Oleh: Syahril Syam *)
Karena kita sebagai manusia dikaruniai daya hasrat akan sesuatu, maka terpenuhinya hasrat ini akan membuat kita menjadi tenang dan senang. Dan sebaliknya, ketika tidak terpenuhi akan membuat diri menjadi gelisah. Seorang bayi yang tidak terpenuhi hasrat makan dan minumnya akan selalu gelisah dan menyebabkan pecahnya tangisan sebagai isyarat untuk segera dipenuhi hasratnya. Kondisi yang sama ketika diulang terus menerus maka pada akhirnya terbiasa menjadi gelisah. Tidak tenang ketika ada sesuatu yang menggangu dan tidak sesuai keinginan.
Jika sewaktu bayi hanya bisa menangis ketika hasratnya tidak terpenuhi, maka saat dewasa yang terjadi adalah sering marah-marah. Selalu marah ketika muncul perasaan kecewa, jengkel, dan sakit hati ketika berbagai hasrat tidak terpenuhi. Selalu marah ketika ada sesuatu yang berjalan tidak sebagaimana keinginan. Akhirnya segala hal di dunia ini, mulai dari orang dekat, benda, peristiwa, waktu, dan tempat, semuanya menjadi pemicu hadirnya kemarahan ketika tidak sesuai hasrat (keinginan).
Pola kegelisahan ini semakin diperparah ketika merasa kehilangan kontrol. Karena tidak bisa mengontrol berbagai keadaan, akhirnya menjadi semakin marah ketika berbagai hal tidak berjalan sebagaimana keinginan. Dan semakin diperparah lagi ketika merasa tidak punya sandaran (bekingan) yang bisa diandalkan. Akhirnya tercampur aduklah perasaan marah, kecewa, jengkel, sedih, panik, khawatir, dan sakit hati. Inilah kondisi stres kronis yang rutin dialami setiap hari.
Karena semua itu rutin dialami setiap hari, maka tanpa disadari, semua pola gelisah ini terekam semakin kuat di bawah sadar. Tubuh menjadi semakin terbiasa dengan pola-pola gelisah ini. Dan seperti halnya tubuh kita mampu merekam setiap kebiasaan kita, maka tubuh pun dengan mudah merekam pola-pola kegelisahan ini. Hingga akhirnya pola-pola gelisah inipun berjalan dengan sendirinya tanpa bisa dikontrol secara sadar.
Makanya jangan heran, pada usia tertentu, banyak orang yang tiba-tiba saja menjadi orang yang mudah cemas. Jantung berdebar-debar, sesak napas, pikiran selalu merasa takut dan cenderung berpikir tentang mati. Dan ketika serangan cemas ini hadir, kontrol sadar tidak mampu mengendalikannya. Sebab telah menjadi kebiasaan yang terekam begitu kuat di bawah sadar dan tubuh. Dulu kita tidak bisa berjalan, tapi karena rutin dilatih, akhirnya berjalan menjadi kebiasaan. Dan semua yang dilakukan oleh tubuh secara otomatis adalah sesuatu yang dulunya sering dilatih hingga menjadi kebiasaan. Termasuk melatih diri untuk selalu gelisah dan akhirnya terwujud menjadi kebiasaan gelisah berupa kecemasan dan depresi yang berjalan otomatis.
@pakarpemberdayaandiri






