Spirit  

Perbedaan Dua Derajat

Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam *)

Jika ada dua garis lurus dengan arah yang berbeda, yang satu adalah garis tegak lurus dan yang satunya garis lurus yang arahnya berbeda dengan jarak dua derajat dari garis pertama (garis tegak lurus), maka jarak perbedaan tersebut sangatlah tipis. Namun jika kedua garis tersebut terus diperpanjang hingga jarak yang tak terbatas, maka jarak yang ditimbulkan antara kedua garis itu akan semakin besar. Inilah yang terjadi pada diri manusia.

Secara penampakan lahiriah, apa yang dilakukan oleh setiap manusia itu mirip dan bahkan sebagian besar sama. Kita sama-sama minum, makan, menikah, tidur, mendidik anak, merawat orang tua, belajar, bekerja, memiliki rumah, membeli benda-benda, dan lain sebagainya. Dalam hal yang terkait agama pun kita memiliki banyak kesamaan. Kita beribadah, bersedekah, membantu orang lain, dan menjalankan berbagai aturan agama yang telah ditetapkan oleh keyakinan keberagamaan kita masing-masing.

Namun yang menentukan perbedaan setiap manusia adalah apa yang ada pada perasaannya (hati). Setiap manusia memiliki dua sistem operasi yang berbeda. Ada dorongan perasaan yang lahir dari kecenderungan tubuh, dan ada dorongan perasaan yang lahir dari keputusan CEO otak (prefrontal korteks) kita. Dorongan perasaan yang lahir dari kecenderungan tubuh hadir dalam bentuk hasrat yang tak terpuaskan. Jika kita mengambil contoh makan, maka dorongan perasaan ini akan mendorong seseorang untuk makan tanpa mesti ada syarat khusus. Yang penting enak, memuaskan, dan mengenyangkan, maka disikat habis.

Berbeda jika dorongan perasaan untuk makan hadir karena keputusan CEO otak, maka tentu saja tetap mesti makan, namun memilih makanan yang halal, baik, dan menyehatkan, serta makan dengan kadar yang proporsional. Secara lahiriah, keduanya terlihat nampak sama-sama makan, namun efek jangka panjang yang ditimbulkan dari dorongan perasaan yang berbeda ini akan sangat jauh berbeda. Pola yang sama juga berlaku pada bekerja. Terlihat bahwa sama-sama bekerja, namun jenis motivasi yang hadir dari dorongan perasaan kecenderungan tubuh berbeda dengan dorongan perasaan yang hadir dari CEO otak. Karena jenis niat dan motivasinya berbeda, maka efek jangka panjangnya juga akan sangat jauh berbeda.

Bekerja karena hanya sekadar memenuhi hasrat tubuh akan berefek pada seringnya mengalami stres kronis dan dalam jangka panjang menimbulkan berbagai penyakit. Sedangkan bekerja atas dasar kesadaran akan membuat diri menjadi lebih tegar, kuat, sehat mental, dan lebih mudah bersyukur dan bersabar. Sama-sama berkemungkiinan meraih prestasi tinggi dan tak terbatas, namun efek jangka panjangnya pada diri sendiri akan berbeda, baik secara mental maupun fisik.

Perbedaan ini, baik secara fisik maupun mental tidak akan terasa perbedaannya ketika masih di awal masa pertumbuhan. Namun seiring berjalannya waktu, ketika semakin beranjak remaja, dewasa, hingga lansia, maka efek dari perbedaan dua derajat ini akan semakin terasa, baik mental maupun fisik. Yang satu berujung pada pesimis, depresi, hilangnya semangat hidup, dan jiwa yang semakin gelisah. Sedangkan yang satunya lagi berujung pada optimis, bahagia, hidup yang bermakna, dan jiwa yang semakin tenang. Semuanya dimulai dari perbedaan atas apa yang dirasakan di hati.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *