Kemenperin Terus Perkuat Ekosistem Industri Halal Nasional Agar Semakin Berdaya Saing

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (Foto Kemenperin)

JAKARTA, MAJALAHCEO.co.id – Kementerian Perindustrian berkomitmen untuk terus memperkuat ekosistem industri halal nasional agar semakin berdaya saing dan mampu memperluas penetrasi ke pasar global. Komitmen ini diwujudkan melalui partisipasi Kemenperin pada gelaran Halal Indonesia International Industry Expo (Halal Indo) 2026 yang akan berlangsung pada 24–27 September 2026 di Hall 3 dan 3A Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, pengembangan industri halal merupakan langkah strategis untuk mengoptimalkan potensi pasar yang semakin luas, baik di dalam maupun luar negeri. Oleh karena itu, penguatan ekosistem industri halal perlu dilakukan secara terintegrasi, mulai dari peningkatan kapasitas pelaku industri, fasilitasi sertifikasi, promosi produk, hingga perluasan akses pasar.

“Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi salah satu pusat industri halal dunia. Untuk mewujudkan hal tersebut, industri halal nasional harus semakin produktif, inovatif, berdaya saing, serta mampu menghasilkan produk yang memenuhi kebutuhan dan standar pasar global. Halal Indo 2026 menjadi salah satu momentum untuk mempertemukan kekuatan industri dalam negeri dengan peluang pasar yang lebih luas,” kata Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (19/9).

Menperin menyampaikan, keikutsertaan Kemenperin pada Halal Indo 2026 merupakan bagian dari upaya strategis pemerintah dalam mempersiapkan industri halal nasional agar mampu bersaing dan menembus pasar global, sekaligus mendukung kebijakan pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat industri halal dunia.

Halal Indo 2026 akan menempati area pameran seluas 12.740 meter persegi dengan target lebih dari 30 ribu pengunjung dan melibatkan lebih dari 400 pelaku usaha dari dalam dan luar negeri. Pameran ini akan mencakup berbagai sektor dalam ekosistem halal, antara lain industri makanan dan minuman, farmasi dan obat tradisional, kosmetik dan lifestyle, keramik dan tableware, tekstil dan produk tekstil, barang gunaan lainnya, serta kawasan industri halal. Selain pameran, kegiatan juga akan diisi dengan business matching, pertunjukan, dan talkshow.

“Skala penyelenggaraan Halal Indo tahun ini menunjukkan besarnya peluang sekaligus tingginya perhatian terhadap industri halal. Hal ini perlu dimanfaatkan oleh pelaku industri nasional, khususnya industri kecil dan menengah, untuk memperluas jejaring bisnis, meningkatkan promosi, dan membuka akses terhadap calon pembeli potensial dari berbagai negara,” ujar Agus.

174 Industri Tampil

Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Eko S.A. Cahyanto menjelaskan, Kemenperin akan membangun Paviliun Kementerian Perindustrian seluas 1.818 meter persegi dalam gelaran Halal Indo 2026. Paviliun tersebut terdiri atas main booth, 174 standard booth untuk fasilitasi pelaku industri, area layanan halal oleh Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) Kemenperin dan layanan publik Biro Humas, serta area showcase untuk pemenang Indonesia Halal Industry Awards (IHYA).

“Antusiasme pelaku industri untuk berpartisipasi cukup tinggi. Sejak pendaftaran fasilitasi booth dibuka pada 25 Mei 2026, sebanyak 236 pelaku industri mendaftar. Melalui proses kurasi bersama unit pembina sektor, ditetapkan 174 peserta atau co-exhibitor Paviliun Kemenperin, yang terdiri atas 20 industri besar dan 154 industri kecil dan menengah,” ungkap Eko.

Selain menampilkan produk industri, Paviliun Kemenperin akan menghadirkan business meeting, workshop, serta interactive challenge. Berbagai kegiatan tersebut diarahkan untuk menarik minat pengunjung, meningkatkan interaksi antara pelaku industri dengan calon mitra, sekaligus memperkuat promosi produk industri halal nasional.

Halal Indo 2026 juga akan menghadirkan peserta pameran internasional maupun calon pembeli potensial dari sejumlah negara, antara lain Uzbekistan, Vietnam, Filipina, Amerika Serikat, Maroko, Thailand, Malaysia, Selandia Baru, Libya, Kazakhstan, Kirgistan, Uni Emirat Arab, Maladewa, Hong Kong, dan Korea Selatan.

Menurut Eko, Kemenperin juga berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Perdagangan untuk mendiseminasikan informasi mengenai peserta maupun co-exhibitor kepada perwakilan Republik Indonesia di luar negeri. Langkah ini dilakukan guna memperluas penjaringan potential buyers sehingga keikutsertaan pelaku industri tidak sebatas menjadi ajang promosi, tetapi juga menghasilkan peluang transaksi dan kemitraan bisnis.

