Oleh: Syahril Syam *)
Apa yang selama ini sering disebut sebagai “naluri” sebenarnya, dalam banyak kasus, bukanlah naluri yang murni atau spontan. Dalam perspektif neuroscience, suara batin seperti “aku tidak bisa” atau “ini pasti gagal” seringkali merupakan hasil dari aktivitas berlebih pada Default Mode Network (DMN), yaitu jaringan otak yang aktif ketika pikiran kita mengembara ke masa lalu atau masa depan.
DMN ini bekerja dengan cara mengambil pengalaman-pengalaman emosional sebelumnya – terutama yang bersifat negatif – lalu mengolahnya menjadi pola berpikir yang berulang. Pola ini kemudian membentuk semacam “loop otomatis” atau rumination loop, yaitu kecenderungan untuk memikirkan hal yang sama berulang-ulang tanpa menghasilkan solusi baru. Akibatnya, pikiran yang muncul terasa seperti kebenaran, padahal sejatinya itu hanyalah prediksi otak berbasis masa lalu, bukan realitas yang sedang terjadi saat ini.
Dalam ilmu neuroscience, mekanisme ini dikenal sebagai predictive coding bias, yaitu cara otak memprediksi apa yang akan terjadi berdasarkan data lama untuk menghemat energi. Otak pada dasarnya tidak suka bekerja terlalu keras, sehingga ia lebih memilih mengulang pola lama daripada membangun respons baru. Di sinilah muncul kecenderungan yang disebut harm avoidance, yaitu dorongan untuk menghindari risiko atau ketidaknyamanan. Dari sudut pandang otak, ini sangat logis.
Otak dirancang untuk menjaga keselamatan, bukan untuk memastikan pertumbuhan. Ketika DMN menciptakan simulasi ancaman – meskipun ancaman itu sebenarnya kecil atau bahkan tidak nyata – sistem limbik langsung merespons dengan sinyal: “lebih baik hindari saja.” Akibatnya, seseorang mungkin tidak mengalami kegagalan, tetapi pada saat yang sama juga tidak mengalami perkembangan. Ia tetap berada di zona nyaman yang terasa aman, namun secara perlahan mempersempit kemungkinan dirinya untuk bertumbuh.
Lalu, apakah solusinya adalah selalu melakukan kebalikan dari dorongan tersebut? Dalam psikologi modern, pendekatan yang sejalan dengan ini memang ada, seperti Exposure Therapy dan Behavioral Activation, yang didasarkan pada prinsip bahwa “tindakan mendahului emosi” (action precedes emotion).
Artinya, seseorang tidak perlu menunggu merasa siap atau berani; justru dengan bertindak, emosi dan keyakinan baru akan terbentuk. Namun, pendekatan yang lebih presisi sebenarnya bukan sekadar “melakukan kebalikan”, melainkan melakukan apa yang disebut sebagai conscious opposite action – tindakan berlawanan yang dilakukan secara sadar.
Dalam kerangka Dialectical Behavior Therapy (DBT), konsep ini dikenal sebagai Opposite Action. Prosesnya tidak impulsif, tetapi sistematis. Pertama, seseorang mengidentifikasi dorongan atau emosinya, misalnya keinginan untuk menghindar.
Kedua, ia menguji apakah dorongan tersebut benar-benar didasarkan pada bahaya nyata, atau hanya ketakutan lama yang muncul kembali. Jika ternyata tidak valid, maka langkah ketiga adalah melakukan tindakan yang berlawanan secara bertahap – misalnya, dari ingin menghindar menjadi mencoba mendekat, dari ingin diam menjadi mulai berbicara, atau dari ingin menunda menjadi memulai dari langkah kecil.
Mengapa pendekatan ini terasa “radikal”? Karena pada saat yang sama, seseorang sedang melawan dua lapisan sekaligus. Secara biologis, ia melawan wiring lama di otaknya – kebiasaan neural yang sudah terbentuk dan cenderung mempertahankan dirinya (neuroplastic inertia). Secara eksistensial, ia juga sedang berpindah dari posisi pasif – yang dikendalikan oleh pola otomatis – menjadi subjek aktif yang memilih arah hidupnya. Dalam kerangka Self Awareness Transformation (SAT) dan filsafat Mulla Sadra, ini dapat dipahami sebagai sebuah lompatan dalam tingkat wujud: dari sekadar bereaksi terhadap dorongan, menjadi sadar dan menentukan respons secara sengaja.
Pada akhirnya, kunci dari seluruh proses ini bukan sekadar melakukan “kebalikan” dari dorongan lama. Yang paling menentukan justru adalah kesadaran yang mendahului tindakan. Menyadari pola adalah langkah awal, tetapi transformasi sejati terjadi ketika kesadaran itu diwujudkan dalam tindakan yang disengaja. Di titik inilah seseorang tidak lagi sekadar hidup berdasarkan masa lalunya, tetapi mulai membentuk realitas barunya secara aktif.
Ada satu titik krusial yang sering terlewat: pendekatan “melakukan kebalikan” bisa menjadi sangat kuat, tetapi juga berbahaya jika disalahpahami. Jika seseorang melakukannya tanpa kesadaran, tindakan tersebut bisa berubah menjadi impulsif, bahkan melawan intuisi yang sebenarnya benar.
