Spirit  

Saat CEO Otak Nganggur

Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam*)

Apa yang terjadi saat prefrontal korteks (otak di belakang dahi yang merupakan CEO otak) kita lagi nganggur? Dengan kata lain, apa yang terjadi kalau tidak secara sadar memikirkan sesuatu hal yang baik? Yang seringkali terjadi adalah muncul pertanyaan-pertanyaan yang berorientasi pada kelangsungan hidup. Mulai dari: Kapan saya akan makan? Seberapa cepat saya bisa tidur? Mengapa bibir saya sangat kering? Mengapa hidung saya berjerawat lagi? Kapan terakhir kali saya meminum vitamin? Seperti apa penampilan saya dan apakah saya diterima oleh orang ini?

Ternyata ada begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang pada dasarnya bersifat sepele, hanya berorientasi kenikmatan jasmaniah, dan cenderung membuat seseorang berkhayal. Pikirannya terbang kesana kemari dan terbang otomatis di luar kendali diri. Dan untuk menjawab pertanyaan semacam ini, serta mengajukannya, hanya membutuhkan sedikit usaha dari CEO otak. Selebihnya, CEO otak lebih banyak nganggur dan tidak bekerja dalam memanfaatkan potensi terbaiknya. Saat CEO otak nganggur, maka pada dasarnya orangnya juga cenderung tidak melakukan apa-apa, hingga akhirnya kepalanya dipenuhi oleh berbagai kebisingan lintasan-lintasan pikiran, yang akhirnya menghadirkan stres.

Karena diri (jiwa) kita senantiasa mengalami perubahan dan perubahan yang terbaik adalah perubahan ke arah kesempurnaan jiwa itu sendiri, maka pertanyaan tingkat tinggi yang bisa membuat CEO otak bekerja maksimal adalah pertanyaan yang berkaitan dengan masa depan atau pemberdayaan potensi diri kita. Bagaimana saya bisa menjadi lebih baik? Bagaimana saya bisa mengubah perilaku saya? Bagaimana saya bisa menemukan kembali diri saya sendiri? Seperti apa hidup saya jika saya konsisten mengubah diri ke arah kesempurnaan jiwa? Apa yang harus saya ubah tentang diri saya untuk mencapai hasil khusus ini? Bagaimana saya bisa berbeda dari saya yang sekarang? Apa ideal tertinggi dari diri saya yang dapat saya bayangkan? Apa yang sebenarnya saya inginkan?

CEO otak bekerja maksimal demi menjawab tentang bagaimana perjalanan ke arah kesempurnaan diri kita. Lebih berorientasi ruhani dibandingkan hanya sekadar kesenangan jasmaniah. CEO otak adalah tempat imajinasi dan kemampuan kita untuk menciptakan “keadaan menjadi/transformasi diri”. Hal ini memungkinkan kita untuk mengambil apa yang telah kita alami dan ketahui, dan menggunakan semua sirkuit memori lama sebagai blok bangunan untuk berspekulasi tentang hasil baru.

Saat kita memberdayakan CEO otak, kita sebenarnya memberdayakan diri kita. Dimana CEO otak dapat bertindak seperti penjaga mental dan dapat mengosongkan ruangan mental untuk kita dari berbagai kebisingan mental, sehingga kita dapat lebih fokus pada tipe “bagaimana jika”, terbuka, dan spekulatif. Juga mampu membungkam kritikus batin yang bermaksud mengingatkan kita akan kegagalan kita di masa lalu, agar kita bisa fokus pada kertas kosong yang kita butuhkan untuk menghasilkan tingkat pikiran yang baru.Dan jika kita dapat mengulangi proses memblokir yang lama dan berfokus pada yang baru, dan melakukannya berulang kali, kita akan menjadi sangat mahir dalam hal itu sehingga kita akan mampu menghasilkan tingkat pikiran baru itu kapan pun kita mau.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *