Imbas Konflik Israel-Iran, Rio Widhyartha: Indonesia Harus Berfokus Pada Perbaikan Ekonomi Internal

Pemerhati Kebijakan Publik Rio Widhyartha

MAJALAHCEO.co.id, Jakarta – Konflik Israel vs Iran, hingga saat ini masih memanas. Dalam situasi eskalasi konflik, banyak yang mengkhawatirkan dampaknya terhadap perekonomian global, khususnya terhadap perekonomian Indonesia. Hal ini mengingat, banyak kerja sama ekonomi dan perdagangan antara Indonesia dan Iran. Seperti pengembangan sektor migas, perundingan Preferential Trade Agreement (PTA) Indonesia-Iran, serta kerjasama lainnya seperti SKB-EP Indonesia-Iran yang ke-11.

Menurut Pemerhati Kebijakan Publik Rio Widhyartha, sektor-sektor kunci perekonomian Indonesia, seperti perdagangan internasional, pariwisata, dan investasi asing dapat terpengaruh secara signifikan.

“ Dampak konflik Israel – Iran, berpengaruh signifikan terhadap sektor-sektor kunci perekonomian Indonesia, seperti pariwisata, perdagangan maupun investasi asing. Tingginya ketidak pastian geopolitik yang memicu perang tersebut, menjadi salah satu penyebabnya,” kata  Rio, melalui keterangan di Jakarta, Senin [13/5/2024].

Selain itu, sebut Rio, lonjakan harga minyak dunia. Jalur rantai pasokan minyak akan terganggu. Akibatnya pasokan minyak terhambat dan biaya distribusi naik.

” Salah satu dampak ekonomi yang paling signifikan dari perang Iran-Israel adalah potensi kenaikan harga minyak dunia. Iran merupakan salah satu produsen minyak terbesar di dunia, sementara Israel memiliki pengaruh besar di kawasan Timur Tengah yang kaya akan cadangan minyak. Konflik bersenjata antara kedua negara ini dapat mengganggu pasokan minyak global, baik secara langsung melalui gangguan pada fasilitas produksi dan distribusi minyak, maupun secara tidak langsung akibat ketidakpastian dan risiko yang meningkat bagi investor dan pelaku bisnis di industri migas,” Terang Rio.

Untuk menghadapi krisis global yang semakin kompels, kata Rio, Indonesia semestinya berfokus pada perbaikan ekonomi internal. Salah satu langkah penting adalah dengan mengurangi defisit anggaran yang semakin melebar.

“ Ini tidak mudah, kenaikan harga minyak dunia akan memberikan tekanan tambahan pada fiskal negara, terutama akibat beban subsidi energi yang semakin berat,” pungkas Rio Widhyartha.

[ jgd ]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *