Spirit  

Semakin Intens Emosi, Semakin Besar Perhatian

Syahril Syam

Oleh Syahril Syam *)

Emosi yang intens cenderung memengaruhi alokasi sumber daya perhatian kita. Ketika kita mengalami emosi yang kuat (baik konstruktif maupun destruktif), otak cenderung lebih fokus pada rangsangan yang memicu emosi tersebut dan mengabaikan hal-hal lain di sekitarnya. Studi neuroimaging, khususnya yang menggunakan teknik seperti fMRI (Functional Magnetic Resonance Imaging) dan PET (Positron Emission Tomography), telah mengungkap hubungan erat antara intensitas emosi, aktivitas amygdala, dan alokasi perhatian. Amygdala, bagian otak yang terlibat dalam pemrosesan emosi dan ancaman, berperan sentral dalam memperkuat perhatian terhadap rangsangan emosional.

Ketika seseorang melihat gambar atau video yang memicu emosi (seperti gambar wajah marah atau menyedihkan), terjadi peningkatan aktivitas di amygdala. Semakin intens emosi yang dipicu oleh rangsangan tersebut, semakin besar pula respons neural di amygdala. Respons amygdala tidak hanya berhubungan dengan emosi destruktif. Rangsangan yang memicu emosi konstruktif intens, seperti kebahagiaan atau cinta yang mendalam, juga dapat meningkatkan aktivitas amygdala. Namun, rangsangan yang menimbulkan ketakutan atau ancaman sering menunjukkan respons yang lebih kuat.

Ketika amygdala diaktifkan, ia berkomunikasi dengan bagian otak lain, termasuk korteks prefrontal dan korteks visual, untuk meningkatkan perhatian terhadap rangsangan yang relevan secara emosional. Ingatan terhadap peristiwa yang menimbulkan emosi intens, terutama yang memicu reaksi di amygdala, cenderung lebih kuat dibandingkan peristiwa yang emosinya lebih rendah.

Keinginan yang memicu emosi yang kuat, membuat amygdala mengarahkan perhatian seseorang pada hal-hal yang terkait dengan keinginan tersebut. Misalnya, jika seseorang sangat menginginkan keberhasilan dalam suatu proyek, emosi terkait (seperti antusiasme atau bahkan kecemasan) dapat memicu amygdala untuk lebih memperhatikan peluang, ancaman, atau informasi yang relevan dengan proyek itu.

Emosi yang intens sering kali menjadi bahan bakar bagi motivasi. Ketika seseorang sangat menginginkan sesuatu, emosi tersebut memperkuat keinginan itu dan mengarahkan perhatiannya pada segala sesuatu yang bisa membantu atau menghalangi tercapainya tujuan. Dalam psikologi motivasi, hal ini disebut goal-driven attention, di mana perhatian kita dipandu oleh tujuan-tujuan kita, terutama jika tujuan tersebut sangat diinginkan dan memicu emosi yang kuat. Juga fokus perhatian kita menjadi lebih sempit, dan kita mengabaikan informasi yang tidak relevan dengan keinginan atau tujuan tersebut.

Jika suatu keinginan memicu emosi yang sangat kuat, RAS (Reticular Activating System, jaringan saraf di otak yang terletak di batang otak, dan berfungsi sebagai “filter” yang mengatur apa yang harus kita perhatikan dari jutaan rangsangan yang diterima setiap hari) akan bekerja untuk memastikan bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan keinginan itu lebih mudah diperhatikan oleh otak. Amygdala memberi tahu RAS bahwa rangsangan yang memicu emosi itu penting, sehingga RAS mengarahkan perhatian pada sumber rangsangan tersebut.

Itulah sebabnya, orang yang sedang kasmaran akan sangat besar perhatiannya kepada kekasihnya, dibandingkan ketika perasaan kasmaran itu telah menguap. Saat kasmaran, kekasih dipandang sebagai objek yang sangat penting secara emosional; menjadikannya prioritas utama dalam pikiran seseorang. Maka penting bagi kita untuk menjaga kestabilan intensitas emosi (tidak berlebihan atau berkekurangan) kepada pasangan, anak, orang tua, hingga pada berbagai keinginan duniawi. Karena emosi yang sangat intens dan tak terkendali akan menarik perhatian diri dan membuat seseorang cenderung memicu perilaku obsesif. Karena emosi yang sangat kuat, seperti cinta, ketakutan, kecemasan, atau kemarahan, yang menguasai pikiran dan perhatian seseorang dengan sangat intens dan tak terkendali, akan membuat mereka sulit untuk fokus pada hal-hal lain. Ini sering kali menjadi awal dari pola pikir atau perilaku obsesif.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *