Oleh : Syahril Syam *)
Di dunia tidak ada yang pasti dan statis. Segala sesuatu berada dalam proses transformasi. Setiap fenomena di dunia ini bergerak ke arah kesempurnaannya sendiri dan bergerak atas dasar hukum alam dan esensialnya sendiri. Hari ini adalah pohon dan kemarin adalah benih. Sebelumnya adalah embrio dan hari ini adalah janin, yang kemudian menjadi bayi saat dilahirkan nanti.
Semua siklus ini akan terus berlanjut tanpa ada yang kurang sedikitpun dalam proses transformasinya. Sehingga transformasi dapat diartikan sebagai “proses menjadi”; dimana terjadi gerak substansi, yaitu perubahan gradual atau keluarnya sesuatu secara gradual dari alam potensial kepada alam aktual, dimana gerakan adalah perkara eksistensial (proses menjadi) dimana sesuatu melalui perantaranya secara gradual keluar dari kondisi potensial menuju kondisi aktual.
Jika dicermati, transformasi ini mengakibatkan kontradiksi dan dualisme. Janin yang ingin menjadi bayi yang dilahirkan harus meninggalkan kondisi janinnya demi menyempurnakan perubahannya. Untuk menjadi pohon, benih harus keluar dari kulitnya.
Untuk memiliki gigi yang permanen dan sempurna, seorang anak kecil harus kehilangan gigi bayinya. Anak muda yang ingin merdeka dalam memutuskan kehidupannya, harus mengurangi ketergantungan kepada keluarganya dan menerima tanggung jawab yang dibutuhkan untuk merdeka. Artinya seluruh transformasi ini terikat dengan penderitaan konstruktif.
Setiap kali kita bertransformasi, maka kita harus berani untuk merasakan derita meninggalkan hari ini demi masa depan. Tidak ada orang yang bisa memiliki tubuh yang berotot dan berbentuk bagus, tanpa merasakan pedihnya latihan-latihan keras dan menahan sakitnya timbunan asam laktat di dalam ototnya. Seperti halnya tidak ada benih yang berubah menjadi pohon berbuah tanpa mengoyak keadaan sebelumnya.
Begitu pula calon kupu-kupu harus tinggal di dalam kepompong selama waktu tertentu untuk akhirnya mengoyak kepompongnya dan keluar menjadi kupu-kupu yang indah. Dalam pengertian ini, tidak ada gerakan dan kontak yang mungkin terjadi tanpa penderitaan dan kebebasan dari kondisi sebelumnya.
Seorang ahli hikmah mengatakan, “Jika tidak ada kontradiksi, rahmat Allah Yang Maha Pengasih tidak akan diperoleh.” Artinya untuk memperoleh rahmat kesempurnaan, kita harus berkontradiksi dengan keadaan sebelumnya. Saat seorang pelajar ingin menjadi mahasiswa kampus, mesti menerima kepedihan jauh dan terpisah dari teman-teman sekolah menengahnya guna membangun kontak dengan teman-teman baru dan lingkungan baru. Untuk bisa berhasil pun mesti melewati pedihnya ketekunan belajar.
Dan ketika kita melihat ke dalam otak, selalu tersedia jalur saraf baru bagi kita saat melakukan hal-hal baru. Dengan kata lain, setiap kali kita bertransformasi ke arah yang lebih baik, otak kita pun akan selalu berubah. Susunan saraf baru akan terbentuk dan membentuk struktur baru otak. Potensi otak dalam mengubah strukturnya pun tak terbatas, sehingga kita bisa terus melakukan transformasi diri di sepanjang usia kita. Dan karenanya diperlukan usaha dan kesiapan mental seumur hidup, agar bisa menanggung derita konstruktif saat melakukan transformasi.
@pakarpemberdayaandiri












