Spirit  

Pengalaman Mistik atau Gangguan Jiwa?

Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam *)

Skizofrenia adalah penyakit mental dimana seseorang bisa melihat atau mendengar hal-hal yang tidak ada (halusinasi) dan memiliki pikiran yang aneh (delusi). Misalnya, seseorang bisa mendengar suara yang berbicara padanya (halusinasi), atau memercayai sesuatu yang tidak benar, seperti berpikir bahwa orang lain mengawasinya atau bahwa dia memiliki kekuatan khusus (delusi).

Gangguan jiwa lainnya adalah bipolar, yaitu penyakit mental yang menyebabkan perubahan suasana hati yang ekstrem, dari sangat bahagia (manik) hingga sangat sedih (depresi). Saat mengalami fase manik, maka ia akan merasa sangat bahagia, energik, dan percaya diri, sering kali berbicara lebih cepat dari biasanya, memiliki banyak ide, dan mungkin menghabiskan uang secara berlebihan.

Namun saat mengalami fase depresi, maka ia akan merasa sangat sedih, kehilangan minat dalam aktivitas yang biasanya disukai, kelelahan, dan sulit untuk berkonsentrasi. Ia mengalami perubahan suasana hati yang tiba-tiba dan ekstrem, dari sangat bahagia ke sangat sedih dalam waktu singkat.

Kadang, orang dengan skizofrenia merasa terhubung dengan sesuatu yang lebih besar atau memiliki wawasan spiritual, tetapi biasanya ini disertai gejala lain yang mengganggu. Apa yang mereka alami mirip dengan pengalaman mistik. Begitu juga dengan gangguan bipolar, dimana saat seseorang berada di fase bahagia, ia cenderung merasa sangat terhubung secara spiritual yang mirip dengan pengalaman mistik.

Ralph W. Hood, seorang profesor di University of Tennessee dan dikenal karena penelitiannya di bidang psikologi agama, khususnya pengalaman mistik dan spiritual, mengembangkan Skala Pengalaman Mistik, yang digunakan untuk mengukur pengalaman mistik atau transendental dalam konteks spiritualitas dan agama. Skala ini berdasarkan karya William James tentang pengalaman religius dan membantu memahami pengalaman spiritual secara ilmiah. Hood menciptakan versi kuantitatif dari skala ini, yang seringkali disebut sebagai “Hood Mysticism Scale”, yang digunakan dalam penelitian untuk mengevaluasi intensitas dan sifat pengalaman mistik di berbagai latar budaya dan agama.

Hood merupakan salah satu peneliti terkemuka dalam psikologi agama yang menggabungkan pemahaman psikologis dengan studi tentang kepercayaan, pengalaman, dan perilaku religius. Dalam penelitian Hood, pengalaman mistik biasanya memiliki beberapa ciri khas, yaitu merasakan keterhubungan yang mendalam dengan alam, orang lain, atau pengalaman spiritual (Perasaan Kesatuan); mengalami hilangnya batasan waktu dan ruang, seringkali merasa seolah-olah berada di luar dimensi fisik (Transendensi Waktu dan Ruang); mengalami perasaan cinta yang mendalam dan damai yang sulit dijelaskan (Rasa Cinta dan Damai); dan pengalaman mistik akan membawa perubahan signifikan dalam cara kita melihat diri sendiri dan dunia (Transformasi Pribadi).

Penelitian yang dilakukan oleh Ralph Hood dan penggunaan Skala Pengalaman Mistik – sedikit-banyaknya – berkontribusi dalam membedakan antara pengalaman mistik dan kondisi kesehatan mental tertentu, meskipun harus diakui bahwa perbedaan ini bisa kompleks dan sering kali tergantung pada konteks seseorang. Seseorang yang mengalami gangguan mental, seperti skizofrenia atau gangguan bipolar, mungkin mengalami pengalaman yang mirip dengan pengalaman mistik, tetapi sering kali disertai dengan gejala negatif seperti kecemasan ekstrem, ketidakstabilan emosi, atau disorientasi.

Sedangkan saat kita mengalami pengalaman mistik, maka biasanya diiringi oleh perasaan damai, keterhubungan, dan transformasi positif dalam cara kita melihat diri dan dunia. Pengalaman ini sering kali memberikan makna dan tujuan hidup pada diri kita.

Gangguan kesehatan mental adalah kondisi yang memengaruhi cara berpikir, perasaan, dan perilaku seseorang, serta dapat mengganggu fungsi sehari-hari, sehingga cenderung mengalami kecemasan, depresi, ketidakmampuan untuk menjalani aktivitas sehari-hari, atau delusi. Gejala ini seringkali berlangsung dalam jangka waktu yang lebih lama dan dapat menjadi semakin parah.

Akibatnya akan terjadi kesulitan dalam hubungan interpersonal, pekerjaan, dan fungsi sosial. Juga cenderung merasa takut, kebingungan, atau ketidakberdayaan, dimana akan menyebabkan penurunan kesehatan mental secara keseluruhan dan meningkatkan risiko perilaku merugikan diri sendiri, serta memengaruhi kualitas hidup, hubungan sosial, dan produktivitas.

Di sisi lain, pengalaman mistik adalah pengalaman subjektif yang seringkali melibatkan perasaan keterhubungan yang mendalam dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Ada yang menyebutnya sebagai Sang Maha Sempurna atau penyebutan lainnya. Pengalaman mistik akan membuat kita merasakan keterhubungan yang dalam dengan alam semesta atau Sang Maha Sempurna, yang sering disertai dengan perasaan damai dan cinta tanpa syarat. Sehingga walaupun intens, namun pengalaman ini tidak mengganggu kemampuan kita untuk berfungsi dalam kehidupan sehari-hari. Juga memicu refleksi diri yang mendalam dan pertumbuhan spiritual, sehingga seringkali menghasilkan perubahan dalam nilai-nilai hidup, prioritas, dan tujuan yang bermakna dalam jangka panjang. Itulah sebabnya, aktivitas otak selama pengalaman mistik dapat berbeda dari aktivitas yang terlihat pada seseorang dengan gangguan mental.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *