Oleh Syahril Syam *)
Dalam sejarah NLP, penciptanya Richard Bandler dan John Grinder pernah menemui Milton H. Erickson (pakar hipnoterapi dengan metode hipnosis tak langsung) dan kemudian memelajari pola-pola bahasa hipnosis yang digunakan oleh Milton sehingga lahirlah sebuah teknik hipnosis yang disebut Milton Model. Milton Model adalah seperangkat pola bahasa yang dirancang untuk memengaruhi bawah sadar. Pola-pola ini memungkinkan kita untuk berkomunikasi dengan cara yang lebih persuasif dan sugestif, dan seringkali digunakan dalam terapi, hipnosis, dan komunikasi interpersonal.
Salah satu teknik Milton Model adalah presuppositions, yang digunakan untuk menyampaikan asumsi tersembunyi dalam suatu kalimat yang secara otomatis dianggap benar oleh pendengar. Presuppositions bekerja dengan cara mengasumsikan sesuatu dalam pernyataan, sehingga untuk memahami pernyataan itu, pendengar secara tidak sadar harus menerima asumsi tersebut sebagai fakta. Misalnya kalimat “Kamu dapat menggunakan sumber daya dalam dirimu untuk mencapai tujuanmu.”
Pernyataan tersebut mengasumsikan bahwa kita memiliki sumber daya internal yang bisa digunakan. Contoh presuposisi lainnya yang paling sederhana adalah presuposisi bahwa sesuatu itu eksis (ada). Misalnya dalam kalimat “Budi menyantap makanan”, yang mempresuposisikan (mengasumsikan) bahwa “Budi” dan “makanan” itu eksis di dunia ini.
Awareness Predicates adalah teknik dalam Milton Model (salah satu Model presuppositions) yang digunakan untuk membuat pernyataan yang menyiratkan bahwa pendengar secara otomatis menyadari atau mengetahui sesuatu. Teknik ini bertujuan untuk mengarahkan perhatian pendengar ke kondisi atau pengalaman tertentu tanpa menimbulkan resistensi, karena Awareness Predicates disajikan sebagai fakta yang sudah terjadi atau sedang terjadi. Sebenarnya kita seringkali menggunakan teknik ini tanpa kita sadari.
Awareness Predicates biasanya menggunakan kata kerja yang mengacu pada persepsi, kesadaran, dan pengalaman internal. Beberapa contoh kata kerja yang sering digunakan dalam teknik ini adalah: menyadari, melihat, mendengar, merasakan, memahami, dan mengingat.
“Kamu mungkin mulai menyadari betapa nyamannya kamu sekarang.” Kalimat ini mengarahkan kesadaran pendengar pada perasaan nyaman yang mungkin belum disadari sepenuhnya, tetapi mulai dirasakan. “Sekarang kamu mungkin memperhatikan bagaimana napasmu menjadi lebih dalam.” Kalimat ini mengarahkan fokus pendengar pada ritme napas mereka yang mulai berubah.
Teknik ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran terhadap kondisi yang diinginkan (seperti relaksasi atau fokus), tetapi dengan cara yang tidak langsung atau memaksa. Awareness Predicates efektif dalam menciptakan kondisi hipnosis atau trance ringan karena mereka mengarahkan perhatian pendengar pada hal-hal yang sebelumnya mungkin tidak disadari, dengan cara yang halus dan sugestif.
Yang paling sering kita dengar adalah kalimat “Mungkin kamu bisa merasakan betapa pentingnya bersyukur atas anugerah yang kita terima.” Predikat “merasakan” memfokuskan pendengar pada “anugerah”, yang sering kali dianggap berasal dari Sang Maha Sempurna. Atau kalimat “Kamu mungkin mulai memperhatikan bahwa dalam setiap momen ada begitu banyak yang bisa disyukuri.” Predikat “memperhatikan” mengarahkan kesadaran pada segala sesuatu yang bisa disyukuri, dengan asumsi implisit bahwa berkah ini berasal dari Sang Maha Sempurna. Juga kalimat “Sekarang kamu mungkin mulai mengerti betapa pentingnya bersyukur dalam setiap keadaan.” Predikat “mengerti” secara halus menyarankan bahwa pendengar akan menyadari pentingnya rasa syukur, yang bisa dihubungkan dengan Sang Maha Sempurna secara tersirat.
Ini berarti setiap kali kita “awareness” dengan berbagai predikat yang mengarah pada rasa syukur, maka setiap perasaan syukur membutuhkan “objek” sebagai “tempat” kita bersyukur. Dengan kata lain, disadari ataukah tidak, saat kita merasakan perasaan syukur, maka kita sesungguhnya mengakui keberadaan Sang Maha Sempurna. Karena menggunakan Awareness Predicates atau Presuppositions dalam konteks rasa syukur, maka tersirat bahwa setiap kali kita bersyukur, baik disadari ataupun tidak, kita sebenarnya mengakui keberadaan Sang Maha Sempurna. Ini karena konsep syukur dalam dirinya mengandung makna bahwa kita berterima kasih atas sesuatu yang datang dari luar diri kita sendiri.
Dengan kata lain, rasa syukur itu sendiri sering kali merupakan bentuk pengakuan yang tak terucapkan bahwa Sang Maha Sempurna hadir sebagai pemberi berkah, sehingga setiap tindakan syukur, bahkan yang sederhana, secara tersirat juga merupakan pengakuan akan keberadaan dan peran Sang Maha Sempurna dalam hidup kita.
@pakarpemberdayaandiri






