Oleh: Syahril Syam *)
Saat Anda membaca tulisan ini dan memfokuskan pikiran, Anda mengubah aliran darah ke berbagai bagian otak Anda. Anda juga memicu serangkaian impuls, mengubah rute dan memodifikasi arus listrik ke area otak yang berbeda. Pada tingkat mikroskopis, banyak sel saraf yang beragam berkumpul secara kimiawi untuk “berpegangan tangan” dan berkomunikasi, untuk membangun hubungan jangka panjang yang lebih kuat satu sama lain.
Sebagai manusia, kita memiliki kemampuan alami untuk memfokuskan kesadaran kita pada apapun. Bagaimana dan di mana kita menempatkan perhatian kita, pada apa kita menaruh perhatian kita, dan untuk berapa lama kita menempatkannya pada akhirnya menentukan kita pada tingkat neurologis.
Saat kita memfokuskan pikiran pada suatu hal, jaringan tiga dimensi yang berkilauan dari jaringan saraf rumit yang merupakan otak kita menembakkan kombinasi dan urutan baru. Kita melakukannya atas kehendak bebas kita sendiri, dengan mengubah fokus kita.
Kita benar-benar bisa merubah pikiran untuk menjadi fokus pada sesuatu itu. Sayangnya, kebanyakan orang justru lebih banyak memfokuskan perhatiannya pada kenangan pahit di masa lalu, atau pada kekhawatiran dan kecemasan akan masa depan. Dan semuanya tampak nyata. Perhatian kita menghidupkan segalanya dan membuat nyata apa yang sebelumnya tidak disadari atau tidak nyata.
Maka jangan heran, menurut ilmu saraf, menempatkan perhatian kita pada rasa sakit di tubuh membuat rasa sakit ada, karena sirkuit di otak yang merasakan rasa sakit menjadi diaktifkan secara elektrik. Jika kita kemudian menempatkan kesadaran penuh kita pada sesuatu selain rasa sakit, sirkuit otak yang memproses rasa sakit dan sensasi tubuh dapat benar-benar dimatikan, dan akibatnya, rasa sakit itu hilang.
Tetapi ketika kita memperhatikan untuk melihat apakah rasa sakit itu hilang untuk selamanya, sirkuit-sirkuit otak yang bersangkutan sekali lagi aktif, menyebabkan kita merasakan kembali ketidaknyamanan itu. Karena kita, tanpa sadar, kembali memfokuskan pikiran akan adanya rasa sakit.
Dan jika sirkuit otak ini berulang kali menyala (karena fokus terus-menerus pada rasa sakit), hubungan di antara mereka menjadi lebih kuat. Jadi dengan memperhatikan rasa sakit setiap hari, kita menghubungkan diri kita secara neurologis untuk mengembangkan kesadaran persepsi rasa sakit yang lebih akut, karena sirkuit otak yang terkait menjadi lebih diperkaya. Itulah sebabnya, ketika terlalu memikirkan sakit yang dialami justru semakin bertambah sakit. Terlebih lagi jika terlalu banyak mengkhawatirkan suatu keluhan tertentu. Apa yang berulang kali kita pikirkan dan di mana kita memusatkan perhatian kita akan menjadi apa kita secara neurologis. Ilmu saraf akhirnya memahami bahwa kita dapat membentuk kerangka neurologis diri dengan perhatian berulang yang kita berikan pada satu hal.
Segala sesuatu yang membentuk diri kita, pikiran kita, impian kita, ingatan kita, harapan kita, perasaan kita, fantasi rahasia kita, ketakutan kita, keterampilan kita, kebiasaan kita, rasa sakit kita, dan kebahagiaan kita, semuanya terukir dalam kisi-kisi hidup dari 100 miliar sel otak kita. Kita adalah pekerjaan yang sedang berjalan. Organisasi sel-sel otak yang membentuk diri kita terus berubah. Sehingga daripada terlalu sering memfokuskan perhatian pada rasa sakit dan derita, maka sudah saatnya kita belajar mengarahkan fokus kita pada kesembuhan fisik dan batin kita.
@pakarpemberdayaandiri