Dalam beberapa kasus, orang justru memaksakan diri terlalu jauh (overexposure), sehingga bukan bertumbuh, tetapi mengalami kelelahan mental (burnout) atau bahkan mengulang luka lama. Karena itu, prinsip yang lebih tepat bukanlah ekstrem, melainkan progresif dan adaptif – bertahap, terukur, dan tetap terhubung dengan kesadaran diri.
Untuk memahami ini dengan presisi, kita perlu membedakan dua sumber dorongan dalam diri manusia: yang bersifat reaktif dan yang bersifat reflektif. Dorongan reaktif umumnya berasal dari pola lama yang tersimpan di otak, khususnya melalui aktivitas Default Mode Network (DMN). Dorongan ini muncul cepat, otomatis, dan biasanya bernuansa takut, sempit, serta defensif. Ia sering mengambil referensi dari masa lalu – misalnya pengalaman gagal – lalu memproyeksikannya ke masa kini seolah-olah akan terulang kembali. Ketika muncul pikiran seperti “jangan coba, nanti gagal lagi,” itu bukan intuisi, melainkan memori emosional yang aktif kembali dalam bentuk prediksi otomatis.
Sebaliknya, intuisi yang valid memiliki karakter yang sangat berbeda. Ia tidak muncul dengan kepanikan, melainkan dengan ketenangan. Rasanya lebih jernih, luas, dan tidak memaksa, meskipun seringkali tetap menantang. Intuisi tidak selalu nyaman, tetapi juga tidak menimbulkan ketakutan berlebihan. Ada kualitas batin yang terasa “tepat”, meskipun sulit dijelaskan secara logis. Misalnya, dorongan seperti “ini memang menantang, tapi penting untuk aku lakukan” biasanya bukan reaksi, melainkan hasil integrasi antara kesadaran, pengalaman, dan nilai yang lebih dalam.
Agar tidak keliru membedakan keduanya, kita bisa menggunakan tiga parameter sederhana sebagai alat diagnosis cepat. Pertama adalah energi emosi. Jika dorongan disertai rasa panik, cemas, dan menyempitkan diri, besar kemungkinan itu berasal dari pola lama. Sebaliknya, jika emosinya relatif tenang, stabil, dan terasa “grounded”, maka itu lebih dekat pada intuisi.
Kedua adalah arah dorongan. Jika dorongan mengarah pada penghindaran, penundaan, atau membuat diri semakin kecil, itu indikasi pola lama. Namun jika ia mengarah pada pertumbuhan – meskipun terasa tidak nyaman – itu cenderung merupakan intuisi. Ketiga adalah kualitas pikiran. Pikiran yang absolut dan negatif seperti “aku selalu gagal” hampir selalu berasal dari bias kognitif, sedangkan pikiran yang lebih jernih dan spesifik seperti “aku perlu persiapan lebih” menunjukkan proses reflektif yang sehat.
Ada juga satu pertanyaan sederhana namun sangat jujur yang bisa digunakan sebagai kompas batin: “Jika aku tidak takut, apa yang akan aku lakukan?” Pertanyaan ini bekerja karena ia menyingkirkan lapisan ketakutan yang seringkali mendistorsi persepsi. Jawaban yang muncul biasanya lebih berani, lebih jujur, dan lebih selaras dengan nilai diri. Dalam banyak kasus, itulah arah intuisi yang sebenarnya.
Jika dilihat dari sudut pandang neuroscience, proses ini dapat dipahami sebagai pergeseran kendali dari Default Mode Network (yang cenderung memutar ulang masa lalu dan menghasilkan rumination serta avoidance) menuju prefrontal cortex, yaitu bagian otak yang berperan dalam evaluasi rasional, pengambilan keputusan, dan kontrol diri. Dengan kata lain, praktik ini bukan tentang mematikan “naluri”, tetapi tentang menempatkan kesadaran sebagai pengarah utama.
Dalam kerangka filsafat Mulla Sadra dan pendekatan Self Awareness Transformation (SAT), pembedaan ini menjadi lebih dalam maknanya. Dorongan yang menyesatkan dapat dipahami sebagai gerak dari nafs pada tingkat rendah – reaktif, defensif, dan cenderung menurunkan kualitas wujud. Sementara intuisi yang valid berasal dari integrasi akal dan qalb yang lebih jernih – bersifat sadar, terarah, dan membawa pada peningkatan eksistensi.
Namun, tetap ada satu kehati-hatian penting: tidak semua ketidaknyamanan adalah tanda bahwa kita berada di jalur yang benar. Di sini perlu dibedakan antara overwhelm dan growth discomfort. Overwhelm adalah kondisi ketika tuntutan terlalu besar dibanding kapasitas saat ini – ini justru kontraproduktif. Sedangkan growth discomfort adalah ketidaknyamanan yang masih bisa ditoleransi, yang menantang tetapi tetap memungkinkan untuk dijalani secara bertahap.
Dengan demikian, prinsip yang paling sederhana namun mendalam bisa dirumuskan seperti ini: jika suatu dorongan membuat diri mengecil, itu kemungkinan besar berasal dari pola lama; tetapi jika dorongan itu mengarahkan pada pertumbuhan – meskipun tidak nyaman – maka itu adalah arah kesadaran. Tantangannya bukan memilih yang paling mudah, tetapi mengenali dengan jernih mana yang benar-benar berasal dari ketakutan, dan mana yang berasal dari kesadaran yang sedang mengajak kita naik ke tingkat wujud yang lebih tinggi.
@pakarpemberdayaandiri












