Spirit  

Memanfaatkan Perasaan Konstruktif Untuk Pemberdayaan Diri

Syahril Syam, ST., C.Ht., L.NLP *)

Oleh : Syahril Syam

Salah satu prinsip utama dalam memberdayakan diri, yaitu hanya perasaan yang bisa menggantikan perasaan, dan perasaan tidak bisa digantikan dengan pikiran positif. Itu karena setiap kali kita berpikir positif, maka pikiran tersebut tidak bisa menghadirkan perasaan yang intensitasnya mampu mengalahkan intensitas perasaan yang telah lebih dulu kita rasakan, dan yang telah tertanam kuat di bawah sadar kita.

Seseorang yang lagi sakit hati, maka intensitas rasa sakit hatinya tentulah sangat tinggi. Kemudian di saat itu ia terkunci dengan rasa sakit hati yang begitu besar intensitasnya. Maka sulit baginya untuk berpikir positif, karena intensitas perasaan yang hadir dikala berpikir positif tidak mampu mengalahkan besarnya intensitas dari rasa sakit hati yang dirasakannya.

Sulit bagi seseorang yang sementara sakit hati untuk menerima saran dan masukan. Ia hanya bisa menerima nasehat ketika intensitas rasa sakit hatinya telah mereda atau bahkan tidak lagi terasa di saat itu. Atau ada sesuatu yang membuatnya tergugah, dimana tiba-tiba saja ia merasakan kehadiran perasaan lain yang lebih kuat intensitasnya dibandingkan rasa sakit hati yang dirasakannya. Artinya, ada perasaan lain yang lebih kuat hadir dan menimpa perasaan sakit hatinya.

Endel Tulving – seorang psikolog kognitif terkenal yang dikenal karena kontribusinya dalam bidang memori dan neuropsikologi – mengklasifikasikan memori menjadi dua jenis utama: memori episodik dan memori semantik. Memori episodik terkait dengan pengalaman pribadi dan konteks spesifik, sementara memori semantik terkait dengan pengetahuan umum dan fakta-fakta.

Melalui panca indra, kita merekam semua data yang masuk dari pengalaman kita yang beragam di kabel sinaptik otak. Indra menyediakan data mentah yang memungkinkan kita untuk membentuk ingatan episodik. Jika pengetahuan memberi makan pikiran melalui otak, maka pengalaman memberi makan pikiran melalui tubuh. Ketika kita berada di tengah-tengah pengalaman baru, semua indra kita terlibat dalam peristiwa tersebut. Apa yang kita lihat, cium, dengar, cicipi, dan sentuh/rasakan mengirimkan rangsangan sensorik yang sinkron melalui lima jalur berbeda ke otak sekaligus.

Saat semua data itu masuk ke otak, maka akan terjadi pelepasan neurotransmiter kimia yang sangat besar. Pelepasan bahan kimia otak yang berbeda menghasilkan perasaan tertentu, maka sebagai akibatnya, produk akhir dari setiap pengalaman adalah perasaan atau emosi. Perasaan adalah ingatan kimiawi.

Oleh karena itu, kita dapat mengingat pengalaman dengan lebih baik karena kita dapat mengingat bagaimana perasaan mereka. Jadi jangan heran, ketika ada suatu pengalaman lain yang kemudian mirip dengan pengalaman sakit hati, maka seketika itu pula perasaan sakit hati akan muncul dan hadirlah pengalaman itu di saat ini yang terasa sangat nyata, seolah baru saja terjadi pengalaman yang menyakitkan itu.

Ada ikatan yang begitu kuat antara pengalaman dan memori (memori episodik) dengan perasaan. Dan karena setiap pengalaman memiliki perasaannya tersendiri, maka perasaan yang berbeda berarti menghadirkan pengalaman yang berbeda pula. Dari pola hubungan antara pengalaman (memori episodik) dengan perasaan, kita sesungguhnya dapat menciptakan pengalaman baru (kebiasaan baru) dengan hanya menyetel perasaan yang sesuai dengan pengalaman yang kita harapkan. Dengan kata lain, kita bisa dengan mudah mengubah kebiasaan buruk dengan memanfaatkan perasaan konstruktif agar tercipta kebiasaan baru yang baik. Kita menimpa perasaan destruktif dengan perasaan konstruktif, agar hadir suatu pengalaman baru yang juga konstruktif.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *