Apakah Hanya Cukup Pelatihan “How To” Badi UMKM?

Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam *)

Penulis pernah mendengar langsung seseorang berkata bahwa untuk meraih sukses, kita tidak butuh pelatihan motivasi – yang dibutuhkan hanyalah pelatihan tentang “cara melakukannya” atau “how to”. Pernyataan ini terdengar logis, tapi sebenarnya kurang lengkap. Mengetahui cara melakukan sesuatu belum tentu membuat seseorang benar-benar melakukannya.

Dalam ilmu psikologi dan neurosains, sudah banyak bukti bahwa pengetahuan saja tidak cukup untuk mendorong tindakan. Seseorang bisa tahu langkah-langkah untuk hidup sehat, misalnya – seperti makan bergizi, rutin berolahraga, dan tidur cukup – tapi tetap saja sulit melakukannya tanpa dorongan emosional yang kuat. Itulah sebabnya motivasi tetap dibutuhkan: bukan untuk sekadar menambah semangat sesaat, tapi untuk menyentuh sisi dalam diri – hati dan bawah sadar – yang membuat seseorang merasa bahwa tindakan itu penting dan layak dilakukan sekarang. Jadi, pelatihan tentang “how to” memang penting, tetapi tanpa dorongan emosional yang membuat seseorang ingin bertindak, pengetahuan itu hanya akan menjadi informasi yang tidak dipakai.

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan oleh Mochklas dkk. (2023) mengungkapkan bahwa pelatihan yang diberikan kepada pelaku UMKM di Kecamatan Bulak, Surabaya, memang berdampak positif terhadap produktivitas mereka. Namun yang lebih menarik, penelitian ini menemukan bahwa motivasi kerja berperan sebagai mediator. Artinya pelatihan tersebut akan lebih efektif meningkatkan produktivitas jika motivasi kerja pelaku UMKM juga tinggi.

Tanpa dorongan motivasi yang kuat, pengetahuan dan keterampilan dari pelatihan cenderung tidak sepenuhnya diaplikasikan dalam praktik bisnis sehari-hari. Jadi, motivasi kerja berperan sebagai jembatan yang menghubungkan antara pelatihan dan hasil nyata dalam produktivitas. Kalau pelatihannya bagus tapi semangat kerjanya rendah, maka ilmu dari pelatihan itu belum tentu dipakai sepenuhnya. Tapi kalau semangat kerjanya tinggi, maka ilmu dari pelatihan akan lebih cepat diterapkan dan hasil usahanya pun lebih berkembang. Singkatnya, motivasi kerja membuat pelatihan jadi lebih efektif.

Motivasi kerja dapat dipahami sebagai dorongan dari dalam diri seseorang yang membuatnya tetap semangat, tekun, dan konsisten dalam menjalankan aktivitas usahanya. Bagi pelaku UMKM, motivasi ini sangat penting karena menjadi bahan bakar untuk terus bertahan dan berkembang di tengah berbagai tantangan bisnis. Motivasi tersebut bukan hanya soal keinginan untuk sukses, tetapi juga mencakup semangat belajar hal baru, rasa tanggung jawab terhadap usaha yang dijalankan, serta tekad kuat untuk mencapai tujuan usaha.

Karena itulah, pelatihan yang diberikan kepada pelaku UMKM sebaiknya tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis seperti cara mengelola keuangan atau pemasaran (how to), tetapi juga perlu dirancang agar mampu menumbuhkan dan memperkuat motivasi kerja. Ketika motivasi kerja tinggi, pelaku UMKM akan lebih gigih dalam menjalani proses, lebih kreatif dalam mencari solusi, dan memiliki daya saing yang lebih kuat dalam mengembangkan usahanya secara berkelanjutan.

Bayangkan seorang pelaku UMKM bernama ibu Fulana. Ia mengikuti pelatihan tentang cara mengelola keuangan usaha dan membuat strategi pemasaran digital. Ia mencatat semua materi dengan rapi dan bahkan merasa kagum dengan ilmu yang diberikan. Namun, sepulang dari pelatihan, Ibu Fulana tidak segera mempraktikkannya. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena dalam dirinya belum tumbuh dorongan kuat untuk berubah. Ia belum merasa penting untuk mencoba sesuatu yang baru, belum merasa yakin bahwa perubahan itu akan berdampak besar bagi usahanya. Motivasi dalam dirinya belum menyala.

Jadi, penelitian tersebut menunjukkan bahwa motivasi kerja adalah semacam “bahan bakar emosional” yang mendorong seseorang untuk menggerakkan ilmu menjadi tindakan. Tanpa adanya rasa percaya, semangat, atau tujuan yang dirasa bermakna secara pribadi, pelatihan hanya akan berhenti di catatan, tidak berlanjut ke perubahan nyata di lapangan.

Maka, jika kita ingin pelatihan benar-benar berdampak bagi pertumbuhan UMKM, kita tidak bisa hanya fokus pada isi materi, tetapi juga perlu menyentuh hati dan emosi pelaku usahanya – agar mereka tidak hanya tahu, tapi juga mau dan mampu untuk bertindak. Di sinilah peran motivasi kerja menjadi sangat penting – ia bekerja sebagai penghubung atau jembatan yang menentukan apakah pelatihan tersebut benar-benar membawa dampak nyata atau tidak.

Pelatihan motivasi berbasis emosi – atau yang kami sering sebut juga pelatihan berbasis hati – memiliki peran penting dalam membentuk semangat dan daya juang pelaku UMKM. Dalam kajian psikologi dan perilaku manusia, diketahui bahwa motivasi tidak hanya muncul dari logika atau informasi yang masuk ke kepala, tetapi justru sangat dipengaruhi oleh emosi dan keterlibatan batin seseorang. Dengan kata lain, orang akan lebih terdorong untuk bertindak bukan hanya karena mereka tahu caranya, tapi karena mereka merasakan alasan yang kuat dan bermakna di dalam hati untuk melakukannya.

Pelatihan ini membantu peserta terhubung dengan nilai pribadi mereka, tujuan hidup, dan arti penting dari perjuangan mereka dalam berwirausaha. Ketika seseorang merasakan bahwa usahanya berarti, bahwa ia sedang memperjuangkan sesuatu yang bernilai bagi keluarganya, komunitasnya, atau masa depannya, maka dorongan dari dalam diri itu menjadi kekuatan yang luar biasa untuk tidak mudah menyerah.

Oleh karena itu, agar pelatihan UMKM lebih efektif dan berdampak jangka panjang, pendekatannya perlu diperluas: tidak hanya mengajarkan “apa” dan “bagaimana”, tetapi juga membantu peserta menemukan “mengapa ini penting bagi saya secara emosional”. Pelatihan seperti ini bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menyentuh dan menyalakan semangat, sehingga pelaku UMKM lebih kuat secara mental dan emosional dalam menghadapi tantangan dunia usaha.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *