Oleh: Syahril Syam *)
Karena setiap perasaan hadir dari apa yang kita pikirkan, maka ketidakbahagiaan pun bermula dari pikiran kita sendiri. Apapun yang kita pikirkan sebenarnya berawal dari apa yang kita persepsikan dari kehidupan ini. Setiap data yang masuk melalui indra bukanlah data yang pada akhirnya menjadi persepsi kita, melainkan data tersebut akan dipersepsikan sesuai dengan keyakinan yang kita pegang. Artinya data yang masuk melalui indra hanyalah berupa data pendukung atas apa yang nanti kita persepsikan.
Dari hal ini bisa disimpulkan bahwa ada begitu banyak orang yang pada akhirnya mendistorsi kenyataan sebagaimana kenyataan. Kenyataan yang dikonsepsi melalui indra tidak lagi sebagaimana adanya, melainkan sebagaimana yang diperspesikan berdasarkan keyakinan yang dipegang oleh setiap individu. Walaupun ada juga sebagian orang yang berupaya memverifikasi kebenaran persepsinya dengan menjadikan kenyataan sebagai indikator.
Nah, ketika kehidupan ini dipersepsikan hanya sebagai kepentingan pribadi, maka inilah awal mula terjadinya ketidakbahagiaan. Pikiran dan perasaan tidak diupayakan agar sesuai realitas hidup, melainkan memaksa agar realitas kehidupan disesuaikan dengan persepsi pribadi. Kesenjangan inilah yang menghadirkan penderitaan dan ketidakbahagiaan. Dengan kata lain, konsepsi-konsepsi diri sendiri-lah yang menghadirkan perasaan tidak bahagia itu.
Dalam NLP dikatakan bahwa motivasi manusia bergerak terbagi atas Moving Towards Value (Mendekati Tujuan) dan Moving Away Value (Menjauhi Masalah). Menginginkan sesuatu atau menjauhi yang tidak diinginkan. Berharap akan sesuatu dan takut akan sesuatu. Tentu saja di satu sisi hal ini tidak keliru, namun semata-mata menggantungkan perasaan bahagia atau tidak pada harapan dan ketakutan justru akan lebih sering melahirkan ketidakbahagiaan. Artinya jika hidup ini semata-mata dipersepsikan demi mengejar yang diharapkan dan demi menjauhi ketakutan-ketakutan, maka hidup akan menjadi penuh kegelisahan dan ketidakbahagiaan.
Bahkan Tuhan pun akan dicap sebagai tidak adil jika perspesi kehidupan hanya seperti demikian. Karena ketika harapan yang diharapkan dalam doa terkabul akan menjadi senang, dan ketika tidak terkabul akan menjadi sedih dan marah. Begitu juga dengan ketika berkaitan dengan ketakutan-ketakutan yang diharapkan bisa dihindari. Kewajiban atas aturan hanya semata-mata dijalankan karena ada yang diharapkan atau ada yang dihindari. Kehidupan seperti inilah yang justru membuat diri terombang-ambing ke dalam lautan perasaan yang tak menentu.
Oleh sebab itu, manusia yang bahagia secara hakiki adalah manusia yang benar-benar menjalankan perintah-Nya karena semata-mata itu adalah perintah-Nya, bukan karena termotivasi oleh ketakutan atau adanya keinginan. Keinginan dirinya telah samapersis dengan keinginan Sang Maha Sempurna.
Kehidupan dijalani bukan lagi atas dasar keinginan ego, melainkan atas dasar keinginan-Nya semata. Jiwanya telah benar-benar merdeka dari segala harapan dan ketakutan ego, merdeka dari segala keinginan ego. Keinginannya adalah ketidakinginan, karena keinginan dirinya benar-benar sepenuhnya mengikuti keinginan-Nya. Inilah jiwa (diri) yang tidak lagi terombang-ambing oleh badai kehidupan, melainkan tetap tenang di segala medan kehidupan.
@pakarpemberdayaandiri