“Halal Indo harus menjadi ruang untuk mempertemukan kemampuan produksi industri nasional dengan permintaan pasar. Karena itu, kami ingin pelaku industri yang difasilitasi memperoleh kesempatan seluas-luasnya untuk membangun jejaring dan membuka peluang ekspor,” jelas Sekjen Kemenperin.

IHYA 2026

Guna memperkuat ekosistem industri halal nasional, Kemenperin juga kembali menyelenggarakan Indonesia Halal Industry Awards (IHYA) 2026 sebagai rangkaian Halal Indo 2026. IHYA merupakan bentuk apresiasi kepada seluruh pemangku kepentingan yang mendukung dan berperan aktif dalam menumbuhkan, mengembangkan, dan memberdayakan industri halal nasional.

Penghargaan diberikan kepada berbagai unsur ekosistem industri halal, mulai dari perusahaan industri besar dan IKM, kawasan industri, lembaga pengelola sentra IKM, lembaga pemerintah, institusi pendidikan tinggi, hingga lembaga jasa keuangan.

Untuk perusahaan industri besar dan IKM, penghargaan mencakup sektor makanan, minuman, farmasi dan obat tradisional, kosmetik, keramik (tableware) dan kaca (glassware), perbekalan kesehatan rumah tangga, serta tekstil/apparel termasuk pakaian jadi, kulit, dan produk kulit.

“IHYA tidak semata-mata merupakan sebuah penghargaan. Kami ingin menjadikannya sebagai instrumen untuk memacu semakin banyak pemangku kepentingan terlibat aktif dalam membangun ekosistem industri halal nasional yang kuat dan berkelanjutan,” tutur Eko.

IHYA 2026 berhasil menjaring 1.091 peserta. Dari jumlah tersebut, sebanyak 374 peserta berhasil melewati tahap verifikasi dokumen dan self-assessment. Selanjutnya, proses penjurian yang melibatkan juri dari kementerian/lembaga serta perwakilan asosiasi terkait dilakukan terhadap 97 peserta dengan capaian nilai tertinggi.

Kemenperin telah menyelenggarakan rapat pleno penjurian pada 3 September 2026 yang menghasilkan 22 rekomendasi calon penerima penghargaan IHYA 2026. Para penerima selanjutnya akan ditetapkan melalui Keputusan Menteri Perindustrian.

Sinergikan Halal dan TKDN

Pada Halal Indo 2026, Kemenperin turut menghadirkan Showcase Produk Unggulan Dalam Negeri 2026. Melalui Pusat Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN), Kemenperin akan memfasilitasi industri terpilih yang telah memiliki sertifikat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan sertifikat halal serta mempunyai produk unggulan yang berpotensi memenuhi kebutuhan pasar.

Pusat P3DN bersama Lembaga Verifikasi Independen (LVI) juga menyediakan konsultasi dan pendampingan mengenai proses serta persyaratan sertifikasi TKDN melalui Coaching Clinic TKDN. Fasilitasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan jumlah industri bersertifikat TKDN sekaligus memperluas ketersediaan produk dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan pengadaan pemerintah.

Selain itu, akan dilaksanakan Focus Group Discussion (FGD) bersama industri yang produknya telah memiliki sertifikat TKDN serta berpotensi memenuhi atau terdampak kewajiban sertifikasi halal.

“Sinergi antara pemenuhan TKDN dan sertifikasi halal menjadi penting untuk memperkuat daya saing produk industri dalam negeri. Produk kita tidak hanya perlu memiliki kandungan lokal yang kuat, tetapi juga harus mampu memenuhi standar dan kebutuhan konsumen. Dengan demikian, pasar produk industri dalam negeri dapat semakin luas, baik pada pengadaan pemerintah, pasar domestik, maupun pasar global,” kata Eko.

Sekjen Kemenperin menambahkan, penguatan industri halal pada akhirnya harus mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional. Karena itu, kolaborasi pemerintah, pelaku industri, akademisi, lembaga keuangan, asosiasi, serta masyarakat perlu terus diperkuat.

“Kami ingin momentum Halal Indo 2026 menghasilkan manfaat konkret bagi industri nasional. Pelaku industri harus naik kelas, pasar semakin luas, kemitraan bertambah, dan produk halal Indonesia semakin dikenal serta kompetitif di tingkat global. Dengan ekosistem yang semakin kuat, kita optimistis industri halal dapat menjadi salah satu motor pertumbuhan industri nasional,” pungkas Eko.

[Nug/red]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *