Oleh: Syahril Syam *)
Seorang ulama berkata, “Kepemimpinan manapun di muka bumi ini – entah itu kepemimpinan dalam sebuah kelompok atau sebuah negara, sebuah distrik atau sebuah kota, sebuah kantor atau sebuah rumah, atau bahkan kepemimpinan dalam diri manusia itu sendiri – pada hakikatnya adalah kepemimpinan tabiat atau fitrah.” Yang dimaksud tabiat pada “Cemilan Otak” (baca: tulisan pendek) ini bukanlah seperti definisi pada umumnya, melainkan suatu kecenderungan-kecenderungan yang bersifat jasmani, dan diperlawankan dengan kecenderungan-kecenderungan yang bersifat ruhani.
Di awal tumbuh kembang, kita masih didominasi oleh kecenderungan jasmani ini. Adanya dorongan untuk mengisi perut yang lapar merupakan dorongan alami yang kita bawa sejak lahir. Hal ini penting karena pertumbuhan jiwa kita masih tergantung sepenuhnya pada pertumbuhan fisik kita. Otak kita sebagai sebuah hardware membutuhkan nutrisi yang cukup agar bisa bekerja dan menghasilkan beragam pemikiran. Seiring dengan pertambahan usia, tubuh terus berkembang. Ketika usia reproduksi mulai matang, maka muncul kecenderungan seksual sebagai kebutuhan untuk kelanjutan generasi mendatang. Karena kecenderungan ini samadengan hewan, maka dapat juga disebut sebagai unsur hewani manusia.
Sedangkan lawan dari tabiat adalah fitrah, yaitu kecenderungan-kecenderungan yang bersifat ruhani; unsur manusiawinya manusia. Kebutuhan jiwa akan ilmu memunculkan kecenderungan untuk mencari tahu segala hal yang baru dilihat, dicecap, didengarkan, dan dirasakan. Dan melalui daya nalar ini, kita akhirnya terdorong untuk mendekati Sang Maha Sempurna.
Dapat dikatakan bahwa pertambahan usia menghasilkan dua kecenderungan pada diri kita, yaitu kecenderungan jasmani sebagai kebutuhan tubuh dan hasrat serta kecenderungan ruhani sebagai kebutuhan jiwa dan kesadaran diri kita (spiritual). Keimanan dan pemujaan, keadilan dan kezaliman, kecerahan dan kegelapan, kebaikan dan kejahatan, kebijaksanaan dan kebodohan, dunia dan akhirat, manusia dan Tuhan, kebenaran dan kesalahan, kebohongan dan kejujuran, merupakan berbagai aspek yang berbeda tentang dikotomi fitrah dan tabiat.
Kondisi tabiat dan fitrah yang seimbang sangat jarang terjadi. Umumnya selalu terjadi pertarungan antara fitrah dan tabiat dalam diri manusia, yang keduanya selalu berusaha saling menundukkan. Bagi mereka yang masih dikuasai oleh tabiat, ibadah merupakan hal yang sulit untuk dilakukan. Sedangkan jika fitrah yang menjadi pemenang pada diri kita, maka ibadah merupakan suatu kebahagiaan dan kenikmatan. Pertarungan antara tabiat melawan fitrah pada diri kita juga meniscayakan bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki tingkatan spiritual yang bergradasi atau bertingkat-tingkat. Maka kepribadian manusia pun bertingkat-tingkat, karena merupakan cerminan dari tabiat atau fitrah.
Tabiat laksana seekor kuda tunggangan, dan fitrah adalah penunggangnya. Apabila si penunggang berhasil menunggangi kudanya dan memegang tali kekangnya, maka penunggang itu akan dengan mudahnya mengendalikan si kuda. Dengan kata lain, tabiat berhasil ditunggangi atau dikendalikan oleh fitrah. Semua kecenderungan jasmani kita disalurkan melalui kendali aturan-aturan yang benar dan baik. Tetapi jika tali kekang kuda itu terlepas dari genggaman si penunggang, maka kudalah yang akhirnya menjadi pengendali jalan. Dan tentu saja akan terjerumus ke dalam kehancuran diri. Dengan demikian, hidup ini adalah kesempatan untuk terus berjuang meraih kemenangan fitrah atas tabiat.
@pakarpemberdayaandiri












