Spirit  

Akhlak dan Kesempurnaan Akhlak

Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam *)

Penulis pernah menonton sebuah video yang viral, dimana seorang tokoh seolah ingin menyampaikan bahwa tidak perlu shalat untuk bisa berbuat baik. Oleh sebab itu, mari kita mulai mengulas pemahaman tersebut dengan hikmah dari Sang Maha Sempurna, yaitu Allah mengilhamkan kepadanya (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh rugilah orang yang mengotorinya (91:8-10). Hikmah ini menunjukkan kepada kita bahwa manusia adalah makhluk potensi. Manusia adalah potensi murni, dimana melalui karunia kehendak dan usaha, ia akan mengaktualkan potensi yang telah diberikan padanya.

Akhlak didefnisikan sebagai kepemilikan jiwa (diri) atas sifat-sifat tertentu (baik atau buruk), yang (dari kepemilikan sifat ini) memunculkan perbuatan secara otomatis (kebiasaan). Artinya, akhlak terkait sifat, sikap, dan perbuatan otomatis. Dan bukan hanya sekadar tindakan (perbuatan) semata, melainkan perbuatan yang bersifat otomatis (telah menjadi kebiasaan).

Dari definisi ini, kita ketahui bahwa nama lain dari akhlak adalah karakter atau kebiasaan yang telah terbentuk. Dan dengan bersandar pada hikmah di atas, maka sesungguhnya usaha yang kita lakukan adalah cara kita mengaktualkan karakter yang sebelumnya telah ada pada diri kita dalam bentuk potensi. Jadi semua karakter – baik atau buruk – telah ada pada diri kita dalam bentuk potensi, dan ketika kita melakukan pengulangan tindakan tertentu, maka kita mengaktualkan potensi itu sehingga akhirnya teraktual (telah menjadi karakter/akhlak).

Karena terbentuknya akhlak adalah melalui usaha dan pembiasaan, maka pada sisi ini, akhlak tidak mesti tergantung pada suatu keyakinan tertentu. Dengan kata lain, apapun agama dan budaya seseorang, ia bisa membentuk akhlaknya sendiri, bisa berupa akhlak baik ataupun akhlak buruk. Itulah sebabnya, ada yang bahkan tidak beragama pun, bisa memiliki sifat yang baik. Namun yang sangat penting untuk disadari adalah manusia adalah makhluk perubahan. Artinya kita senantiasa mengalami gerak perubahan menuju pada level-level yang lebih sempurna, sehingga kita sesungguhnya mesti bergerak menuju ke level akhlak yang semakin menyempurna.

Allah SWT mempunyai Nama-nama yang Maha Sempurna. Pada hakikatnya pergerakan kita menuju kepada kesempurnaan adalah pergerakan di dalam mengaktualkan Nama-nama Allah SWT yang dikaruniakan pada diri kita. Ada Maha Kasih-Nya, Maha Sayang-Nya, Maha Sabar-Nya, Maha Bijaksana-Nya, Maha Dermawan-Nya, Maha Lembut-Nya, dan Nama-nama lainnya.

Jadi bergerak menuju kesempurnaan adalah bergerak dari akhlak yang sekadar dibentuk oleh pembiasaan kita menuju ke mengaktualkan Nama-nama Allah SWT. Misalnya, dari akhlak dermawan menuju Maha Dermawan. Ada begitu banyak level (derajat) antara sifat dermawan dengan Maha Dermawan-Nya. Begitu pula dari sifat pengasih menuju ke Maha Pengasih-Nya, dan begitu seterusnya.

Renungkan sejenak! Ada begitu banyak orang yang untuk merubah sifat pemarahnya, ia membutuhkan terapis agar ia bisa berubah menjadi agak penyabar. Dengan kata lain, untuk bergerak dari akhlak pemarah ke akhlak penyabar, ia mesti mempraktekkan seperangkat teknik yang diberikan oleh terapis. Nah, kita sebagai manusia yang ingin bergerak menuju kesempurnaan kemanusiaan, yang ingin bergerak menuju aktualisasi Nama-nama Allah Yang Maha Sempurna, sudah pasti membutuhkan seperangkat teknik agar bisa menaikkan level akhlak kita.

Dan yang bisa membimbing kita untuk sampai pada level akhlak tertinggi yang bisa kita raih hanyalah manusia yang telah lebih dulu sampai pada kesempurnaan akhlak, yang biasa disebut sebagai Manusia Sempurna. Dialah Nabi Muhammad SAW. Maka pada sisi ini, akhlak bukan lagi sekadar pembiasaan yang bisa kita lakukan sendiri. Kita membutuhkan bimbingan Nabi Muhammad SAW, dan karena itu Nabi Muhammad SAW datang untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (33:21), menunjukkan kepada kita bahwa hanya melalui Nabi Muhammad SAW kita bisa bergerak menuju kesempurnaan kemanusiaan kita. Kata “Uswatun Hasanah” pada ayat tersebut berarti mencakup segala aspek kehidupan, termasuk keimanan, ibadah, akhlak, hubungan sosial, kepemimpinan, dan kesabaran. Nabi Muhammad SAW adalah teladan dalam segala peran manusia – sebagai seorang nabi, pemimpin, suami, ayah, teman, dan bahkan sebagai musafir atau pedagang. Beliau menunjukkan cara terbaik dalam menjalankan peran-peran ini dengan integritas, kasih sayang, keadilan, dan akhlak yang sangat mulia.

Kenapa jalan kesempurnaan manusia hanya melalui Nabi Muhammad SAW? Karena “sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung (68:4)”. Kata “Khuluqin Azhim” pada ayat tersebut bermakna akhlak Nabi Muhammad SAW adalah cerminan kehendak Allah SWT di muka bumi. Frasa “azhim” atau “agung” menekankan keistimewaan akhlak Rasulullah SAW yang melampaui batas-batas umum akhlak manusia biasa. “Khuluqin Azhim” adalah pujian yang mengandung kedalaman spiritual dan moral yang luar biasa.

Akhlak Nabi Muhammad SAW bukan hanya sekadar sifat baik, melainkan kesempurnaan akhlak yang menjadikannya sosok yang paling layak diteladani, karena segala perilakunya merupakan manifestasi kehendak Allah SWT yang mengajarkan rahmat, kebaikan, dan hikmah bagi seluruh alam. Maka menjadi jelas pada sisi ini, untuk meraih kesempurnaan akhlak (akhlak transenden), hanya bisa diperoleh dengan jalan penyembahan kepada Allah SWT dan jalannya mengikuti para nabi dan utusan-Nya, khususnya Nabi dan Rasul Khatam (penutup dan pamungkas) Almustafa Muhammad SAW.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *