Oleh: Syahril Syam *)
Baik ulama akhlak maupun para psikolog di kalangan psikologi positif, sama-sama meyakini bahwa tujuan kehidupan manusia adalah kebahagiaan. Yang berbeda dari keduanya adalah definisi dan cara dalam meraih kebahagiaan. Namun pada prinsipnya semua menyepakati bahwa ciri manusia yang bahagia adalah ketika jiwanya berada dalam kondisi yang tenang. Al-Qur’an pun menggambarkan jiwa yang tenang sebagai jiwa (diri) yang diridhai oleh-Nya [Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai (QS 89:27-28)]. Ini berarti bahwa jiwa yang tenang adalah tujuan kita sekaligus juga merupakan jiwa (diri) yang bahagia.
Lawan dari jiwa yang tenang adalah jiwa yang gelisah. Dan ini telah terjadi pada diri kita sewaktu lahir ke dunia. Semua bayi merasa gelisah ketika lapar dan haus hingga kemudian menangis sebagai isyarat bahwa ia membutuhkan makanan. Artinya kegelisahan yang dialami seseorang, terjadi karena keinginan dan hasrat yang selalu diharapkan untuk terwujud.

Manusia diberi hasrat untuk makan, minum, seks, dan menginginkan benda-benda. Ketika hasratnya terwujud maka menjadi senang, dan ketika tidak terwujud menjadi gelisah. Maka wajar jika disebutkan bahwa manusia cenderung didorong oleh rasa takut dan tamak.
Pertama, takut hidup tanpa uang memotivasi seseorang untuk bekerja keras, dan kemudian setelah mendapat slip gaji, ketamakan atau nafsu mengajaknya untuk mulai berpikir tentang semua hal indah yang bisa di beli dengan uang.
Berada di dua kondisi itulah (takut dan besarnya hasrat) yang selalu membuat manusia merasa gelisah. Dan kemudian berkembang menjadi kekhawatiran akan masa depan, dan penyesalan akan masa lalu.
Melalui mekanisme inilah, akhirnya membuat manusia masuk ke dalam jurang kegelisahan yang lebih dalam hingga pada level cemas dan depresi. Hal ini semakin diperparah oleh keinginan yang besar untuk bisa mengontrol segalanya. Sehingga ketika ada sesuatu dimana merasa tidak bisa mengontrolnya, maka kegelisahan pun semakin intens.
Alhasil semua yang ada di dunia ini tidak lagi menjadi alat dalam meraih ketenangan, melainkan telah menjadi pemicu hadirnya berbagai jenis kegelisahan. Kebiasaan gelisah sejak kecil inilah yang paling sering dibawa oleh kebanyakan orang hingga dewasa. Yang akhirnya berkembang menjadi berbagai jenis kegelisahan yang semakin akut. CEO otaknya tidak lagi difungsikan untuk mengelola emosi, melainkan kecenderungan emosionalnya yang telah menguasai dirinya. Jika ini yang terjadi, maka sesungguhnya level jiwanya tetap berada di tempat, walau ia mengalami perjalanan usia.
Padahal seharusnya yang terjadi pada diri kita adalah seiring dengan bertambahnya usia, yang dengan itu berbagi kekuatan diri dan otak kita semakin matang, maka sudah semestinya digunakan untuk meningkatkan level keyakinan kita terhadap Sang Maha Sempurna. Belajar untuk melepaskan arogansi diri yang selalu ingin mengontrol segalanya ke ketundukkan dan ketaatan mutlak kepada Sang Maha Sempurna. Jadi perjalanan hidup adalah momen bagi kita untuk memindahkan sandaran hati dari mengandalkan kekuatan diri sendiri ataupun makhluk lainnya ke bersandar sepenuhnya kepada Sang Maha Sempurna.
Karena hanya dengan memindahkan tempat sandaran, kita baru bisa menggerakan level jiwa kita. Dari jiwa yang gelisah ke perlahan-lahan menuju jiwa yang tenang. Karena itu, semakin besar level keyakinan (keimanan) kita kepada Sang Maha Sempurna, maka semakin intens pula pergerakan hati kita menuju ke hati yang tenang. Bukankah kita akan selalu merasa tenang ketika punya tempat sandaran yang bisa diandalkan? Maka tempat sandaran yang paling baik adalah bersandar kepada Sang Maha Sempurna, dimana kita belajar untuk tunduk dan taat kepada-Nya.
Makanya wajar jika jiwa yang tenang itu senantiasa merasa ridha dengan segala ketetapan-Nya dan Sang Maha Sempurna pun ridha dengan diri kita yang telah berada di level ketenangan yang sesungguhnya. Jadi faktor utama yang menjadi penentu ketenangan dan kebahagiaan diri adalah kepada siapa hati kita bersandar?
@pakarpemberdayaandiri






