Oleh: Syahril Syam *)
Waktu terus berlalu dan segala sesuatu di dunia ini terus berubah, termasuk diri kita. Tahun 2024 baru saja kita lewati dan sekarang kita memasuki tahun baru 2025. Berdasarkan penelitian neurosains, setiap kali kita memikirkan sesuatu yang baru, tubuh kita mulai berubah, termasuk cara otak bekerja, keseimbangan zat kimia dalam tubuh, dan bahkan gen kita. Jika pemikiran itu terus kita ulang, perubahan pada gen akan semakin kokoh dan permanen. Jiwa (diri) memiliki kekuatan kreatif yang memengaruhi tubuh. Jika pemikiran atau niat terus diulang, maka perubahan yang terjadi pada tingkat substansi tubuh menjadi lebih mendalam dan stabil, termasuk jiwa (diri) kita.
Dan karena itu, perubahan pada manusia terbagi menjadi dua jalan, yaitu semakin bergerak menuju kesempurnaan kemanusiaannya, atau bergerak semakin tenggelam ke dalam lembah egonya yang tak bertepi. Selfishness (egois) adalah kecenderungan untuk mementingkan kepentingan, keuntungan, atau kesejahteraan pribadi tanpa memedulikan kebutuhan atau kesejahteraan orang lain. Sedangkan selflessness (tidak egois) adalah ketika kita mulai memikirkan orang lain dan melihat dunia lebih besar dari diri sendiri. Kita memberi tanpa pamrih, membantu tanpa berharap imbalan, dan berusaha menjalani hidup yang bermakna.
Selfishness adalah tentang mengambil, sedangkan selflessness adalah tentang memberi. Semakin kita memilih jalan yang benar, semakin kita merasakan kebahagiaan sejati. Semakin seseorang memilih ego, semakin ia kehilangan kedamaian dalam diri. Oleh sebab itu, hidup adalah kesempatan bagi kita bergerak dari selfishness menuju selflessness. Hidup adalah kesempatan bagi kita untuk bertransformasi dari selfishness menuju selflessness. Dalam perjalanan hidup, setiap pilihan, tindakan, dan pikiran memberikan peluang bagi kita untuk melatih diri, memahami lebih dalam, dan mendekati hakikat kemanusiaan sejati. Selfishness adalah titik awal yang wajar, karena manusia secara alami memiliki dorongan untuk bertahan hidup dan memenuhi kebutuhannya sendiri. Namun, tujuan hidup yang lebih tinggi adalah selflessness, yaitu saat kita mampu melampaui ego dan menjadi bermanfaat bagi orang lain.
Hidup ini adalah sekolah besar yang memberi kita kesempatan untuk belajar dan bertumbuh. Selfishness adalah keadaan jiwa di tingkat yang lebih rendah. Di sini, jiwa lebih fokus pada keinginan fisik, kesenangan duniawi, atau keuntungan pribadi. Selfishness itu seperti bayi yang hanya tahu menangis untuk minta susu. Saat seseorang selfish, maka jiwanya cenderung “berat” dan lebih melekat pada dunia materi. Ia terikat pada ego, seperti keinginan untuk memiliki lebih banyak, menjadi lebih dihargai, atau menang sendiri. Tapi seiring waktu, kita diajak untuk belajar memberi, bukan hanya meminta. Selflessness adalah tahap dewasa, dimana kita tidak lagi fokus hanya pada diri sendiri, tetapi juga memikirkan orang lain dan bagaimana kita bisa membuat dunia ini lebih baik.
Selfishness adalah nafs ammarah, yaitu jiwa yang dikuasai oleh nafsu dan keinginan rendah. Jiwa ini seperti anak kecil yang terus meminta dan tidak pernah puas. Jiwa “bergerak ke bawah”, menjauh dari potensi tertinggi kita sebagai manusia. Selflessness tertinggi adalah nafs muthma’innah, yaitu jiwa yang tenang dan damai karena telah melampaui ego dan benar-benar ikhlas dengan segala ketetapan Sang Maha Sempurna. Bergerak dari nafs ammarah ke nafs muthma’innah adalah sebuah proses, bukan perubahan instan. Dan karenanya, selflessness menunjukkan gerak naik, dimana eksistensi kita berkembang menuju kesempurnaan spiritual dan berusaha mencapai (mendekati) tingkat Insan Kamil (manusia sempurna).
Jiwa (diri) berubah melalui pilihan yang terus-menerus. Setiap tindakan dan niat kita adalah bagian dari gerakan substansial jiwa. Ketika kita memilih untuk membantu orang lain meskipun sulit, mengalahkan ego dalam situasi tertentu, memberikan kebaikan tanpa pamrih, maka jiwa kita berubah sedikit demi sedikit ke arah selflessness. Selflessness adalah keadaan jiwa yang lebih tinggi, dimana kita mulai melampaui kebutuhan diri kita sendiri dan lebih memikirkan kepentingan orang lain, bahkan mencapai keinginan untuk memberikan manfaat kepada dunia. Jiwa yang selfless adalah jiwa yang mendekati kesempurnaan, karena mencerminkan sifat-sifat Ilahi, seperti kasih sayang, kedermawanan, dan cinta tanpa syarat.
Selflessness membebaskan jiwa kita untuk terbang menuju kesempurnaan. Transformasi ini adalah inti dari perjalanan hidup, yaitu bergerak dari sekadar memenuhi kebutuhan diri sendiri menuju memberi makna bagi kehidupan orang lain. Hidup adalah undangan untuk melampaui diri sendiri dan menemukan kebahagiaan sejati dalam memberi. Hidup adalah kesempatan untuk melakukan perjalanan, meninggalkan kegelapan ego dan menemukan cahaya ketenangan sejati. Ini adalah cara kita semakin mendekat kepada Sang Maha Sempurna. Dan dari sudut pandang ilmiah, ini adalah proses pembentukan otak dan jiwa yang lebih seimbang, sehat, dan bahagia.
@pakarpemberdayaandiri






