginya sejak Mei 2022 .
* Peningkatan Serapan Tenaga Kerja: Lonjakan proyek baru dan komitmen investasi industri memaksa manajemen pabrikan untuk kembali membuka lowongan kerja baru guna mengimbangi tumpukan kerja (backlog) .
Guna mempertahankan momentum ekspansi ini hingga akhir tahun, pemerintah bersama otoritas moneter kini memperketat bauran kebijakan fiskal. Langkah konkret yang diambil meliputi pemberian insentif bea masuk 0 persen untuk bahan baku industri strategis serta percepatan hilirisasi energi guna menekan potensi inflasi dari luar negeri (imported inflation), sehingga daya beli masyarakat kelas menengah sebagai motor utama konsumsi domestik tetap terjaga secara berkelanjutan .(arfi)












