Oleh: Syahril Syam *)
Ketika kemarahan muncul, otak tidak memprosesnya secara netral. Bagian otak yang disebut amygdala segera aktif, bekerja seperti alarm yang mendeteksi ancaman. Menariknya, ancaman yang dibaca tidak selalu berupa bahaya fisik, tetapi seringkali bersifat psikologis – seperti merasa diremehkan, tidak dihargai, atau ekspektasi yang tidak terpenuhi. Begitu amygdala menilai situasi sebagai “bahaya”, ia langsung memicu respons otomatis yang dikenal sebagai fight-or-flight (lawan atau lari).
Pada saat yang sama, bagian otak lain yang lebih rasional, yaitu prefrontal cortex – yang berfungsi untuk berpikir jernih, mempertimbangkan, dan merefleksikan – justru mengalami penurunan aktivitas. Dalam dunia neuroscience, kondisi ini dikenal sebagai amygdala hijack, istilah yang dipopulerkan oleh Daniel Goleman. Akibatnya, seseorang tidak lagi sekadar “merasakan marah”, tetapi seolah-olah “menjadi marah”, karena kendali rasionalnya melemah.
Pada level kognitif, kemarahan mengubah cara kita berpikir secara signifikan. Perhatian menjadi sangat sempit, seperti melihat dunia melalui terowongan (tunnel vision), sehingga hanya hal-hal yang mendukung kemarahan saja yang terlihat. Otak juga cenderung mencari pembenaran atas emosi tersebut, sebuah mekanisme yang dikenal sebagai confirmation bias. Akibatnya, cara kita menafsirkan situasi menjadi kaku dan hitam-putih – seolah-olah semuanya salah atau benar tanpa nuansa.
Di saat yang sama, jaringan otak yang disebut Default Mode Network (DMN) aktif mengulang-ulang narasi internal, seperti “dia memang selalu seperti ini” atau “saya diperlakukan tidak adil”. Narasi ini bukan hanya menggambarkan emosi, tetapi justru memperkuatnya. Jadi, yang terjadi bukan hanya emosi yang muncul, melainkan juga “cerita tentang emosi” yang terus diputar, sehingga kemarahan semakin dalam dan sulit dilepaskan.
Di level tubuh, kemarahan bukan hanya pengalaman mental, tetapi juga pengalaman fisik yang sangat nyata. Saat marah, tubuh melepaskan adrenalin, detak jantung meningkat, otot-otot menegang, dan napas menjadi lebih pendek serta cepat. Sistem saraf masuk ke mode sympathetic nervous system, yaitu kondisi siaga penuh untuk menghadapi ancaman.
Yang sering tidak disadari adalah bahwa sensasi-sensasi fisik ini tidak hanya mengikuti emosi, tetapi juga “memberi makan” emosi itu sendiri. Terjadi sebuah lingkaran yang saling menguatkan: emosi memicu reaksi tubuh, reaksi tubuh menghasilkan sensasi, dan sensasi tersebut kembali memperkuat emosi. Inilah sebabnya mengapa kemarahan bisa terasa semakin membesar jika tidak disadari sejak awal.
Pada level yang lebih dalam, yaitu level eksistensial atau “cara ada”, kemarahan berkaitan dengan bagaimana seseorang memposisikan dirinya terhadap pengalaman yang terjadi. Jika seseorang masih berada dalam mode reaktif, maka kesadarannya akan melekat sepenuhnya pada emosi yang muncul. Tidak ada jarak antara “diri yang mengamati” dan “diri yang marah”.
Dalam perspektif filsafat Mulla Sadra, jiwa manusia selalu bergerak dan berubah (dikenal sebagai harakah jawhariyah atau gerak substansi). Ketika seseorang mengikuti dorongan emosi tanpa kesadaran, maka arah gerak ini cenderung menurun – artinya kualitas atau intensitas keberadaannya melemah. Dalam kondisi ini, kemarahan bukan hanya sebuah peristiwa yang datang dan pergi, tetapi seolah-olah mengambil alih struktur keberadaan seseorang untuk sementara waktu. Jadi, yang terjadi bukan sekadar “saya sedang marah”, melainkan “saya adalah kemarahan itu sendiri” dalam momen tersebut.
