Puasa Bisa Menjadi Cara Efektif untuk Melatih Keikhlasan

Dr. Suriyanto Pd.,SH.,MH.,M.Kn

Catatan Dr. Suriyanto Pd.,SH.,MH.,M.Kn *)

Tidak terasa kita telah memasuki penghujung bulan suci Ramadhan. Dalam menjalankan puasa, kita harus memahami hikmah puasa agar kita dapat menjalankan ibadah ini dengan lebih penuh kesadaran dan keikhlasan.

Puasa melatih keikhlasan karena merupakan ibadah rahasia yang hanya diketahui oleh Allah dan pelakunya. Puasa mengajarkan kita untuk ikhlas dalam menjalankan ibadah.  Puasa melatih kita untuk beraktivitas karena Allah, bukan karena ingin dilihat orang lain.

Ikhlas adalah salah satu karakter karena sifat ini mencerminkan ketulusan hati dalam setiap tindakan. Jika kita melihat manusia dalam kehidupan sehari-hari, mereka tidak hanya bertindak berdasarkan aturan atau kewajiban, tetapi juga berdasarkan niat yang berasal dari dalam diri.

Tentu saja karakter ini mesti dilatih karena ikhlas bukan sesuatu yang muncul begitu saja, tetapi perlu dilatih secara sadar agar benar-benar menjadi bagian dari karakter kita. Misalnya, ketika seseorang berbuat baik tanpa mengharapkan pujian, awalnya mungkin masih ada perasaan ingin diakui. Namun, jika ia terus melatih dirinya untuk fokus pada niat yang tulus dan mengabaikan dorongan untuk mencari penghargaan dari orang lain, lama-kelamaan keikhlasan akan menjadi bagian alami dari dirinya.

Jadi, ikhlas bukanlah sifat bawaan, tetapi keterampilan emosional dan spiritual yang bisa diperkuat dengan latihan dan kesadaran diri. Semakin kita membiasakan diri untuk berbuat dengan niat yang murni, semakin kita membangun karakter ikhlas dalam diri kita.

Orang yang ikhlas akan menjalankan semua yang diperintahkan oleh Allah swt. Dengan sepenuh hati tanpa adanya unsur paksaan. Orang yang ikhlas akan menjalankan ibadah murni semata-mata karena Allah swt. Bukan karena ingin dipuji, disanjung, ataupun ingin dilihat orang. Karena orang yang ikhlas tahu dan sadar bahwasanya untuk siapa ia melakukan amal ibadah, yakni lillahi ta’alaa. Allah SWT berfirman di dalam QS. al-An’am ayat 162-163.

“Katakanlah: Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah.” (QS. al-An’am ayat 162-163).

Ikhlas merupakan tingkat ketaqwaan tertinggi di dalam Islam dan berhubungan dengan hati seorang hamba kepada Allah SWT jalinan antara seorang hamba dengan Allah SWT ialah melalui hati. Hanya Allah yang mengetahui isi hati setiap hamba-Nya.

Keiklasan hanya dimiliki oleh orang yang beriman. Oleh karena itu, perintah puasa hanya diperuntukkan bagi mereka yang beriman. Hanya mereka yang berimanlah yang mau melaksanakan perintah ibadah puasa, karena pada kenyataanya di bulan suci Ramadhan masih banyak orang yang tidak menjalankan puasa. Padahal sudah jelas perintah Allah SWT di dalam al-Qur’an tentang puasa di bulan suci Ramadhan. Ini menandakan bahwa hanya mereka yang beriman yang mau melaksanakan perintah tersebut.

Di dalam bulan Ramadhan banyak orang yang berlomba-lomba melakukan amal kebajikan seperti tadarus al-Qur’an, Qiyaamul lail, beri’tikaf, bersedekah, dan memperbanyak dzikir. Tentu semua itu tidak akan sia-soia dan akan bernilai ibadah jika dilandasi dengan keiklasan.

Puasa bisa menjadi cara yang efektif untuk melatih keikhlasan karena ibadah ini tidak bisa dipamerkan kepada orang lain. Saat kita berpuasa, tidak ada yang tahu apakah kita benar-benar menahan lapar dan haus kecuali diri kita sendiri dan Sang Maha Sempurna. Ini mengajarkan kita untuk melakukan sesuatu bukan karena ingin dilihat atau dipuji orang lain, tetapi karena niat yang tulus. Selain itu, puasa juga melatih kita untuk mengendalikan diri dan tidak hanya mengikuti keinginan fisik semata.

Ikhlas juga punya tingkatan, dari yang paling dasar sampai yang paling tinggi. Di awal, seseorang mungkin berusaha ikhlas, tapi masih ada keinginan untuk dihargai atau dipuji orang lain. Misalnya, saat bersedekah, dalam hatinya masih berharap orang lain tahu dan mengapresiasi. Lalu ada tingkat yang lebih tinggi, dimana seseorang beribadah atau berbuat baik benar-benar hanya untuk Sang Maha Sempurna, tanpa peduli apakah ada yang melihat atau tidak. Ia mulai melakukan kebaikan secara diam-diam, tanpa harapan mendapat pujian.

Namun, tingkat tertinggi dari ikhlas adalah ketika kita benar-benar menyerahkan diri kepada Sang Maha Sempurna sepenuhnya. Tidak lagi peduli dengan penilaian manusia, tidak gelisah dengan hasil dari amal, dan menerima semua ketetapan Sang Maha Sempurna dengan tenang.

Dengan kata lain, ikhlas ialah seseorang yang beramal bukan karena manusia, tetapi semata-mata hanya untuk mencari rida Allah SWT. Oleh karena itu, jadikanlah momentum Ramadan untuk menempa dan melatih diri agar menjadi pribadi takwa dan ikhlas karena Allah. Sehingga, puasa yang kita kerjakan dapat diterima oleh Allah. Dan mereka yang melakukan amal solih atau kebaikan lainnya namun tidak dilandasi dengan keikhlasan, maka yang ia lakukan tidak bernilai pahala di sisi Allah SWT.

*) Ketua Umum DPP Persatuan Wartawan Republik Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *