Oleh: Syahril Syam *)
Menurut KBBI, resiliensi diartikan sebagai kemampuan untuk beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi sulit. Dengan kata lain, resiliensi merupakan kemampuan kita untuk bertahan atau pulih dari tekanan, tantangan, atau kesulitan yang mengancam dan mengganggu keseimbangan fisik atau psikologis. Istilah “resiliensi” berasal dari bahasa Latin “resilire”, yang artinya “melompat kembali” atau “memantul kembali”. Konsep ini pertama kali digunakan dalam ilmu material dan fisika untuk menggambarkan kemampuan suatu material untuk kembali ke bentuk aslinya setelah mengalami deformasi atau tekanan.
Istilah “resiliensi” dalam konteks psikologi memiliki akar yang terkait dengan konsep ego-resiliency (ER) yang diperkenalkan oleh Jack Block pada tahun 1950-an. Ego-resiliency atau kekenyalan ego merujuk pada kemampuan individu untuk menyesuaikan diri dengan fleksibilitas terhadap situasi yang berubah-ubah atau menuntut, tanpa kehilangan identitas atau kestabilan diri. Konsep ini menggambarkan bagaimana seseorang dapat menghadapi tantangan dan tekanan dalam kehidupan dengan cara yang adaptif dan efektif, sambil tetap mempertahankan integritas diri dan keseimbangan psikologis.
Resiliensi dan ER memiliki perbedaan fokus. ER mengacu pada kemampuan individu untuk menghadapi stres dan tantangan dalam kehidupan sehari-hari; menyoroti aspek individual seperti fleksibilitas psikologis, ketahanan diri, dan kemampuan untuk pulih dari kegagalan atau kesulitan.
Sedangkan resiliensi lebih luas dan mencakup kemampuan individu, kelompok, atau sistem untuk beradaptasi dengan perubahan, menahan tekanan, dan tetap berfungsi atau bahkan berkembang positif di bawah tekanan atau kondisi yang sulit. Resiliensi bisa diterapkan pada berbagai tingkatan, termasuk individu, keluarga, komunitas, atau organisasi; mencakup tidak hanya aspek psikologis seperti ketangguhan mental, tetapi juga elemen-elemen seperti dukungan sosial, sumber daya eksternal, dan lingkungan.
Beban alostatik merupakan konsekuensi buruk dari stres kronis. Beban alostatik mengacu pada keausan kumulatif pada tubuh dan otak akibat aktivasi sistem respons stres yang berkepanjangan. Terjadi akumulasi stres biologis akibat tubuh terus-menerus menghadapi berbagai tantangan dan tekanan dalam kehidupan sehari-hari, terutama sistem saraf otonom dan sumsum tulang belakang yang merespons terhadap tekanan kronis atau berulang.
Efek dari beban alostatik dapat berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental seseorang. Sistem saraf otonom dan sumsum tulang belakang berperan dalam mengatur respons stres, dan ketika terpapar terus-menerus terhadap tekanan, dapat menyebabkan gangguan dalam fungsi normal tubuh. Hal ini dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, gangguan metabolisme, gangguan tidur, gangguan mental seperti depresi dan kecemasan, serta mengurangi kemampuan sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi.
Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk meningkatkan daya resiliensi diri. Saat kita memiliki tingkat resiliensi yang tinggi, kita cenderung lebih mampu mengelola stres dan mengurangi dampak negatif dari beban alostatik. Membuat kita lebih cepat pulih dan menyesuaikan diri setelah mengalami tekanan atau tantangan. Menariknya lagi adalah otak kita memiliki kemampuan neuroplastisitas, yaitu kemampuan untuk beradaptasi, mengatur ulang dirinya sendiri sebagai respons terhadap pengalaman dan perubahan lingkungan, bahkan ketika menghadapi kesulitan.
Neuroplastisitas memungkinkan pertumbuhan neuron baru (neurogenesis) dan pembentukan koneksi sinaptik baru. Otak dapat menyesuaikan strukturnya sebagai respons terhadap tuntutan dan pengalaman lingkungan. Artinya, kita memiliki potensi besar untuk meningkatkan daya resiliensi diri, yang kemudian berdampak positif pada kemampuan kita dalam menghadapi stres kronis.
@pakarpemberdayaandiri