Kemarahan terasa “menarik” untuk diikuti bukan karena ia selalu benar, tetapi karena ia memberikan sensasi psikologis yang seolah-olah menguatkan diri. Saat marah, seseorang sering merasakan adanya kuasa – meskipun sebenarnya itu adalah kuasa semu. Dalam kondisi ini, ketidakpastian yang biasanya membuat gelisah tiba-tiba digantikan oleh rasa “pasti”: siapa yang salah, siapa yang benar, dan di mana posisi diri.
Selain itu, kemarahan juga memberi identitas instan – “saya benar, dia salah” – yang membuat seseorang merasa memiliki pijakan yang jelas. Dalam kerangka yang diperkenalkan oleh David Hawkins, kemarahan memang berada di atas kondisi apatis atau putus asa, sehingga secara subjektif terasa lebih “hidup”. Namun, tetap saja ia berada dalam spektrum energi yang rendah. Justru karena terasa lebih hidup dibanding emosi lemah, kemarahan bisa menjadi adiktif – orang tanpa sadar “kembali” ke marah karena terasa lebih berenergi daripada hampa.
Yang membuat seseorang semakin mudah tenggelam adalah karena beberapa proses terjadi secara bersamaan. Pertama, otak mengaktifkan sistem alarm sehingga respons menjadi cepat dan otomatis. Kedua, pikiran membangun narasi yang mempersempit realitas – hanya sisi yang mendukung kemarahan yang terlihat.
Ketiga, tubuh memperkuat emosi melalui reaksi fisik seperti tegang dan detak jantung meningkat, yang kemudian memberi umpan balik ke emosi. Keempat, kesadaran kehilangan posisinya sebagai pengamat, sehingga tidak ada jarak antara diri dan emosi. Dalam kondisi ini, cara hadir seseorang berubah: dari yang semula “mengalami” menjadi “terseret”. Ia tidak lagi menyadari bahwa ia sedang marah, tetapi sudah berada di dalam arus kemarahan itu sendiri.
Jika pola ini terus berulang, maka kemarahan tidak lagi sekadar reaksi sesaat. Ia mulai membentuk pola. Pola yang diulang akan membentuk wiring di otak – jalur saraf yang semakin kuat dan mudah diakses. Seiring waktu, wiring ini berkembang menjadi semacam identitas sementara. Dalam bahasa sederhana: semakin sering seseorang mengikuti kemarahannya, semakin mudah kemarahan itu muncul kembali. Otak dan tubuh “belajar” bahwa ini adalah respons yang familiar, sehingga ambang pemicunya semakin rendah.
Dalam tradisi filsafat Islam, khususnya yang berkembang dalam kerangka Filsafat Mulla Sadra, kondisi ini dikenal dengan istilah malakah, yaitu kualitas jiwa yang telah menetap. Berbeda dengan kebiasaan biasa, malakah adalah disposisi yang sudah terinternalisasi dan menjadi bagian dari struktur diri. Ia bekerja secara otomatis dan konsisten, tanpa perlu banyak pertimbangan sadar. Ketika kemarahan telah menjadi malakah, maka reaksi menjadi default: tidak perlu pemicu besar, sedikit saja sudah cukup untuk memicu respons. Pada saat yang sama, kehadiran atau kesadaran reflektif semakin hilang, karena tidak ada jeda antara stimulus dan respons. Yang paling krusial, identitas mulai terbentuk – seseorang mulai berkata, “memang saya orangnya seperti ini.” Di titik ini, kemarahan tidak hanya terjadi, tetapi juga dibenarkan.
Akhirnya, terjadi pembalikan yang halus tetapi mendasar: pada awalnya, seseorang “melakukan” kemarahan sebagai respons terhadap situasi. Namun, seiring waktu, kemarahan itulah yang “melakukan” dirinya. Ia tidak lagi sepenuhnya memilih, tetapi digerakkan oleh pola yang telah tertanam. Inilah mengapa memahami dan menyadari proses ini menjadi sangat penting – karena yang dipertaruhkan bukan hanya emosi sesaat, tetapi arah pembentukan diri secara keseluruhan.
@pakarpemberdayaandiri










