Oleh: Syahril Syam *)
Suatu hari anak curhat terkait sebuah masalah dengan temannya. Walau dianya berada dalam posisi benar, rasa kesal itu tetap saja ada. Namun setelah rasa kesal itu dilepaskan, maka tibalah waktunya untuk terus mempertahankan kenyataan mental yang konstruktif, yaitu terus berbuat baik. Karena dalam kebanyakan kasus, ketika seseorang berselisih dengan temannya atau orang lain, maka yang terjadi biasanya adalah dua hal pada kenyataan mentalnya, yaitu rasa marah, kesal, dan sejenisnya yang masih terus bercokol, dan yang kedua sulitnya mempertahankan kenyataan mental yang konstruktif sehingga motivasi untuk terus berbuat baik kepada teman atau orang lain tersebut sangat sulit dilakukan. Masih ada perasaan enggan untuk terus berbuat baik kepada teman atau orang lain yang telah berselisih sebelumnya.
Seperti yang telah kami sampaikan bahwa kenyataan mental adalah kenyataan internal diri kita. Bisa berupa perasaan atau gambaran mental yang hadir di mental kita. Karena perasaan dan gambaran mental yang hadir tidaklah terpisah dari diri kita, maka diri kita dan perasaan yang kita rasakan atau gambaran mental menyatu. Subjek yang mengetahui dan yang diketahui menyatu dan tidak terpisahkan. Dan karena diri kita yang mengetahui dengan subjek yang diketahui menyatu, maka kenyataan mental menggambarkan tentang diri kita sendiri. Sehingga saat marah, jengkel, atau bahagia, maka seperti itulah diri kita. Kenyataan mental adalah diri kita sendiri apa adanya yang sesuai dengan kenyataan mental tersebut.
Makanya sikap dan tindakan kita ditentukan oleh kenyataan mental kita sendiri. Saat kenyataan mental dipenuhi kemarahan dan kejengkelan, maka sikap dan tindakan pun cenderung bersifat menghindari dan memusuhi teman yang pernah berselisih. Bahkan ketika seseorang mengatakan bahwa ia telah memaafkan perlakuan temannya, tapi jika ia masih cenderung menghindar dan canggung dalam bersikap, maka pada dasarnya kenyataan mentalnya masih belum berubah. Kenyataan mentalnya masih menyimpan berbagai perasaan destruktif dan belum move on dari peristiwa perselisihan tersebut.
Karena di kenyataan mental ada diri kita yang mengetahui dan subjek yang diketahui (perasaan dan gambaran mental), maka untuk mengubah diri, kita semestinya mengubah subjek yang diketahui tersebut. Kita mesti belajar mengubah perasaan dan gambaran mental destruktif menjadi perasaan dan gambaran mental konstruktif. Sehingga walau muncul rasa marah, kesal, dan jengkel saat berselisih dengan seseorang, kita akan kembali tetap berbuat baik kepada teman kita tersebut karena perasaan destruktif telah berubah menjadi konstruktif dan gambaran mental kita yang bersifat konstruktif tetap dipertahankan.
Itulah sebabnya, kita mesti memiliki gambaran mental yang konstruktif dan bersifat permanen agar kenyataan mental konstruktif kita bisa terus dipertahankan. Kisah Nabi Muhammad SAW yang sangat pemaaf atau kisah keluarga putrinya Sayyidah Fatimah Az-Zahra yang pengasih kepada sesama adalah bentuk-bentuk gambaran mental yang selayaknya kita tanam kuat di kenyataan mental kita. Agar ketika kita mengalami peristiwa yang tidak nyaman dengan keluarga, teman, atau orang lain, kita segera melepaskan perasaan destruktif yang dirasakan dan tetap mempertahankan kenyataan mental konstruktif, yang dengan ini membuat kita terus berbuat baik walau pernah mengalami peristiwa yang tidak nyaman sebelumnya. Dalam kisah anak di atas, setelah dianya melepaskan perasaan destruktifnya, alhamdulillah, dianya pun tetap berbuat baik kepada temannya dan mereka pun kembali berteman seolah tak pernah terjadi kejadian yang tidak nyaman sebelumnya.
@pakarpemberdayaandir












