MAJALAHCEO.CO.ID – Di sebuah ruang kecil di Manado, sekitar pertengahan 1980-an, seorang mahasiswa Fakultas Sastra tampak tekun mengetik di mesin ketik tua. Kalimat demi kalimat lahir dari jemarinya yang belum begitu lincah. Ia bukan sekadar menulis berita kampus; ia sedang belajar menyuarakan kebenaran.
Mahasiswa itu bernama Bernadus Wilson Lumi — kini dikenal sebagai salah satu figur berpengaruh di dunia pers nasional. “Waktu itu, saya hanya ingin menulis sesuatu yang membuat orang berpikir,” kenangnya sambil tersenyum.
Dari meja redaksi kampus Majalah Inovasi Universitas Sam Ratulangi, perjalanan panjang Wilson dimulai. Ia belajar bahwa tulisan bisa menjadi jembatan antara suara rakyat dan kekuasaan. Prinsip itu ia pegang teguh sepanjang kariernya — dari reporter lapangan di Manado hingga pemimpin redaksi di Jakarta.
Dari “Cahaya Siang” ke Cahaya Zaman Digital
Wilson memulai kiprah profesionalnya pada tahun 1988 di harian legendaris Cahaya Siang Manado. Dari jurnalis muda yang sering mengejar narasumber hingga larut malam, ia menanjak hingga dipercaya menjadi Pemimpin Redaksi pada 2009.
Saat itu, media cetak sedang menghadapi tantangan besar: era digital mulai mengguncang. Namun Wilson memilih tidak menyerah pada arus. Ia justru menyalakan kembali semangat lama Cahaya Siang dengan wajah baru — www.cahayasiang.id, portal berita digital yang mewarisi semangat pencerahan dari media ’penginjilan’ yang berdiri sejak 1869, Soerat Chabar Minahasa, Tjahaja Sijang.
Kini, ia juga menjadi CEO dan Pemimpin Redaksi Majalah CEO Indonesia yang terus berkembang dalam format e-Magazine di www.majalahceo.co.id
.
Selain itu, ia menjadi penanggung jawab di dua media nasional, www.ipol.id dan www.beritaprioritas.com, yang berfokus pada isu kebangsaan, pemerintahan, dan keberlanjutan industri pers.
Profesional, Akademisi, dan Pengabdi Negara
Meski dikenal sebagai “orang media”, Wilson tak pernah berhenti menjadi intelektual publik. Ia sempat menjadi Dosen Luar Biasa di Fakultas Sastra Universitas Sam Ratulangi, mengajarkan pentingnya berpikir kritis dan menulis dengan tanggung jawab sosial.
Pada tahun 2010, keahliannya di bidang komunikasi dan media mengantarkannya menjadi Staf Khusus Bidang Media Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) di bawah koordinasi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono.
Dari Istana Negara, ia melihat langsung bagaimana strategi komunikasi publik berperan dalam implementasi kebijakan nasional.
Kini, Wilson menjabat Ketua Bidang Organisasi dan Hukum Serikat Perusahaan Pers (SPS) Pusat, sekaligus Wakil Ketua Lembaga Anti Hoaks PWI Pusat.
Ia juga pernah menjadi anggota Task Force Media Sustainability Dewan Pers (2020–2023), yang berperan merancang arah keberlanjutan media di tengah tantangan digitalisasi dan ekonomi kreatif.
Mendirikan Forum Pimpinan Redaksi Multimedia
Sebagai pelaku media sekaligus organisator, Wilson dikenal visioner. Tahun 2023, ia mendirikan Forum Pimpinan Redaksi Multimedia Indonesia (FPRMI) — wadah kolaborasi bagi para pemimpin redaksi dari berbagai platform digital, televisi, dan media daring.
FPRMI bukan hanya organisasi profesi, tapi juga ruang edukasi dan advokasi untuk menjaga etika jurnalistik, melawan disinformasi, dan memperkuat literasi publik.
“Media sekarang tidak bisa lagi bekerja sendiri. Kita perlu solidaritas baru, lintas platform, lintas generasi,” ujarnya saat Malam Anugerah Bela Negara/FPRMI Awards 2023.
Wilson bukan hanya wartawan, tetapi juga penulis dan editor produktif. Beberapa karyanya antara lain: Biografi Djouhari Kansil, Wakil Gubernur Sulawesi Utara (2009), Sitaro, Zamrud Khatulistiwa (2010), juga Prabowo Subianto: Mengungkap Fakta Tanpa Bicara (Edisi Khusus, 2014).
Sebagai editor, ia dipercaya menjadi Tim Buku Hari Pers Nasional (HPN) sejak 2019. Ia bertugas menyeleksi dan menyunting karya-karya yang dinilai layak diterbitkan dalam ajang bergengsi insan pers Indonesia itu.
Menyalakan Cahaya, Menjaga Warisan
Dalam setiap perbincangan, Wilson selalu kembali pada satu prinsip: jurnalisme harus berpihak pada kemanusiaan dan kebenaran.
Baginya, media bukan hanya alat komunikasi, melainkan “tanggung jawab moral terhadap publik”. “Wartawan harus berpikir dengan kepala, menulis dengan hati, dan bertanggung jawab dengan nurani,” katanya dalam salah satu forum diskusi FPRMI.
Di tengah derasnya arus disinformasi, Wilson terus berdiri sebagai penjaga nilai-nilai dasar pers. Ia aktif memberikan pelatihan literasi digital dan etika pemberitaan kepada generasi muda jurnalis, memastikan estafet intelektual media tidak terputus.
Tiga dekade lebih perjalanan Bernadus Wilson Lumi di dunia jurnalistik bukan hanya tentang profesi, tapi tentang misi.
Ia menjadikan pena dan ruang redaksi sebagai tempat pengabdian — menyalakan cahaya bagi masyarakat, melawan gelapnya kebohongan, dan menjaga marwah pers sebagai benteng terakhir demokrasi.
Dari Cahaya Siang di Manado hingga forum-forum nasional di Jakarta, Wilson terus menunjukkan bahwa idealisme dan profesionalisme bisa berjalan beriringan.
“Media boleh berubah bentuk, tapi semangatnya jangan pernah padam. Selama masih ada yang percaya pada cahaya, bangsa ini tak akan kehilangan arah.” (*)










