Opini, UMKM  

Rupiah Anjlok, Apa Dampak Pada UMKM?

Raden Teddy

Oleh : Raden Tedy – Wakil Ketua Umum Bidang Kewirausahaan UMKM Kadin Indonesia

Data menyatakan bahwa pemenuhan bahan baku dan bahan penolong berbagai sektor usaha, termasuk UMKM, 70% nya dari impor. Hal ini dikarenakan masih banyak bahan baku dalam negeri yang belum tersedia, atau kapasistas poduksi bahan baku dalam negeri masih belum mencukupi. Selain itu juga berbagai bahan baku impor dirasakan dari segi kualitas lebih stabil selain beberapa bahan baku impor lainnya lebih murah.

Dampak Pandemi Covid 19 belum 100% hilang, bahkan banyak UMKM yang direstrukturisasi kreditnya saat Pandemi Covid 19, kini banyak yang bertumbangan, menyebabkan kredit bermasalah sektor UMKM atau NPL nya meningkat. Hal inilah salah satu melemahnya pertumbuhan kredit UMKM dan bahkan tahun 2025 ditutup pertumbuhan yang terkoreksi dan bahkan triwulan pertama tahun 2026, ratio kredit UMKM semakin terpuruk dibandingkan kondisi kredit UMKM dalam 15 tahun terakhir.

Kondisi semakin diperburuk dengan adanya krisis global yang diawal terjadinya ketegangan (perang) antara Rusia dan Ukraina, kemudian ketegangan di Timur Tengah (Perang Irang dengan Israel dan Amerika), yang menyebabkan terjadinya inflasi global, dimana banyak negara mengalami kenaikan harga barang dan jasa akibat :

  • Lonjakan harga energi,
  • Terganggunya distribusi,
  • Biaya produksi meningkat,
  • dan permintaan tinggi pasca pandemi covid

Pertumbuhan ekonomi di banyak negara melambat, termasuk di China, United States, dan European Union. Ketika negara besar melambat, ekspor negara berkembang ikut terdampak.

Beberapa hal diatas, menjadi salah satu pemicu melemahnya rupiah terhadi Dollar Amerika Serikat dan beberapa mata uang lainnya.

Anjloknya nilai tukar rupiah, membuat banyak tekanan di dunia usaha, termasuk UMKM, yang notabene dominan bahan baku dan bahan penolong dari impor.

Dampak yang saat ini dirasakan antara lain :

  • Harga bahan baku meningkat
  • Biaya operasional membengkak
  • Daya beli masyarakat menurun
  • Penjualan UMKM semakin
  • Dan pada akhir UMKM melakukan efisiensi yang berdampak pada pengurangan tenaga

Beberapa hal yang disampaikan oleh UMKM sebagai dampak anjloknya nilai tukar rupiah, antara lain :

  • Pak Wayan dari Bali, “ Produk Mie Kelor GUD saya, masih susah naik harga, sedangkan harga bahan baku dan kemasan melambung naik.”
  • Bu Nur, “ kami UMKM kuliner imbas dari perang Timur Tengah, plastik naik tinggi hampir 50-80 persen, harga bahan baku lainnya juga naik minyak goreng, ikan, tepung dll. Harapannya Semoga ada solusinya, dan semoga UMKM bisa bertahan melewati masa ”
  • Ibu Tina,” Lebih menstabilitaskan harga bahan baku dan kemasan, dan juga edukasi ke masyarakat adanya kenaikan harga tsb akan berimbas ke ukuran yg lebih kecil dari biasanya. Yg pasti kita gak mungkin menganti bahan baku yg sdh ter pattern krn akan berefek ke kualitas. Dengan adanya sosialisasi / edukasi soal kenaikan harga, berharap konsumen memaklumi dan tdk beranjak dr kita punya Serta bilamana pemerintah jg bisa mengusahakan alternatif kemasan plastik konvensional ke bioplastik, apakah memungkinkan tanpa harga yg lebih mahal, at least harga sama sprt plastik konvensional seblm kenaikan harga.’’
  • Ibu Dwi Nurhayati,” kenaikan bahan baku yg sangat signifikan itu mempengaruhi biaya produksi. Sedangkan dari pihak kami selaku produsen bingung mau naikkan harga barang ke buyer. Itu jg mempengaruhi nilai penjualan. Yang tadinya biasa terima order banyak sekarang jadi sedikit.’’
  • Ibu Belamina,’’ Yang pasti kl belanja harganya naik terus pak sedangkan kita jual hrga g bisa naik jg padahal kita belanjanya sdh di distributor.’’

Beberapa harapan UMKM yang juga disampaikan, sebagai dampak dari anjloknya nilai tukar rupiah antara lain :

  • Mengharapkan ada industri hulu dalam negeri yang dapat memenuhi kebutuhan bahan baku dan bahan penunjang UMKM, dengan kualitas stabil dan harga yang efisien, sehingga tidak bergantung pada bahan baku impor.
  • Agar Pemerintah dan pihak lainnya lebih banyak membeli produk
  • Kiranya Pemerintah segera dapat menstabilkan kondisi ekonomi yang saat ini
  • Membantu UMKM dalam promosi produk UMKM bahkan untuk penjualan ekspor, tanpa hambatan regulasi ekspor.
  • dll

Ditengah tertekannya UMKM, namun dibalik kondisi ini, ada cukup besar Peluang UMKM yang dapat dioptimalkan antara lain :

  • Produk UMKM lokal, dengan menggunakan bahan baku dalam negeri akan semakin dapat bersaing dengan produk impor.
  • Peluang ekspor yang terbuka lebar, ditengah melemahnya nilau tukar

Masih banyak UMKM dengan kompetensi rendah dalam bidang ekspor, yang membutuhkan sinergi dan bantuan Pemerintah dan pihak usaha besar lainnya, didalam optimalisasi ekspor produk UMKM.

Kadin Indonesia, sebagai wadah pembinaan dan pengembangan pengusaha, telah berkonstri banyak didalam pembinaan dan pengembangan UMKM. Secara rutin memberikan kompetensi ekspor pada pengusaha UMKM serta banyak pengusaha UMKM dapat berkomunikasi langsung dengan berbagai diaspora diberbagai negara lainnya. Literasi Digitalalisasi, sebagai bagian solusi dalam menyikapi kondisi saat ini, dengan program mentoring UMKM Naik Kelas.

Tentu berbagai permasalahan dan harapan UMKM sebagai dampak anjloknya nilai tukar rupiah menjadi perhatian seksama Kadin Indonesia didalam menyikapi dan memberikan solusi, sebagai bagian mitra strategis Pemerintah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *