Spirit  

Sistem Kekebalan Emosi

Syahril Syam

Oleh Syahril Syam *)

Sakit hati, kecewa, terpuruk, yang biasanya terjadi karena putus dengan kekasih, mendapati kenyataan yang tidak sesuai harapan, PHK, dan sebagainya, adalah perasaan-perasaan yang seringkali dialami oleh banyak orang. Namun dalam penelitian yang dilakukan oleh Daniel Gilbert, manusia cenderung melebih-lebihkan seberapa lama atau intens perasaan buruk akan berlangsung setelah peristiwa negatif, sebuah fenomena yang disebut “Impact Bias”.

Impact Bias adalah istilah yang digunakan dalam psikologi untuk menggambarkan kecenderungan manusia melebih-lebihkan dampak emosional dari peristiwa di masa depan, terutama ketika menyangkut peristiwa negatif. Artinya, kita sering berpikir bahwa sesuatu yang buruk akan membuat kita merasa sangat tidak bahagia untuk waktu yang sangat lama, padahal kenyataannya tidak selalu begitu.

Bayangkan seseorang yang baru saja mengalami putus cinta. Awalnya, mereka mungkin berpikir, “Saya tidak akan pernah bisa move on dari ini. Hidup saya hancur!” Mereka memperkirakan rasa sakit yang dalam dan berkepanjangan. Namun, setelah beberapa bulan, mereka mulai merasa lebih baik, menemukan hal-hal positif dari pengalaman tersebut, dan melanjutkan hidup.

Fenomena ini sering mengejutkan, karena mereka tidak menyadari bahwa mereka bisa pulih lebih cepat dari yang mereka perkirakan. Impact bias juga bisa terjadi pada peristiwa positif. Misalnya, seseorang mungkin berpikir bahwa mendapatkan promosi atau memenangkan hadiah besar akan membuat mereka sangat bahagia untuk waktu yang lama, padahal perasaan tersebut biasanya memudar setelah beberapa waktu, dan mereka kembali ke tingkat kebahagiaan awal.

Menurut penelitian Gilbert, impact bias terjadi karena kita cenderung fokus pada dampak langsung dan lupa bahwa otak kita memiliki kemampuan adaptif yang kuat. Ketika mengalami situasi buruk, sistem kekebalan emosi kita membantu kita menemukan sudut pandang yang lebih positif, tetapi kita sering mengabaikan kemampuan alami ini saat memprediksi respons masa depan.

Kita sesungguhnya memiliki Sistem Kekebalan Emosi, yaitu mekanisme otomatis dalam pikiran kita yang membantu mengurangi dampak emosional dari pengalaman buruk, sehingga kita dapat melanjutkan hidup dengan lebih stabil.

Dalam bahasa sederhana, sistem ini bekerja seperti “penyembuh alami” yang perlahan-lahan membantu kita menerima dan mengurangi rasa sakit dari pengalaman negatif. Sama seperti sistem kekebalan tubuh yang melindungi kita dari penyakit fisik, sistem kekebalan emosi membantu melindungi kita dari rasa sakit psikologis dengan cara otomatis, yang bahkan seringkali tidak kita sadari.

Dalam konteks kebahagiaan dan kekecewaan, sistem kekebalan emosi membantu kita untuk bangkit dari peristiwa buruk dan kembali ke tingkat kebahagiaan dasar atau normal. Mekanisme ini memungkinkan kita melihat pengalaman negatif dari perspektif yang lebih positif atau membantu kita “mengakali” pikiran kita agar lebih optimis.

Gilbert bersama rekan-rekannya menemukan bahwa manusia seringkali meremehkan kemampuan sistem kekebalan emosional mereka untuk membantu mereka menghadapi peristiwa buruk. Mereka seringkali berpikir bahwa suatu kejadian negatif akan membuat mereka merasa buruk lebih lama dari yang sebenarnya terjadi. Padahal tidaklah demikian.

Jika seseorang berkata, “Perceraian itu adalah pengalaman yang berat, tapi sekarang saya melihat bahwa saya lebih bisa fokus pada karir dan menemukan jati diri saya.” Pernyataan ini adalah contoh dari sistem kekebalan emosi yang berhasil, dimana mereka mulai melihat pengalaman tersebut sebagai sesuatu yang membantu mereka berkembang, bukan hanya sebagai luka. Otaknya mulai mengalihkan fokus dari rasa sakit yang mendalam menjadi hal-hal kecil yang positif. Misalnya, seseorang yang baru bercerai mungkin mulai menyadari kembali kebebasan waktu atau kesempatan untuk mengejar hobi yang sempat terlupakan. Sistem ini juga membantu kita menemukan makna atau pelajaran dari peristiwa buruk.

Kita mulai memahami lebih banyak tentang kebutuhan pribadi sendiri atau pola hubungan yang sehat. Seiring waktu, perasaan kecewa atau marah akan berangsur-angsur berkurang intensitasnya. Ini bukan berarti kenangan tersebut hilang, tetapi efek emosionalnya menjadi lebih ringan, dan kita bisa melihatnya dari perspektif yang lebih netral. Tentu saja mesti diperhatikan bahwa Cemilan Otak (tulisan pendek) ini tidak dimaksudkan agar seseorang segera memutuskan untuk bercerai saat ada masalah dengan pasangannya.

Sistem kekebalan emosi ini sebagian besar bersifat otomatis. Otak kita memiliki cara alami untuk melindungi diri dari pengalaman negatif tanpa kita harus berpikir keras untuk melakukannya. Gilbert menemukan bahwa pikiran kita secara otomatis mencoba menenangkan diri dan menemukan aspek positif dalam situasi negatif untuk mengurangi stres dan mengembalikan keseimbangan emosi. Walaupun demikian, kekebalan emosi tidak sama kuatnya pada semua orang.

Mereka yang lebih rentan terhadap kecemasan atau depresi agak mengalami kesulitan dalam proses penyembuhan alami ini, sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih. Pada individu dengan kondisi ini, pikiran destruktif atau perasaan putus asa seringkali lebih kuat daripada respons otomatis untuk “memulihkan” diri. Ini bisa membuat mereka sulit melepaskan diri dari rasa sakit emosional tanpa bantuan terapi. Pengalaman traumatis atau masa lalu yang sangat berat juga dapat melemahkan kekebalan emosi seseorang, dan seringkali menunjukkan tanda-tanda “kekebalan emosi yang rusak”.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *