Pemerintah Siapkan Tiga Mesin Pertumbuhan Ekonomi, Fokus Investasi hingga SDM

JAKARTA, MAJALAH CEO – Pemerintah menyiapkan strategi untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia agar tetap tinggi, inklusif, dan berkelanjutan di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Strategi tersebut disampaikan Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso dalam kegiatan Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (P4N) LXX Tahun Anggaran 2026 Lemhannas RI di Jakarta, Kamis (1/10/2026).

Pemerintah melihat prospek ekonomi global hingga 2027 mulai membaik. Berdasarkan proyeksi OECD, ekonomi global diperkirakan tumbuh 2,8% pada 2026 dan 3,1% pada 2027. Namun, risiko geopolitik, perang dagang, gangguan logistik, serta ketidakpastian sektor keuangan masih menjadi tantangan.

Di tengah kondisi tersebut, ekonomi Indonesia pada semester I 2026 tumbuh 5,45% secara tahunan. Realisasi investasi mencapai Rp1.010,6 triliun atau tumbuh 7,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, inflasi Agustus 2026 tercatat 3,19% dan Indeks Keyakinan Konsumen berada di level 118,5.

Menurut Susiwijono, pemerintah akan memperkuat investasi, konektivitas, dan logistik untuk menghadapi tekanan eksternal. Pemerintah juga mengembangkan sejumlah sektor strategis, mulai dari manufaktur, ekonomi digital hingga energi.

Dalam strategi tersebut, pemerintah mengusung tiga mesin pertumbuhan ekonomi. Pertama, merevitalisasi mesin ekonomi konvensional melalui penguatan sektor manufaktur, termasuk pengembangan ekosistem kendaraan listrik, industri semikonduktor, dan revitalisasi industri padat karya.

Kedua, membangun mesin ekonomi baru melalui pengembangan ekonomi digital, termasuk pembangunan pusat data di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), serta penguatan sektor energi dan penggunaan energi bersih.

Ketiga, meningkatkan produktivitas dan daya saing sumber daya manusia melalui Program Vokasi dan Program Magang Nasional, sekaligus memperluas akses pembiayaan bagi sektor produktif dan berorientasi ekspor.

Pemerintah juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas makroekonomi, daya beli masyarakat, iklim investasi, sektor finansial, serta jaring pengaman sosial sebagai faktor pendukung strategi pertumbuhan.

Selain itu, Indonesia juga memperkuat peran dalam pengembangan kecerdasan buatan. Sejak 16 Juli 2026, Indonesia menjadi salah satu Founding Member World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO) bersama 28 negara lainnya. Keikutsertaan tersebut diarahkan untuk memperkuat kerja sama pengembangan AI, tata kelola global, serta peningkatan kapasitas dan investasi AI untuk kepentingan sipil.

Pemerintah berharap kombinasi penguatan sektor ekonomi konvensional, penciptaan sumber pertumbuhan baru, serta peningkatan kualitas SDM dapat menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia sekaligus meningkatkan daya saing nasional di tengah dinamika ekonomi global. (andif)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *