MAJALAHCEO.co.id, Jakarta – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) menyoroti kinerja perusahaan-perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dinilai belum optimal.
Managing Director Stakeholder Management and Communication Danantara Rohan Hafas mengungkap, Salah satu penyebab utamanya adalah struktur bisnis yang terlalu kompleks karena memiliki banyak anak, cucu, bahkan cicit usaha
“ Keberadaan terlalu banyak entitas di bawah satu ekosistem BUMN justru memunculkan inefisiensi struktural dan memperlambat proses bisnis. Banyak anak, cucu, dan cicit usaha BUMN malah membuat inefisiensi. Bukannya menambah nilai, justru menambah beban biaya,” kata Rohan Hafas di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (31/10/2025) lalu.
Kondisi ini, kata Rohan, menciptakan rantai suplai yang panjang dan berbelit. Dalam praktiknya, setiap tahap bisnis dikelola oleh entitas berbeda sehingga membutuhkan koordinasi yang rumit dan biaya tambahan pada setiap level.
“Idealnya, rantai suplai efisien dari produksi sampai pelanggan akhir. Namun, kalau tiap tahap dipegang anak usaha berbeda, proses jadi lambat dan mahal,” ujar Rosan.
Rohan juga mengaku heran dengan kebijakan masa lalu yang cenderung memperbanyak anak usaha tanpa arah yang jelas.
“Enggak tahu dahulu arahnya ke mana, tetapi seolah punya banyak anak perusahaan itu jadi kebanggaan,” sindirnya.
Untuk mengatasi masalah ini, kata Rohan, Danantara telah menyiapkan peta jalan efisiensi pengelolaan BUMN. Salah satu fokus utama adalah mengurangi jumlah perusahaan pelat merah yang saat ini mencapai sekitar 1.063 entitas.
Langkah yang akan diambil antara lain adalah konsolidasi dan penggabungan perusahaan yang memiliki sektor bisnis serupa.
“Pokoknya akan disatukan sesuai jenis usahanya. Misalnya, hotel-hotel milik PT Hotel Indonesia Natour dan PT Patra Jasa akan dikonsolidasikan,” jelas Rohan.
Rohan menambahkan, konsolidasi ini diharapkan dapat memangkas struktur bisnis yang berlapis, mempercepat pengambilan keputusan, dan meningkatkan efisiensi biaya agar BUMN bisa lebih produktif serta kompetitif.
“Dari 1.063 perusahaan, nanti pelan-pelan akan menyusut,” pungkas Rohan, seperti dilansir dari Beritasatu.com, Minggu (2/11/2025) sore
(jgd/red)












