UPNVJ Dorong Sampah Jadi Sumber Daya, Perkuat Ekonomi Sirkular dan Ketahanan Pangan

BOGOR, KINERJAEKSELEN.co  — Sampah rumah tangga tidak harus berakhir sebagai persoalan lingkungan. Jika dipilah dan dikelola dengan baik, sampah justru dapat kembali menjadi sumber daya yang memiliki manfaat ekonomi sekaligus mendukung ketahanan pangan masyarakat.

Semangat inilah yang dibawa tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) melalui program “Optimalisasi Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas untuk Mengurangi Emisi di Kabupaten Bogor.”

Kegiatan PkM UPNVJ ini diketuai Dr. Freesca Syafitri, Dipl.-Kffr., S.E., M.A. dengan anggota Ullya Vidriza, S.E, M.Si, Muhammad Farras Hanif, S.Si., M.Sc.IBF, Triana Septiani, S. Ikom., M.E.

Program yang dilaksanakan melalui skema PkM Percepatan Pembangunan Daerah ini dirancang berlangsung selama 12 bulan, dengan lokasi sasaran di RW 10 Kelurahan Puspanegara serta Kelompok Taman Berdikari B2SA Kebon Asri, Kelurahan Pabuaran, Cibinong, Kabupaten Bogor.

Program berangkat dari kondisi baseline yang menunjukkan timbulan sampah di lokasi sasaran sekitar 569,5 kilogram per hari. Lebih dari separuhnya atau sekitar 52,6% merupakan sampah organik, sementara plastik dan kertas juga memiliki porsi yang cukup besar. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah sebenarnya menyimpan potensi besar apabila pengelolaannya dimulai dari sumber.

“Sampah tidak selalu menjadi masalah. Ketika dicampur, sampah kehilangan nilainya. Tetapi ketika dipilah dan dikelola dengan benar, sebagian sampah dapat kembali menjadi sumber daya yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Dr. Freesca Syafitri, Dipl.-Kffr., S.E., M.A., Ketua Pelaksana kegiatan PkM UPNVJ.

Melalui kegiatan ini, masyarakat didorong untuk menerapkan langkah sederhana yang dimulai dari rumah, yakni memilah sampah organik, anorganik, dan residu. Sampah anorganik yang masih memiliki nilai dapat dikelola melalui bank sampah, sementara sampah organik diarahkan untuk diolah menjadi kompos. Residu yang tidak dapat dimanfaatkan kembali juga didorong memiliki jalur pengelolaan yang lebih jelas, termasuk potensi pemanfaatannya sebagai Refuse-Derived Fuel (RDF). Pendekatan tersebut sekaligus memperkuat pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir.

Yang menarik, pengolahan sampah organik tidak berhenti pada upaya mengurangi volume sampah. Kompos yang dihasilkan dimanfaatkan sebagai pupuk bagi tanaman pangan dan hortikultura yang dikelola warga Kelompok Taman Berdikari B2SA Kebon Asri. Hasil tanaman tersebut selanjutnya dapat dimanfaatkan bersama oleh masyarakat. Dengan pola ini, sampah organik rumah tangga dikembalikan ke dalam siklus produksi sebagai sumber daya produktif, sehingga pengelolaan sampah terhubung langsung dengan penghijauan lingkungan, pemanfaatan lahan komunitas, dan penguatan ketahanan pangan masyarakat.

Konsep tersebut menjadi bentuk sederhana penerapan ekonomi sirkular di tingkat komunitas: sampah organik → kompos → tanaman → pangan → manfaat kembali kepada warga. Dengan demikian, dampak program tidak hanya diukur dari berkurangnya sampah yang dibuang, tetapi juga dari terciptanya manfaat lingkungan, sosial, dan ekonomi secara berkelanjutan.

Selain edukasi dan praktik pengelolaan sampah, program juga diarahkan pada penguatan bank sampah dan waste center, peningkatan kualitas pemilahan material, sistem penimbangan dan pencatatan yang lebih tertib, serta penguatan akses terhadap pengepul atau offtaker. Langkah ini penting agar material daur ulang tidak hanya terkumpul, tetapi juga mempunyai kualitas dan volume yang mampu memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.

Sebagai bagian dari intervensi program, tim UPNVJ juga memberikan dukungan peralatan untuk membantu masyarakat mengimplementasikan pengelolaan sampah secara lebih efektif. Namun, bantuan alat ditempatkan sebagai sarana pendukung, bukan tujuan akhir kegiatan. Fokus utama program adalah membangun pengetahuan, kebiasaan, kapasitas kelembagaan, dan komitmen masyarakat agar sistem tetap berjalan setelah kegiatan pendampingan selesai.

“Kami berharap setelah program selesai, yang tertinggal bukan hanya alat, tetapi juga pengetahuan, kebiasaan baru, dan sistem yang dapat terus dijalankan masyarakat. Keberhasilan PkM bukan diukur dari ramainya kegiatan pada satu hari, tetapi dari perubahan yang masih berjalan beberapa bulan bahkan beberapa tahun setelahnya,” kata Freesca.

Kegiatan ini turut melibatkan Kelompok Taman Berdikari B2SA Kebon Asri serta memperoleh dukungan dari DPD ASOBSI Kabupaten Bogor. Kolaborasi antara perguruan tinggi, komunitas, kelembagaan lokal, dan masyarakat menjadi bagian penting untuk memastikan pengelolaan sampah tidak berhenti sebagai gerakan sesaat, tetapi berkembang menjadi model pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.

Melalui program selama 12 bulan tersebut, UPNVJ menargetkan terbentuknya model pengelolaan sampah berbasis komunitas yang menghubungkan perubahan perilaku, ekonomi sirkular, ketahanan pangan, penguatan kelembagaan, dan pengurangan emisi. Model ini diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat di lokasi sasaran, tetapi juga dapat menjadi praktik baik yang berpotensi direplikasi di wilayah lain di Kabupaten Bogor.

[nug/rel]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *