Oleh; Dr.Suriyanto.Pd.,SH.,MH.,Mkn
Burkina Faso. Nama satu negara Afrika Barat yang puluhan tahun lalu sangat miskin karena dijarah oleh asing. Hari ini mereka bangkit dengan cepat. Kuncinya satu: dipimpin seorang Kapten, Ibrahim Traoré, yang memilih kerja nyata dibanding pidato.
Pertanyaannya: Jika negara sekecil dan sekaya pengalaman dijajah itu bisa bergerak cepat, mengapa Indonesia dengan APBN ribuan triliun dan kekayaan alam melimpah masih jalan di tempat? Jawabannya ada pada keberanian memotong birokrasi gemuk dan meletakan rakyat sebagai poros utama pembangunan.
“PELAJARAN DARI BURKINA FASO – DARI JAJAHAN KE KEMANDIRIAN” Burkina Faso adalah contoh negara yang “dipaksa bangkit”. Puluhan tahun sumber dayanya disedot oleh asing. Infrastruktur hancur, rakyat miskin. Setelah dipimpin Kapten Ibrahim Traoré, narasinya berubah.
Tidak banyak janji. Fokusnya: kedaulatan pangan, tambang untuk rakyat, infrastruktur dasar, dan memotong ketergantungan pada investor asing yang menjerat. Traoré membuktikan bahwa pemimpin tidak harus banyak bicara. Yang dibutuhkan adalah komando, keberanian memutus mata rantai korupsi, dan memastikan setiap dana APBN menyentuh ke rakyat langsung.
“INDONESIA PUNYA MODAL LEBIH BESAR” Indonesia jauh lebih kaya. Kita punya laut, tambang, hutan, sawah, dan bonus demografi 280 juta jiwa. APBN kita sudah menembus ribuan triliun. Dengan modal sebesar ini, di bawah komando seorang jenderal berpengalaman seperti Presiden Prabowo, Indonesia seharusnya bisa melaju jauh lebih cepat dari Burkina Faso.
Kuncinya bukan menambah utang atau mengejar investor asing terus-menerus. Kuncinya: memutar uang negara untuk rakyat sendiri, tepat sasaran, dan tanpa bocor. Bayangkan jika dana triliunan itu tidak habis untuk membiayai lembaga yang terlalu gemuk dan tumpang tindih. Bayangkan jika proyek seperti MBG dan KDMP dikelola dengan akuntabilitas penuh, bukan jadi ladang kebocoran puluhan triliun.
PENYAKITNYA: LEMBAGA GEMUK & KEPENTINGAN KELOMPOK YANG MASIH KENTAL. Inilah penyakit kronis kita. Program sebagus apapun akan lambat jika eksekutornya sibuk mengamankan kepentingan partai, kelompok, dan rente.
Lembaga negara yang terlalu banyak justru membuat kerja tidak efisien. Kebijakan mentok di meja rapat. Anggaran habis di perjalanan birokrasi. Padahal rakyat dari Sabang sampai Merauke butuhnya sederhana: jalan, sekolah, RS, pupuk, dan harga pangan stabil. Tidak butuh 10 kementerian untuk urus satu persoalan.
JALAN KELUAR: KETEGASAN DAN KEBERPIHAKAN NYATA. Yang dibutuhkan hari ini adalah ketegasan seorang pemimpin. Tegas dalam bicara, tegas dalam bertindak. Belajar dari Traoré: singkirkan pejabat yang kerja untuk partai. Pecat kontraktor yang kerjanya mangkrak. Audit dana yang tidak sampai ke rakyat.
Presiden Prabowo punya modal itu. Pengalaman militer, pemahaman geopolitik, dan keberanian mengambil keputusan. Jika keberanian itu diarahkan 100% untuk kemakmuran rakyat, bukan untuk mengamankan oligarki, maka lompatan Indonesia akan nyata.
Burkina Faso mengajarkan 1 hal: kemiskinan bisa diputus jika negara berani memihak rakyatnya sendiri. Indonesia tidak boleh kalah. Kita harus merdeka dari ketergantungan, merdeka dari korupsi, dan merdeka dari pembangunan yang Jawa-sentris.
Semua kejadian hari ini – mulai dari program yang macet sampai uang negara yang raib – harus jadi cermin. Agar ke depan pembangunan merata, cepat, konsisten, dan dirasakan sampai pelosok. Rakyat sudah lelah dengan wacana. Yang mereka tunggu adalah bukti. Saatnya kerja nyata. Karena Indonesia layak lebih cepat maju. Dari negara asia lainnya.
*) Praktisi Hukum/Akademisi/Ketum PWRI










