MAJALAHCEO.co.id, Yogyakarta – Pemda DIY menegaskan komitmen menjadikan produk lokal sebagai tulang punggung ekonomi daerah. Melalui gerakan “Bangga Buatan Jogja”, Pemda DIY merangkul ekosistem kreatif, mulai dari UKM hingga pegiat fashion dan kuliner, sebagai mitra strategis dalam pembangunan.
Hal tersebut ditegaskan oleh Sekda DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, pada Puncak Peringatan Hari Jadi ke-271 DIY Kamis (09/04) di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta. Menurutnya, momentum hari jadi tahun ini merupakan langkah nyata dalam memperkuat branding daerah sekaligus memberdayakan potensi lokal agar semakin unggul.
“Dengan menggunakan produk dan jasa dari daerah sendiri, kita tidak hanya memperkuat identitas DIY, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal sebagai kekuatan utama menuju kesejahteraan,” ujar Ni Made.
Sejalan dengan tema Mulat Sarira, Jumangkah Jantraning Laku, peringatan tahun ini juga menekankan transformasi pelayanan publik melalui klaster kegiatan Level Up Your Service. Program ini bertujuan memperkuat kapasitas ASN agar lebih adaptif dan komunikatif dalam melayani masyarakat, sesuai dengan nilai-nilai keistimewaan.
Ni Made menambahkan bahwa keistimewaan DIY harus dirasakan manfaatnya melalui aksi nyata. Ia menekankan bahwa langkah-langkah kecil yang konsisten dalam mendukung karya lokal akan memberikan dampak besar bagi masa depan Yogyakarta.
“Keistimewaan itu lahir dari langkah konsisten yang penuh makna. Mari jadikan energi 271 tahun ini untuk terus meningkatkan jati diri dan kemajuan DIY,” kata Ni Made.
Acara ini adalah representasi kolaborasi lintas sektor. Dengan memadukan semangat birokrasi dengan kreativitas masyarakat, guna menyongsong masa depan DIY yang lebih gemilang.
Asisten Sekda DIY Bidang Administrasi Umum sekaligus Ketua Panitia Hari Jadi ke-271 DIY, Srie Nurkyatsiwi menjelaskan, peringatan tahun ini bukan sekadar perayaan, melainkan ruang untuk memaknai kembali tujuan mulia pembentukan DIY melalui berbagai aksi nyata. Ia menjelaskan bahwa rangkaian acara telah dimulai sejak awal Februari dan melibatkan seluruh elemen masyarakat serta ASN. Salah satu capaian yang menonjol adalah Gerakan Kricik-Becik, sebuah aksi sosial pengumpulan uang logam dari para ASN di lingkungan OPD Pemda DIY.
“Gerakan ini sangat luar biasa, sudah terkumpul kurang lebih Rp64 juta. Dana ini nantinya akan dikerjasamakan dengan asosiasi untuk sektor pendidikan. Ini bukti bahwa nilai keistimewaan bisa diwujudkan dari hal kecil seperti uang koin,” jelasnya.
Selain aksi sosial, peringatan tahun ini juga menekankan pada kelestarian lingkungan melalui gerakan Indonesia Asri. Panitia menghimbau agar ucapan selamat hari jadi tidak lagi menggunakan karangan bunga konvensional, melainkan diganti dengan tanaman hias atau anggrek yang kini menghiasi kawasan Kepatihan.
Terkait internal pemerintahan, ia menyebutkan berbagai lomba seperti Mars Pemda DIY dan Line Dance digelar bukan tanpa alasan. Menurutnya, kegiatan tersebut adalah sarana melatih kolaborasi dan ritme kerja para ASN agar tetap berada dalam koridor SOP namun tetap adaptif.
“Di dalam Line Dance, misalnya, ada narasi tentang bagaimana membangun kolaborasi. Setiap langkah memaknai bahwa dalam bekerja kita tidak bisa sendiri dan harus berhati-hati sesuai aturan yang ada. Begitu juga dengan Casual Talk hari ini, sebagai ruang edukasi bagi ASN untuk tampil istimewa dan profesional saat mengenakan pakaian kasual setiap Jumat,” tambahnya.
Siwi juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh mitra. Mulai dari perguruan tinggi, komunitas, hingga organisasi wanita seperti PKK dan Dharma Wanita yang telah mendukung kesuksesan acara.
“Inilah bentuk bukti nyata bahwa membangun DIY tidak bisa sendiri. Kita harus terus bergerak, berkolaborasi, dan siap melakukan adaptasi untuk masa depan yang lebih gemilang,” tutupnya.
Humas Pemda DIY










